Pedagang Sewa Kios Rp 1,5 Juta -Rp 7 Juta

3041
MAHAL TAPI AMAN: Pedagang Johar membenahi kios yang di sewa di eks Matahari Johar. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
MAHAL TAPI AMAN: Pedagang Johar membenahi kios yang di sewa di eks Matahari Johar. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
MAHAL TAPI AMAN: Pedagang Johar membenahi kios yang di sewa di eks Matahari Johar. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

KAUMAN – Pasca kebakaran, para pedagang Pasar Johar benar-benar panik. Mereka bingung akan berjualan di mana. Meski Pemkot Semarang sudah menyediakan lahan pasar darurat sementara sebelum pindah ke lahan Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), rupanya sejumlah pedagang masih ragu. Tak heran, ratusan pedagang pun memilih menyewa lapak dan kios di Johar Trade Center (JTC) atau eks Matahari Johar. Konsekuensianya, mereka rela mengeluarkan biaya sewa yang tidak murah. Harga sewanya sekitar Rp 1,5 juta-Rp 7 juta per bulan.

Salah satu pedagang yang menyewa kios di bekas Matahari, Titik, mengaku, jika dirinya nekat menyewa tempat berukuran 3 x 4 meter persegi seharga Rp 1,5 juta untuk mengantisipasi semakin dekatnya bulan puasa dan Lebaran.

Menurut dia, dengan menyewa, keamanan barang dagangan bisa lebih terjamin. Selain itu, tempatnya juga nyaman baik bagi pedagang sendiri maupun pengunjung. ”Apalagi lapak yang sudah diundi di Jalan Agus Salim, pembangunannya juga belum jadi. Apalagi sebentar lagi puasa dan Lebaran, jadi harus dipersiapkan sebaik mungkin,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang, kemarin.

Ia dan pedagang lainnya yang menyewa kios di bekas Matahari Johar pun mulai mempersiapkan stok dagangan untuk puasa dan Lebaran. ”Kami tidak khawatir lagi menyetok barang dalam jumlah banyak di sini,” ujarnya.

Pedagang lain, Parman, yang menjual pakaian jadi mengungkapkan hal yang sama. Ia mengaku rela mengeluarkan uang sewa kios hingga Rp 3 juta per bulan. ”Di sini tempatnya lebih nyaman dan teduh, saya juga siapkan beberapa tulisan yang memberitahukan toko saya pindah ke sini (eks Matahari, Red),” katanya.

Ia mengaku, meski lapak yang disediakan pemkot di Jalan KH Agus Salim sudah selesai dibangun, ia akan tetap menyewa di tempat tersebut sembari berjualan di tempat relokasi. ”Jadi nanti buka dua tempat. Di bekas Matahari ini, dan di lapak Jalan Agus Salim. Saya sendiri terus berkomunikasi dengan pelanggan. Saya nggak khawatir mereka akan lari,” tuturnya.

Pantauan Jawa Pos Radar Semarang di Jalan KH Agus Salim kemarin terlihat sejmlah pedagang mulai menggelar barang dagangannya di kios sementara yang dibangun. Juga di gedung parkir Johar, para pedagang sudah terlihat mulai beraktivitas. Namun ada pula pedagang yang masih membangun kios darurat.

Shinta, pedagang baju di lapak relokasi Jalan KH Agus Salim, mengatakan, kios sementara sudah bisa ditempati sejak Minggu (17/5). Ia mengaku, sudah mulai berjualan lantaran terimpit kebutuhan ekonomi yang harus dipenuhi. Semua kios sementara diperkirakan selesai dibangun sekitar dua minggu ke depan. ”Katanya sih dua minggu lagi jadi, kalau yang sudah jadi sudah boleh ditempati,” katanya.

Meski sudah mulai berjualan, ia mengaku belum ditarik retribusi oleh petugas Dinas Pasar. Namun kalaupun ditarik retribusi, Shinta tidak keberatan, apalagi dirinya sudah sangat bersyukur bisa kembali berjualan tak jauh dari Pasar Johar.

”Hingga hari ini (Kemarin, Red) belum ada pungutan, kalaupun ada nggak memberatkan, karena hanya Rp 2.500 per harinya,” ujarnya.
Dini Suci, pedagang lain mengatakan, jika tempat relokasi sudah sangat layak. Apalagi mayoritas pedagang meminta tempat relokasi tidak jauh dari Pasar Johar. Terkait sarana kamar kecil, musala, dan kamar mandi walaupun agak jauh, dinilai sudah cukup bagi dirinya.

”Kalau kamar kecil, dan musala para pedagang memakai di eks Matahari, lagi pula jaraknya cukup dekat,” tuturnya.

Hal yang sama diungkapkan Haryati, pedagang yang menempati relokasi di lantai II gedung parkir Johar. Para pedagang yang sudah mulai berjualan juga belum ditarik restribusi. Sedangkan terkait sarana dan prasarana yang ada, menurutnya, sudah cukup memenuhi kebutuhan pedagang. ”Kalau penarikan retribusi belum ada, masalah sarana sudah cukup bagi kami,” akunya.

Kemarin, di sepanjang Jalan KH Agus Salim masih terlihat pedagang yang berjualan menggunakan mobil dan motor roda tiga. Meski menambah sempit akses jalan, aktivitas para pedagang ini terkesan dibiarkan oleh petugas ataupun dinas terkait.

Tercatat sedikitnya belasan mobil yang menggelar dagangannya berderet hingga depan Miramar Internasional Restoran. Para pedagang berdalih jika lapak relokasi untuk tempat mereka berjualan sementara belum selesai dibangun.

”Belum ada tempat untuk kami berjualan, padahal kebutuhan harus tetap dipenuhi. Jadi, sementara jualan pakai mobil,” kata Sri Sugiyanti, yang dulu memiliki kios di lantai II Pasar Johar.

Senada, Endang, pedagang elektronik pun mengaku nekat berjualan menggunakan mobil, walaupun harus membayar parkir sedikitnya Rp 10 ribu per hari. Hal ini terpaksa dilakukan lantaran tempat relokasi di gedung parkir belum seluruhnya jadi.

”Masih banyak lapak yang belum jadi, ya gimana lagi. Saya memilih berjualan di pinggir jalan dulu untuk sementara,” ujarnya.

Para pedagang korban kebakaran berharap agar pemerintah bisa secepatnya merealisasikan pembangunan Pasar Johar. Tujuannya, agar mereka bisa kembali berdagang secara normal dan tenang. Selain itu, pemerintah diharapkan bisa memberikan bantuan modal kepada para pedagang. Sebab, hampir semua pedagang sudah kehabisan modal dan menanggung utang yang tidak kecil.

Kasi Parkir Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Kota Semarang, Danang Prasetya, saat ditanya tentang banyaknya pedagang yang berjualan dengan mobil, ia mengatakan jika penarikan parkir masih sesuai dengan tarif yang diberlakukan. Menurutnya, para pedagang yang berjualan menggunakan mobil itu ditarik parkir sebagai PKL. ”Kalau ditarik Rp 15 ribu itu mungkin untuk PKL,” tegasnya.

Pihaknya mengakui, para pedagang bermobil itu mangkal di tempat yang dilarang untuk berjualan. Bahkan lajur tersebut sekarang ini telah dipakai untuk lalu lintas satu lajur, karena lajur sebelahnya telah dipakai untuk lapak penampungan pedagang Pasar Johar.

”Sebenarnya itu tempat larangan untuk jualan. Tapi kita tidak memiliki kewenangan untuk melakukan penindakan. Kalau yang lebih berwenang menindak mobilnya itu kan kepolisian. Sedangkan untuk penindakan PKL-nya itu kan ranahnya satpol PP,” katanya.

Namun demikian, pihaknya akan melakukan pengecekan di lapangan dan berencana akan berkoordinasi dengan Satpol PP Kota Semarang untuk melakukan sosialisasi terkait adanya pedagang yang berjualan di tempat tersebut. (den/aro/ce1)