Mobil Limited Edition, Utamakan Kekeluargaan

531
MEJENG: Sebagian anggota Chevrolet Estate Optra (CEO) Regional Jateng-DI Jogjakarta saat berkumpul. (AJIE MH/RADAR SEMARANG)
MEJENG: Sebagian anggota Chevrolet Estate Optra (CEO) Regional Jateng-DI Jogjakarta saat berkumpul. (AJIE MH/RADAR SEMARANG)

Mobil pabrikan Eropa, Chevrolet Optra merupakan versi limited edition yang hanya beredar sekitar 700 unit di Indonesia. Produk terbatas ini melahirkan chemistry tersendiri bagi sesama pemilik mobil. Jangan heran jika mereka saling memberi kode seperti menyalakan lampu atau klakson ketika berpapasan di jalan.

AJIE MAHENDRA

CHEVROLET Estate Optra (CEO) dirintis sejak 2013 silam. Salah satu penggagasnya Ranu Berryano. Ide membentuk komunitas pemilik mobil Chevrolet Optra ini muncul ketika Ranu tengah menyervis mobilnya di bengkel Jalan Soekarno Hatta Semarang pada 2013 silam. Di sana, dia bertemu dengan beberapa pengguna Optra.

”Saat itu, kami ngobrol-ngobrol seputar Optra. Saling tukar pendapat mengenai perawatan, mencari spare part, dan lain sebagainya. Merasa ada kecocokan, akhirnya kami sepakat membuat grup di BlackBerry Messenger (BBM) untuk memudahkan komunikasi,” jelasnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Karena terjadi interaksi aktif, dan ada beberapa pengguna Optra yang ingin masuk grup tersebut, akhirnya Ranu berkeinginan membuat grup Optra di Semarang. Dia punya kenalan CEO pusat di Jakarta, langsung mengajukan diri untuk membuat cabang atau chapter di Semarang.

Waktu itu, cerita Ranu, tidak langsung disetujui. Mereka melakukan observasi dulu untuk mengetahui berapa banyak Optra yang beredar di Semarang. Dirasa cukup banyak, akhirnya disetujui. ”Bukan sebagai Chapter Semarang, tapi Regional Jateng-DI Jogjakarta. Mungkin karena dari 700 mobil yang dijual di Indonesia, 100 di antaranya dibeli orang Jateng-DI Jogjakarta, dan paling banyak di Kudus,” katanya.

CEO yang kini baru berpenghuni 20 orang ini bisa dibilang belum resmi. Sebab, seremonial kelahirannya baru dirayakan 31 Mei mendatang di Hotel Grand Candi Semarang. Meski begitu, belakangan mereka sudah aktif menggelar beberapa agenda. Seperti bakti sosial, touring, atau sekadar kumpul di bengkel Mr Zero Motor Jalan Soekarno-Hatta, tempat kali pertama mereka mencetuskan ide pembentukan komunitas. Meski begitu, Ranu mengakui belum punya agenda pertemuan rutin setiap pekan lantaran anggota berasa dari luar kota. Seperti Kudus, Magelang, Jogja, dan Purwokerto.

Jauhnya domisili ini membuat mereka harus aktif berkomunikasi. Hingga akhirnya mereka merasa seperti menjadi keluarga sendiri lantaran hampir saban jam ngobrol lewat media sosial atau grup BBM.

”Memang komunitas ini mengutamakan kekeluargaan. Mungkin karena kuatnya komunikasi, merasa punya mobil yang sama, dan tidak membedakan status sosial. Ya, di sini ada pengusaha, PNS, karyawan swasta, pokoknya macam-macam,” ucap Ranu sambil tersenyum.

Karena mengutamakan kekeluargaan, mereka sepakat untuk selalu membawa anak istri masing-masing ketika touring. Dengan begitu, anggota bisa menjalankan hobi tanpa mengurangi waktu untuk keluarganya sendiri.

”Sekarang, para istri anggota CEO sudah punya komunitas sendiri. Namanya CEO Moms. Selain menemani touring CEO, mereka juga kerap menggelar baksos,” paparnya.

Dikatakan, setiap kali kumpul, biasanya anggota CEO ngobrol mengenai kendaraan. Berbagai tip maintenance dengan sistem Do It Yourself (DIY). Dengan begitu, anggota tidak perlu bolak-balik ke bengkel. ”Kalau ada sesuatu yang kurang beres di mesin atau bagian-bagian lain mobil, bisa dikerjakan sendiri,” cetusnya.

Akhir tahun mendatang, CEO berencana menggelar touring ke Lombok. Sementara untuk jangka pendek ini, mereka ingin menghelat jalan sehat untuk masyarakat umum. ”Nantinya di sela-sela pembagian doorprize, akan ada sosialisasi mengenai safety riding,” ucapnya. (*/aro/ce1)