Pedagang Johar Keluhkan Sepi Pembeli

1323
SEMRAWUT: Belum tersedianya lahan parkir di pasar darurat Johar, menyebabkan arus lalu lintas Jalan Agus Salim tersendat. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
SEMRAWUT: Belum tersedianya lahan parkir di pasar darurat Johar, menyebabkan arus lalu lintas Jalan Agus Salim tersendat. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

KAUMAN – Ribuan pedagang Pasar Johar memang sudah berjualan di lapak darurat. Namun mereka masih mengeluh sepi pengunjung. Praktis, omzet penjualan yang didapat pun masih jauh dari yang diharapkan. Hal ini dirasakan ratusan pedagang yang membuka lapak di Gedung Parkir Pasar Johar lantai 1-3. Meski lahan parkir itu sudah dipadati pedagang, namun jumlah pengunjung masih minim.

Pedagang sepatu, Kaero Hafid Sport, mengakui, selama seminggu berjualan di lantai 3 gedung parkir tersebut, dirinya hanya mampu menjual 3 pasang sepatu setiap harinya, dengan omzet Rp 170 ribu-Rp 500 ribu.

”Saya buka mulai pukul 09.30-17.00, tapi pembelinya bisa dihitung dengan jari. Padahal sebelum terjadi kebakaran, siang seperti ini bisa menjual 15 pasang sepatu dengan pendapatan rata-rata sehari bisa sampai Rp 5 juta,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Rabu (20/5).

Menurut Hafid, sepinya pengunjung itu bisa jadi lantaran jauhnya lokasi parkir. Selain itu, juga kurangnya promosi sehingga banyak yang tidak tahu jika para pedagang PM (Pasar Maling) kini pindah ke lantai 3 gedung parkir Johar.

Selain sepi pembeli, pedagang asal Madura yang telah 30 tahun berjualan di Pasar Johar ini juga mengeluhkan saat membawa barang dagangan ke lantai 3. Ia harus merogoh kocek Rp 20 ribu setiap harinya untuk membayar kuli angkut barang.

”Setiap hari ada 4 karung dagangan yang saya bawa ke sini. Setiap karung saya bayar Rp 5 ribu. Tapi kalau pulang, mobil saya naikkan ke sini karena pedagang sudah sepi,” ujarnya.

Keluhan senada diungkapkan pedagang rombeng, Rini Widiastuti. Ia mengakui omzet yang didapat merosot tajam. Rini juga harus merintis usaha dari nol. ”Sehari ini saya belum laku sama sekali. Padahal di tempat sebelumnya sak sepi-sepinya masih dapat Rp 50 ribu. Kalau ramai bisa sampai Rp 700 ribu sehari,” keluhnya.

Pedagang grosir dan eceran, Hera, berharap ada promosi dari pemkot soal keberadaan pedagang Johar di gedung parkir tersebut. ”Di sini lampu penerangan belum ada. Air bersih juga belum ada. Pedagang sudah pada pusing semua. Modalnya habis, barang tidak ada. Apalagi masih banyak yang menanggung utang di bank,” ucapnya.

Kabid Penataan dan Pengaturan Pedagang, Dinas Pasar Kota Semarang, Bachtiar Effendi, mengatakan akan mengupayakan sarana dan prasarana kepada para pedagang yang menempati lapak darurat di area parkir Pasar Johar. ”Memang saat ini masih melakukan penataan tempat. Kami akan mengupayakan memberikan lampu penerangan dan air bersih di tempat itu,” janjinya. (mha/aro/ce1)