Sedimentasi Tinggi, Dipenuhi Sampah

406
SEDIMENTASI TINGGI: Kondisi Sungai Kali Kendal banyak banyak endapan lumpur dan sampah memenuhi sungai. (BUDI SETYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG)
SEDIMENTASI TINGGI: Kondisi Sungai Kali Kendal banyak banyak endapan lumpur dan sampah memenuhi sungai. (BUDI SETYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG)

KENDAL – Sejumlah masyarakat menilai Pemkab Kendal hingga kini belum merealisasikan proyek-proyek normalisasi sungai di Kendal. Padahal, sejumlah sungai butuh pengerukan secepatnya mengingat sedimentasi sudah tinggi. Imbasnya, sungai rusak parah dan menyebabkan banjir di permukiman warga.

Salah satunya di Kali Kendal yang berada di tepat di pusat kota Kendal. Meski wilayah Kendal kerap dilanda banjir saat musim penghujan, tapi respo pemerintah untuk menanggulangi banjir dengan melakukan normalisasi sungai dan saluran drainase belum juga dilakukan.

Pantauan Radar Semarang, endapan sedimentasi Kali Kendal masih tinggi. Sungai Kendal sedianya lebar lima meter dan kedalaman tiga meter. Tapi kini lebarnya hanya 2,5-3 meter dan kedalaman 1-1,5 meter. Sisanya lebar dan kedalaman dipenuhi oleh sedimentasi berupa endapan lumpur dan tumbuh-tumbuhan. “Katanya awal tahun mau dilakukan pengerukan sedimentasi, tapi hingga memasuki akhir Mei juga dikerjakan. Jika tidak segera dilakukan normalisasi, maka dipastikan Kelurahan Kebondalem, Pegulon, Ngilir, Balok sampai Bandengan akan selalu terpa banjir,” keluh Miftah, 50, warga Ngilir, Jumat (22/5).

Ia menambahkan, setiap tahun memang empat kelurahan tersebut terutama pemukinan yang berada ditepi sungai selalu diterjang banjir setiap musim penghujan tiba. “Empat kelurahan memang sudah langganan banjir setiap tahunnya,” imbuhnya.

Tingginya sedimentasi dan dipenuhi rumput liar dan sampah nampak disungai Kali Buntu yang memanang di Kelurahan Langenharjo, Bugangin dan Purin, Kecamatan Kendal Kota. Tiga kelurahan tersebut setiap musim penghujan selalu mengalami banjir akibat debit air sungai kalibuntu yang meluap.

Suyudi, 40 warga Langenharjo mengatakan sungai tersebut memang sudah lama tidak dilakukan normalisasi berupa pengerukan sedimentasi. “Dilakukan normalisasi, tapi belum menyeluruh. Hanya sebagian saja, jadi ya percuma. Semestinya dilakukan pengerukan semua, tidak lagi ada luapan air masuk ke pemukiman warga,” katanya.

Hal senada dikatakan Emi Kustiawati, 40 warga Langenharjo lainnya. Ia menambahkan upaya warga menanggulangi banjir setiap musim penghujan adalah dengan cara meninggikan bangunan rumah. “Jika wilayah perkotaan saja luput dari perbaikan, bagaimana dengan wilayah pinggiran. Pasti tidak pernah terjamah pembangunan,” tandasnya.

Seperti diketahui, setiap tahun di wilayah Kecamatan Kendal Kota ada sembilan kelurahan yang selalu menjadi langganan banjir. Yakni Kelurahan Trompo, Kebondalem, Kalibuntu, Langenharjo, Pegulon, Ngilir, Patukangan, Balok, dan Bandengan. Banjir parah juga menggenangi wilayah Alun-alun dan komplek Kantor Bupati. (bud/fth)