Dua Minggu, Berlatih Jadi Biksu Sementara

1168
KHUSYUK: Sebanyak 14 pemuda dari berbagai kota mengikuti pelatihan menjadi biksu di Vihara Budhagaya Watugong. (ADENNYAR WYCAKSONO/ JAWA POS RADAR SEMARANG)
KHUSYUK: Sebanyak 14 pemuda dari berbagai kota mengikuti pelatihan menjadi biksu di Vihara Budhagaya Watugong. (ADENNYAR WYCAKSONO/ JAWA POS RADAR SEMARANG)

PUDAKPAYUNG – Dua minggu jelang Hari Raya Waisak 2559, aktivitas Vihara Budhagaya, Watugong, Semarang mulai bergeliat. Bukan umat yang hendak merayakan kelahiran Pangeran Siddhartha Gautama tersebut, namun sebanyak 14 pemuda dari berbagai kota di Indonesia yang tengah mengikuti pelatihan menjadi biksu sementara atau Pabbajja Samanera.

Sebelum ritual petahbisan dimulai, para pemuda tersebut melepas baju yang setiap hari dikenakan untuk digantikan baju jubah berwarna putih layaknya biksu. Setelah itu, mereka dituntun untuk mengelilingi Pohon Bodi sebanyak tiga kali, dilanjutkan dengan berjalan menuju ruang Damasala untuk belajar menjadi biksu.

Ketua Yayasan Budhagaya Watugong, Halim Wijaya, mengatakan, kegiatan Pabbajja Samanera atau menjadi biksu sementara sudah berlangsung sejak beberapa tahun lalu.

”Tujuannya bisa mendapatkan pemahaman dan apa yang harus dilakukan di agama Buddha. Kegiatan ini sendiri akan berlangsung selama 2 minggu hingga 3 Juni atau sehari setelah Hari Waisak,” katanya.

Ditambahkan, pada ritual petahbisan dipimpin oleh Kepala Sangha Theravada Indonesia Bhante Sri Pannavaro. Petahbisan serta dilakukan ruang Damasala di mana terdapat patung dari Sang Buddha. ”Kegiatan itu sendiri dilangsungkan di ruang Damasala,” tambahnya.

Kepala Sangha Theravada Jawa Tengah, Bhante Padesayanaka Cattamano, menambahkan, jika kegiatan Pabbajja Samanera merupakan latihan untuk mendapatkan pemahaman dan pengertian yang lebih baik di dalam mempelajari dan menghayati ajaran agama Buddha.

”Ini sebagai bekal untuk masa depan dalam menjalani kehidupan yang lebih luhur,” katanya.
Selain itu, kata dia, sebelum mengikuti Pabbaja Samanera, peserta harus mendapat persetujuan keluarga atau wali dan berbadan sehat. Pasalnya, kehidupan yang dijalani selama dua minggu seperti biksu pada umumnya mulai dari puasa serta meninggalkan semua yang bersifat keduniawian. ”Ada beberapa tahapan menjadi biksu, ini salah satunya,” ujarnya. (hid/den/aro/ce1)