Disiplin Waktu Itu Kunci Sukses

Must Read

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu...

Irah Prariya Matubela. (M HARIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
Irah Prariya Matubela. (M HARIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

TEPAT waktu dan selalu disiplin, itulah yang menjadi kunci kesuksesan Irah Prariya Matubela. Pasalnya, gadis kelahiran Kota Semarang 17 Maret 1993 ini, selain masih mengenyam bangku perkuliahan di kampus Udinus Jurusan Manajemen Ekonomi, juga disibukkan dengan pekerjaannya di sebuah restuaran di Kota Semarang.

“Meski tubuh sudah letih tidak jadi masalah. Biasanya habis pulang kerja pada malam hari, ya dilanjut mengerjakan tugas kuliah sebelum tidur. Saya harus benar-benar bisa membagi waktu, agar kesehatan tubuh tidak ngedrop,” tutur alumnus SMAN 1 Brebes.

Dia bersyukur, tempat kerja mengizinkan dirinya kuliah. Bagi gadis yang intim disapa Irah ini, belajar sambil bekerja justru menjadi sumber semangat untuk bisa tetap eksis. Wajar saja, di tengah jadwalnya yang padat, masih bisa mengikuti ajang pemilihan Denok Kenang Kota Semarang dan berhasil masuk 25 besar dari ratusan kontestan tahun 2014 lalu.

“Setelah mengikuti ajang pemilihan Denok Kenang, saya sering didaulat Pemkot Semarang menjadi penerima tamu di acara-acara penting pemerintahan. Itupun tidak mengganggu kuliah dan kerja saya. Ini karena saya sudah biasa mengatur waktu,” katanya mantap.

Meski saat ini terbilang disiplin soal waktu, Irah mengaku dirinya dulu seorang pemalas. Itu akibat pergaulan Kota Metropolitan yang serba glamor, acuh dan kurang respek terhadap orang lain, membuat orang tuanya prihatin. Bahkan, agar terhindar dari sikap individualistik tersebut, dirinya sempat dipindah sekolahkan oleh orangtuanya ke SMAN 1 Brebes.

“Tadinya hidup di kota yang serba ada. Di tempat baru itulah, aku baru menyadari, banyak orang yang hidupnya tidak lebih baik dari aku. Dari situlah melecut saya untuk bersyukur dan memanfaatkan kesempatan dengan mengisi waktu sebaik-baiknya,” pungkas gadis yang bercita-cita menjadi pramugari. (mha/ida)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

- Advertisement -

Latest News

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat cerai. Hal itu disampaikan oleh...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu anak kiai, satu lagi anak...

Neo Mustaqbal

Sejarah dunia akan dibuat oleh Arab Saudi. Sejarah pertama: Aramco akan go public --dengan nilai yang belum ada duanya di dunia: Rp 28.000.000.000.000.000. Kedua: hasil IPO itu akan...

Rumah Kita

Kaget-kaget senang: Indonesia resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20. Tahun 2021. Sepak bola Indonesia diakui dunia. Prestasi Presiden Joko ”Jokowi” Widodo kelihatan nyata...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -