Oknum Dewan Diduga Todongkan Pistol

335

BARUSARI – Ketua Komisi C Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jateng Asfirla Harisanto atau akrab disapa Bogi, dilaporkan ke Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polrestabes Semarang. Dia dituduh menodongkan pistol kepada seorang pekerja proyek pembangunan perumahan mewah di kawasan Manyaran, Semarang Barat. Kasus ini masih diselidiki aparat Reserse Kriminal (Reskrim) Polrestabes Semarang. Hal itu untuk mengetahui secara pasti, apakah wakil rakyat dari Dapil 8 (Banyumas dan Cilacap) tersebut benar menodongkan pistol atau tidak.

”Kami menerima laporan itu (dugaan penodongan, Red). Sudah semestinya setiap pelaporan yang masuk akan kami tindaklanjuti. Ini masih melakukan penyelidikan,” kata Kasat Reskrim Polrestabes Semarang, AKBP Sugiarto kepada Jawa Pos Radar Semarang, Senin (25/5).

Pihaknya mengaku, akan mengumpulkan keterangan sejumlah saksi dalam kasus tersebut. Hal itu untuk mengetahui kronologi kasus ini secara pasti. Selain itu, Sugiarto juga mengaku akan memintai klarifikasi kepada Asfirla Harisanto yang saat ini menjabat sebagai Ketua Komisi C DPRD Jateng dari Fraksi PDIP. ”Tidak menutup kemungkinan semua pihak yang berkaitan akan kami mintai klarifikasi. Ini masih penyelidikan,” ujarnya.

Kasus ini mencuat setelah dilaporkan seorang pekerja proyek perumahan, bernama Ahmad Mukhlas, 38, warga asal Karangaji, Jepara. Kejadiannya Kamis (21/5) lalu sekitar pukul 09.00, Ahmad Mukhlas mengaku ditodong pistol di Jalan Borobudur V RT 5 RW IX, Manyaran, Semarang Barat, tepatnya di depan pintu proyek pembangunan perumahan mewah yang terletak di belakang Swalayan Ramai tersebut. Bogi sendiri bertempat tinggal tak jauh dari lokasi proyek pembangunan perumahan mewah yang dibangun di tanah seluas 3.000 m2 itu.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Semarang, kasus dugaan penodongan pistol ini bermula kisruh pembangunan proyek perumahan mewah yang dinilai mengganggu warga. Sejumlah warga merasa resah karena hilir mudik alat berat yang dikelola developer perumahan berinisial EW itu merusak jalan di areal tempat tinggal warga setempat.

Usut punya usut, diduga proyek pembangunan perumahan mewah tersebut tidak mengantongi Izin Mendirikan Bangunan (IMB). Nah, kedatangan Asfirla Harisanto di lokasi proyek bermaksud menjelaskan komplain warga. Namun saat itu, sebuah benda mirip pistol terselip di celana atau bagian pinggang pejabat tersebut. Hal itu dianggap oleh pekerja proyek perumahan tersebut sebagai pengancaman menggunakan pistol.

Menurut pengakuan korban Ahmad Mukhlas kepada wartawan, saat itu pelaku tiba-tiba menghentikan mobil dan melintangkannya tepat di depan pintu masuk proyek. ”Saya kaget, tidak tahu permasalahannya dia langsung marah-marah menodongkan pistol ke arah saya. Saat itu, saya sedang memindahkan tanah,” kata Mukhlas, yang menjadi sopir alat berat jenis beghu.

Saat itu, kata Mukhlas, pelaku yang berpakaian rapi dengan mengenakan tas selempang warna cokelat tersebut, langsung menanyakan keberadaan mandor dan pemilik proyek. Namun belum sempat dijawab, pria yang belakangan diketahui sebagai anggota DPRD Jateng itu mengeluarkan pistol dan mengacungkan senjata api yang diduga jenis revolver pada dirinya. ”Dia (pelaku) sebut beberapa nama. Sedangkan saya saja tidak tahu apa-apa, saya kan cuma tukang, jadi tidak tahu nama-nama yang disebut itu siapa,” ujarnya.

Akibat tindakan tersebut, semua aktivitas proyek terhenti lantaran para pekerja ketakutan. Sedangkan mobil pria tersebut sengaja menghalangi akses keluar masuk. ”Jadi tidak bisa kerja truk pengangkut tanah tak bisa keluar masuk,” jelasnya.

Hanya Airsoft Gun Terpisah, Kuasa Hukum Asfirla Harisanto, Arif Hijra Saputra, membantah pengakuan Ahmad Mukhlas, dan menjelaskan bahwa kabar penodongan pistol itu tidak benar. Namun ia membenarkan saat itu kliennya memang membawa senjata jenis airsoft gun.

”Tapi posisinya masih terselip di celana, bagian pinggang. Tidak ada penodongan pistol. Saat itu, celananya melorot, hingga menyebabkan airsoft gun tersebut kelihatan. Itu yang kemudian dianggap oleh mereka sebagai penodongan pistol,” jelas Arif.

Arif juga membenarkan, sebelumnya memang ada masalah terkait proyek pembangunan perumahan mewah tersebut. ”Maksud kedatangan klien kami ke lokasi proyek adalah baik, yakni mengajak pihak pengelola proyek perumahan untuk musyawarah bersama warga. Sebab, kegiatan alat berat, yakni pengerukan bukit untuk proyek perumahan tersebut merusak jalan warga,” bebernya.

Sedangkan pihak developer proyek perumahan tersebut, kata Arif, tidak melakukan sosialisasi terhadap warga setempat. ”Mereka hanya meminta izin kepada Pak RT secara sepihak. Mereka belum melakukan sosialisasi atau rembukan bersama warga setempat. Klien saya, datang ke lokasi proyek tersebut bermaksud menjelaskan terkait itu. Agar pihak pengelola proyek pembangunan perumahan tersebut musyawarah bersama warga,” ungkapnya.

Terkait pelaporan di Mapolrestabes Semarang, kata Arif, kliennya selaku warga negara yang taat hukum siap melakukan klarifikasi. ”Kami siap menjelaskan. Bahkan ada empat saksi kunci warga setempat yang mengetahui kejadian tersebut, yakni Dawam, Neneng Sri Lestari, Andri Triyono dan Supriyadi. Keempat saksi berada di lokasi. Tidak ada penodongan pistol,” katanya.

Menurutnya, pelaporan tersebut mengada-ada dan menyudutkan pihak Asfirla Harisanto karena mengandung fitnah. Ia juga mengaku tidak akan melaporkan balik. Justru pihaknya berharap bisa diselesaikan melalui jalur mediasi. ”Kalau ada pihak yang berusaha menyudutkan itu memang risiko seorang pejabat publik,” ujarnya. (amu/aro/ce1)