Jelang Ramadan, Harus Tutup

316

KAJEN – Rencana pemerintah menutup lokalisasi yang terletak di Desa Sidomukti, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Pekalongan menuai protes dari para penghuni. Baik pemilik tempat karaoke, wanita Pemandu Lagu (PL) hingga PSK di kawasan yang dikenal dengan nama “Kebunsuwung” tersebut mengaku keberatan dengan keputusan itu.

Seorang pemilik karaoke, Anik, 32, mengatakan, dirinya merasa keberatan dengan rencana penutupan itu. Sebab, banyak penghuni yang menetap, berkeluarga serta memiliki mata pencaharian yang bergantung pada bisnis hiburan di lokasi tersebut. “Kalau bisa ya jangan (ditutup) lah. Saya pikir semuanya juga keberatan, karena mata pencahariannya di sini semua,” ungkapnya, Kamis (21/5).

Menurut Anik, penutupan itu hanya akan menimbulkan konflik. Seperti banyaknya masyarakat yang komplain. “Kalau ditutup, takut banyak yang komplain,” imbuhnya. Warga setempat, Budiono, menambahkan, di lokasi sedikitnya terdapat 32 tempat karaoke (warung) dengan jumlah PL sekitar 40 orang. “Saya bukan ketua paguyuban, hanya menyelesaikan kalau ada masalah. Rata-rata PL-nya memang dari luar kota,” jelasnya.

Terkait penutupan bisnis esek-esek di lokasi, Budiono mengatakan, dirinya bersama pihak desa akan mengadakan pertemuan dengan para penghuni lokalisasi. “Kami semua akan konsultasi, bagaimana solusinya. Karena ini menyangkut faktor ekonomi. Untuk pemilik warung memang kebanyakan ngontrak. Orang asli paling hanya 10-15 orang,” jelasnya.

Kepala Desa Sidomukti, Hasrito, menambahkan, sebelum lokasi yang terletak di RT 06 RW 02 tersebut berkembang menjadi lokalisasi, awalnya hanya berupa warung biasa. Atas bercokolnya menjadi bisnis esek-esek, beberapa kali pernah ada rencana penutupan, seperti pada tahun 1990 dan 1992 namun selalu gagal. “Kalau pembinaan sering dilakukan. Informasinya sudah ada sekitar tiga kali hendak ditutup,” ungkapnya.

Kades yang menjabat setahun lalu itu mengaku, pihaknya merasa terhimpit dengan kondisi tersebut. Selain itu pihaknya juga kesulitan mendata secara pasti warga yang menghuni lokasi. “Memang tidak ada catatan untuk warga di lokasi. Karena memang sering sekali ada yang datang dan pergi,” ujarnya.

Penutupan bisnis esek-esek tersebut diungkapkan oleh Bupati Pekalongan, Amat Antono yang menunjau langsung ke lokasi, Kamis (21/5) siang. “Kegiatannya, pekerjaan ‘esek-esek’ itu yang ditutup, bukan tempatnya. Jadi para penghuni yang rata-rata pendatang kami harap berkemas dan pulang ke daerah asal masing-masing,” kata dia di depan sebuah lokasi karaoke Kebunsuwung.

Antono memaparkan, para pelaku bisnis esek-esek yang menjamur di lokasi diharapkan bisa beralih profesi yang lebih baik. Untuk itu, pihaknya juga siap menyediakan pelatihan bagi masyarakat terkait bidang usaha lain, seperti peternakan yang masih minim di Kabupaten Pekalongan. “Saya ndak mau ‘sak det sak nyet’. Setiap orang perlu usaha, tapi yang baik, jangan melanggar norma pemerintah maupun agama. Bagi yang mau, pasti ada peluang, bagi yang keset, apapun ditabrak. Di Pekalongan ini, budidaya ikan kan jarang sekali padahal lahannya sangat tersedia,” jelasnya.

Antono menegaskan, lokasi Kebunsuwung harus bersih dari bisnis “esek-esek” akhir Mei 2015. Jika ada yang bandel pihaknya juga tidak segan melakukan tindakan tegas. Oleh karena itu, pihaknya meminta kepada pihak terkait untuk menyosialisasikan penutupan itu. “Akhir bulan ini harus ditutup. Paling tidak sebelum puasa, itu batas akhirnya. Saya akan minta back up TNI dan Polri,” pungkasnya. (hil/ric)