Kenaikan TDL Naik, Industri Tekstil Paling Dirugikan

326

SEMARANG – Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jawa Tengah berharap kenaikan tarif dasar listrik (TDL) disesuaikan dengan kondisi ekonomi yang sedang terjadi saat ini. Jika TDL dinaikkan di tengah kondisi ekonomi yang tumbuh baik, maka tidak akan menimbulkan masalah, tetapi akan menjadi masalah jika TDL naik di tengah kondisi ekonomi yang tidak menentu seperti saat ini.

“Memang kenaikan TDL itu merupakan program dari Pemerintah, tetapi penyesuaian tersebut seharusnya dilihat juga dari sisi pertumbuhan ekonomi,” kata Wakil Ketua Apindo Jateng Deddy Mulyadi Ali di Semarang, kemarin. Menurut Deddy, kalau ini tetap dilaksanakan maka daya saing Indonesia akan menurun. ‚ÄúPadahal di sisi lain kita juga akan menyambut pelaksanaan masyarakat ekonomi ASEAN (MEA), kalau daya saing menurun kita akan kalah dari negara lain,” katanya.

Sementara itu, dari sisi tingkat konsumsi listrik, industri tekstil merupakan sektor industri dengan kebutuhan listrik paling tinggi dibandingkan industri lain. Selanjutnya adalah sektor makanan olahan, sedangkan untuk garmen dan sektor lain tidak terlalu besar. “Apalagi jika perusahaan tersebut sudah padat modal, maka akan sangat terbebani dengan kenaikan TDL ini karena industri padat modal banyak menggunakan alat berat dengan kebutuhan listrik yang sangat besar,” katanya.

Menurutnya, industri padat modal tidak seperti industri padat karya yang hanya menggunakan mesin kecil untuk beroperasi dan masih lebih banyak menggunakan ketrampilan tangan para karyawan.

Sementara itu, selain menurunnya daya saing, pihaknya khawatir kenaikan TDL juga berdampak pada ketidakmampuan industri untuk melakukan operasional. “Bisa jadi produksi akan menurun karena jam kerja dikurangi terutama untuk industri yang padat modal. Padahal, saat ini banyak industri yang mengarah ke padat modal,” katanya. (smu)