Penderita Sakit Jiwa Butuh Penanganan Maksimal

Must Read

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu...

BEBAS PASUNG- Dinas Kesehatan menggelar sosialisasi penanganan orang dengan gangguan kejiawaan di Kabupaten Semarang. Tujuannya untuk lebih memaksimalkan penanganan penderita sehingga tidak ada lagi penderita gangguan kejiwaan yang terlantar bahkan sampai di pasung. (FOTO: PRISTYONO/RADAR SEMARANG)
BEBAS PASUNG- Dinas Kesehatan menggelar sosialisasi penanganan orang dengan gangguan kejiawaan di Kabupaten Semarang. Tujuannya untuk lebih memaksimalkan penanganan penderita sehingga tidak ada lagi penderita gangguan kejiwaan yang terlantar bahkan sampai di pasung. (FOTO: PRISTYONO/RADAR SEMARANG)

UNGARAN- Sebanyak 589 orang di Kabupaten Semarang di tahun 2014 menderita gangguan kejiwaan atau disebut Psikotik. Sebanyak 111 orang diantaranya penderita adalah anak-anak. Melihat kondisi tersebut perlu memaksimalkan penanganan terhadap penderita Psikotik. Untuk itu perlu ada sinergi antar semua instansi terkait, sehingga penanganan penderita psikotik dapat tertangani secara maksimal.

Menurut Muhtarudin dari Kabid Pengelolaan Masalah Kesejahteraan Sosial Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Kabupaten Semarang, jumlah penderita gangguan kejiwaan di Kabupaten Semarang cukup banyak. Bahkan di tahun 2014 saja tercatat ada 589 orang, 111 orang diantaranya adalah anak-anak. Paling banyak persebaran penderita Psikotik itu di Desa Rembes, Kecamatan Bringin dengan jumlah penderita sebanyak 17 orang. Penyebab gangguan jiwa ini disebabkan faktor keturunan, tekanan hidup secara beruntun dan berat, problem ekonomi dan keluarga. Selain itu juga disebabkan kelemahan hormon pada otak dan akibat pengaruh narkoba.

“Penanganan penderita psikotik selama ini dilakukan kerjasama antara Dinas Kesehatan melalui Puskesmas dan Rumah Sakit Umum (RSU), serta Dinsosnakertrans. Awal penanganannya, penderita dirawat di Rumah Sakit Jiwa atau rawat jalan intensif. Selanjutnya pembinaan dalam panti rehabilitasi di Balai Rehabilitasi Sosial Margo Widodo di Ungaran,” kata Muhtarudin, Selasa (19/5) pagi.

Di panti rehabilitasi akan diberi pembinaan dan keterampilan membuka usaha. Setelah dinyatakan sudah normal baru dikembalikan kepada keluarganya. Namun banyak juga yang akhirnya tidak diambil oleh keluarganya, sehingga masih tinggal dipanti rehabilitasi.
“Tidak sedikit penderita yang tidak diambil keluarganya dari panti,” imbuhnya.

Kabid Pelayanan Kesehatan, dr. Ngakan menambahkan, sebelumnya di tahun 2012 di Kabupaten Semarang ini ada 12 orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) yang terpasung. Namun Dinas Kesehatan sudah berupaya agar tidak ada pemasungan sehingga saat ini sudah tidak ada pemasungan lagi. Harapan kedepan masyarakat semakin sadar untuk melakukan langkah pengobatan pada penderita.

“Kabupaten Semarang harus bebas dari pemasungan penderita gangguan jiwa. Sehingga sosialisasi penanganan ODGJ ini sangat penting,” katanya.

Sementara itu Kabag Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Setda Kabupaten Semarang, Heru Purwantoro, mengatakan keluarga penderita psikotik semestinya memberikan pengobatan di Puskesmas. Apalagi saat ini seluruh biaya pengobatannya sudah ditanggung pemerintah. Proses pengajuan jaminan kehatan dapat minta rekomendasi Dinsosnakertrans. Untuk penderita psikotik yang dirujuk atau diobati di Rumah Sakit Jiwa akan dijamin oleh Jaminan Kesehatan Kesehatan Daerah (Jamkesda).

“Tidak ada alasan untuk tidak mengobatkan karena tidak ada biaya. Sebab saat ini seluruh penderita gangguan jiwa bisa dirujuk ke rumah sakit atau panti rehabilitasi dan dijamin oleh pemerintah. Penderita psikotik yang harus direhabilitasi akan ditanggung oleh Jamkesmas. Jika penderita tidak memiliki KTP akan dibantu oleh Dispendukcapil pembuatan KTP-nya,” kata Heru.

Tim Pengarah Penanganan Kesehatan Jiwa Dinas Kesehatan Jawa Tengah, Abdul Wahid menambahkan, penanganan bagi para penderita psikotik harus dilakukan bersama-sama dengan seluruh dinas terkait. Tidak hanya Dinas Kesehatan dan Dinsosnakertrans saja tetapi Dinas lainnya juga harus dilibatkan. Apalagi Kabupaten Semarang sejauh ini belum memiliki Rumah Sakit jiwa.

“Seperti Kementerian Agama, Satpol PP serta Dispendukcapil juga harus dilibatkan. Misalnya Kemenag itu mengelola zakat jadi bisa digunakan untuk membantu penanganan para penderita psikotik. Sehingga nantinya penderita dapat tertangani dengan baik dan tuntas,” tambahnya. (tyo/zal)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

- Advertisement -

Latest News

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat cerai. Hal itu disampaikan oleh...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu anak kiai, satu lagi anak...

Neo Mustaqbal

Sejarah dunia akan dibuat oleh Arab Saudi. Sejarah pertama: Aramco akan go public --dengan nilai yang belum ada duanya di dunia: Rp 28.000.000.000.000.000. Kedua: hasil IPO itu akan...

Rumah Kita

Kaget-kaget senang: Indonesia resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20. Tahun 2021. Sepak bola Indonesia diakui dunia. Prestasi Presiden Joko ”Jokowi” Widodo kelihatan nyata...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -