Rekomendasikan Cabut Pembekuan

440
CARI PENCERAHAN: Suasana Diskusi Olahraga dengan tema Quo Vadis Sepak Bola Indonesia, Implikasi Konflik Menpora vs PSSI terhadap sepak bola di Jawa Tengah yang digelar Seksi Wartawan Olahraga (SIWO) di Gedung Pers Jateng, Mugas, Semarang, Senin (18/5) kemarin. (BASKORO S/RADAR SEMARANG)
CARI PENCERAHAN: Suasana Diskusi Olahraga dengan tema Quo Vadis Sepak Bola Indonesia, Implikasi Konflik Menpora vs PSSI terhadap sepak bola di Jawa Tengah yang digelar Seksi Wartawan Olahraga (SIWO) di Gedung Pers Jateng, Mugas, Semarang, Senin (18/5) kemarin. (BASKORO S/RADAR SEMARANG)
CARI PENCERAHAN: Suasana Diskusi Olahraga dengan tema Quo Vadis Sepak Bola Indonesia, Implikasi Konflik Menpora vs PSSI terhadap sepak bola di Jawa Tengah yang digelar Seksi Wartawan Olahraga (SIWO) di Gedung Pers Jateng, Mugas, Semarang, Senin (18/5) kemarin. (BASKORO S/RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Tak hanya di pusat, konflik antara Menpora Imam Nahrawi dan PSSI yang berujung pada pembekuan induk organisasi sepak bola di Indonesia tersebut ternyata cukup meresahkan insan sepak bola yang ada di daera, termasuk di Jateng. Buntut konflik tersebut memang membuat sepak bola Jateng mati suri.

Keresahan tersebut yang setidaknya tertuang dalam diskusi olahraga bertema Quo Vadis Sepak Bola Indonesia, Implikasi Konflik Menpora vs PSSI terhadap sepak bola di Jawa Tengah yang digelar oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jateng melalui Seksi Wartawan Olahraga (SIWO) di Gedung Pers Jateng, Mugas, Semarang, Senin (18/5) kemarin.

Diskusi menghadirkan narasumber yakni Ketua Asprov PSSI Jateng Johar Lin Eng, CEO PT Mahesa Jenar Semarang, sekaligus Ketua Komisi E DPRD Jateng, AS Sukawijaya, kemudian komite eksekutif PSSI, Djamal Aziz, serta pengamat olahraga yang juga Ketua PWI Jateng, Amir Machmud NS. Hadir pula Ketua KONI Jateng Hartono.

Djamal Aziz dalam kesempatan kemarin mengatakan, mati surinya sepak bola di Indonesia cukup berdampak pada beberapa aspek terutama aspek ekonomi dari seluruh masyarakat yang terlibat di dalamnya. “Bahkan di Papua itu sepak bola sudah seperti Agama bagi mereka. Nah bayangkan saja kalau nanti akhirnya FIFA memberikan sanksi yang akhirnya mengucilkan Indonesia dari berbagai ajang sepak bola Internasional, padahal Persipura dan Persib saat ini sedang berlaga di Liga Champion Asia,” katanya.

Terkait konflik, pada prinsipnya Djamal mengatakan saat ini PSSI cukup membuka diri untuk adanya rekonsiliasi dengan pihak Kemenpora,”Silahkan saja kalau pada akhirnya tim transisi bentukan Menpora mau menjadi supervisi atau mengawasi kinerja PSSI. Tapi mereka juga harus mau memberikan kontribusi termasuk dukungan financial untuk pembinaan dan prestasi. Jangan hanya mau mengawasi tapi tidak ada sumbangsih apa-apa,” sambungnya.

Atas dasar itu, melalui diskusi kemarin beberapa kesimpulan didapatkan, yang nantinya akan digunakan PWI Jateng sebagai rekomendasi yang akan di sampaikan kepada kedua kubu dnegan harapan bisa berperan untuk meredam konflik yang terjadi saat ini. ”Tidak ada cara lain untuk menyelamatkan sepak bola, selain mencabut SK pembekuan PSSI. Di sisi lain, PSSI juga harus berani menjamin adanya introspeksi dan perbaikan secara total. Asprov PSSI Jateng dapat menjebatani konflik PSSI dengan Kemenpora sebelum 29 Mei,” ujar Amir Machmud NS.

Yang menarik, dalam diskusi kemarin, Ketua Umum KONI Jateng, Hartono menegaskan, pusaran konflik di pusat saat ini sama sekali tidak mengganggu pembinaan olahraga yang dilakukan Asprov PSSI Jateng dan KONI Jateng. “Di berbagai multievent tingkat nasional sepak bola menjadi cabor unggulan. Oleh karena itu KONI akan terus mendukung program-program pembinaan Asprov Jateng yang nantinya tentu diharapkan bisa bermuara pada prestasi sepak bola Jateng pada berbagai multievnet nasional,” tandas Hartono.

Ada beberapa poin penting yang dihasilkan dalam diskusi tersebut yang selanjutnya akan dituangkan dalam sebuah rekomendasi. Salah satunya, meminta agar Menpora bersedia mencabut surat pembekuan (sanksi administrasi) PSSI sebelum 29 Mei. FIFA memberikan batas waktu hingga 29 Mei 2015 bagi PSSI dan Kemenpora untuk segera menemukan solusi. Bila tidak selesai, Indonesia dikucilkan dari sepak bola internasional. Indonesia terancam di-banned dan tidak bisa ikut SEA Games, Pra Piala Dunia, Piala AFF dan AFC. Namun, rekomendasi lain, PSSI harus bersedia memperbaiki dan introspeksi, sesuai keinginan pemerintah. “Dari hasil diskusi ini, kita akan membuat rekomendasi. Selanjutnya akan kita sampaikan ke pihak yang berwenang mulai kepolisian kalau perlu sampai Presiden Jokowi,” tandas Ketua SIWO PWI Jateng Sigit Pramono. (bas/smu)