Harga Turun saat Musim Kemarau

Must Read

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu...

MERANA : Siti Aminah, 84, salah satu petani enceng gondok di Desa Kesongo Lor sedang menjemur enceng gondok. (MUNIR ABDILAH/JAWA POS RADAR SEMARANG)
MERANA : Siti Aminah, 84, salah satu petani enceng gondok di Desa Kesongo Lor sedang menjemur enceng gondok. (MUNIR ABDILAH/JAWA POS RADAR SEMARANG)

TUNTANG—Menjelang musim panas harga enceng gondok kering mengalami penurunan dari harga yang sebelumnya berkisar Rp 5.000/kg, turun menjadi Rp 4.000/kg. Penurunan harga diduga lantaran jumlah stok enceng gondok kering di petani melimpah. Sementara permintaan stagnan.

Dari pantauan di lapangan, sejumlah petani enceng gondok di Desa Kesongo Lor, RT 1, RW 1, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang, memasuki musim panas warga pinggiran rawa pening beramai-ramai mengeringkan enceng gondok. Pasalnya ketika musim hujan, pengeringan enceng gondok dengan menggunakan sinar matahari membutuhkan waktu hampir satu bulan. Sedangkan musim panas hanya membutuhkan waktu 10 hari.

Siti Aminah, 84, petani enceng gondok mengaku sudah puluhan tahun bergelut dengan usaaha tersebut. Di daerah Kesongo ada 3 pengepul enceng gondok. Sejak sebulan ini harga turun sampai seribu rupiah. Karena musim panas warga beramai-ramai memanen dan mengering enceng gondok di halaman rumah. Dari pengepul enceng gondok akan dijual lagi ke pengrajin.

Ditambahkan, enceng gondok telah memberikan kehidupan bagi masyarakat pinggiran rawa. Warga Kesongo Lor yang menganggur bisa memanen enceng di rawa. Seperti dirinya yang sudah udzurpun bisa mendapat penghasilan tambahan dari sana. “Enceng gondok bagi kami adalah tambang masyarakat. Meskipun masyarakat lain menganggap bahwa enceng gondok adalah hama yang merugikan nelayan,” ungkapnya.

Hal senada juga diungkapkan oleh Wagiyem, 38, warga dusun Kesongo Lor yang juga petani enceng, harga yang turun baginya tidak berpengaruh pasalnya masyarakat juga mengambil enceng di rawa secara gratis. Hanya memang butuh tenaga untuk mengambil dan memilah enceng gondok di rawa. “Lumayan mengeringkan enceng bisa memberikan tambahan penghasilan bagi keluarga saya. Jika memang ingin dibersihakan. Harus ada penangkaran dan zona enceng gondok,” pungkas Wagiyem yang juga bermata pencaharian sebagai petani padi. (abd/zal)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

- Advertisement -

Latest News

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat cerai. Hal itu disampaikan oleh...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu anak kiai, satu lagi anak...

Neo Mustaqbal

Sejarah dunia akan dibuat oleh Arab Saudi. Sejarah pertama: Aramco akan go public --dengan nilai yang belum ada duanya di dunia: Rp 28.000.000.000.000.000. Kedua: hasil IPO itu akan...

Rumah Kita

Kaget-kaget senang: Indonesia resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20. Tahun 2021. Sepak bola Indonesia diakui dunia. Prestasi Presiden Joko ”Jokowi” Widodo kelihatan nyata...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -