Diduga Ada Tersangka Lain

Must Read

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu...

PROYEK MANDEK: Kolam retensi di Kelurahan Muktiharjo Kidul, Pedurungan, yang diduga diwarnai korupsi. (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
PROYEK MANDEK: Kolam retensi di Kelurahan Muktiharjo Kidul, Pedurungan, yang diduga diwarnai korupsi. (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

MUKTIHARJO KIDUL – Dugaan korupsi pembangunan kolam retensi di Kelurahan Muktiharjo Kidul, Kecamatan Pedurungan, Semarang tahun 2014 diduga tak hanya melibatkan Kepala Dinas Pengembangan Sumber Daya Alam-Energi Sumber Daya Mineral (PSDA-ESDM) Kota Semarang Ir Nugroho Joko Purwanto (NJP). Diduga ada tersangka lain dalam kasus dugaan korupsi proyek yang dibiayai APBD Kota Semarang hingga Rp 33,7 miliar tersebut.

Ketua DPD II Gerakan Pemuda Nusantara (GPN) Kota Semarang, Aryo Permana Kurniawan ketika mengunjungi kolam rentensi kemarin (27/5), menyesalkan adanya dugaan korupsi proyek tersebut. Ia menduga pembangunan kolam itu hampir sama dengan pembangunan jembatan tidak jauh dari lokasi kolam retensi, yang juga mandek hingga 2 tahun.

”Saya sebagai warga asli Kelurahan Muktiharjo Kidul sangat kecewa dengan praktik dugaan korupsi yang dilakukan oknum pejabat saat membangun kolam ini. Jangan-jangan kolam retensi ini nasibnya bakal sama dengan pembangunan jembatan di ujung kolam, yang sempat mandek hingga 2 tahun, yang katanya karena dana habis,” ungkap pria gemuk tersebut kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Pria yang juga menjabat Wakil Ketua Karangtaruna Kelurahan Muktiharjo Kidul tersebut menduga ada oknum pejabat Pemkot Semarang lainnya yang terlibat dalam kasus dugaan korupsi ini.

”Wajar kalau kami menduga ada keterlibatan oknum pemkot yang lain, karena anggaran proyek ini mencapai sekitar Rp 33,7 miliar, dan proyeknya jelas belum selesai. Padahal kabarnya ditargetkan dalam waktu 4 bulan harus sudah selesai,” ungkapnya.

Aryo berharap, Kejati Jateng bertindak tegas, dan tidak pilih-pilih dalam melakukan penyidikan kepada tersangka. ”Kita lihat saja, Kejati Jateng apakah berani tegas atau cukup satu tersangka saja,” tandasnya.

Terpisah, Asisten Pidana Khusus (Aspidsus) Kejati Jateng, Johny Manurung mengaku, hingga kemarin masih mempelajari berkas perkara kasus tersebut. ”Kemungkinan bertambah tersangka dipelajari dulu ya, kemarin masih satu tersangka yang ditetapkan, yakni NJP,” ujar Johny kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Johny menyebutkan, pada Kamis (28/5) ini akan dipanggil rekanan untuk diperiksa. ”Nanti perkembangannya, kita kabari ya,” jawab Johny singkat.

Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Semarang dari Kejati Jateng menyebutkan, penetapan Nugroho Joko Purwanto merupakan penetapan keempat. Selain itu, masih ada yang ditetapkan tersangka dari pejabat Dinas PSDA Kota Semarang yang diduga terlibat, dan ditetapkan tersangka, yakni Pejabat Pembuat Komitmen (PPKom) Satker PPLP proyek kolam retensi. Totalnya ada dua pejabat dan dua dari rekanan. Sumber koran ini menolak memastikan apakah pihak rekanan yang dimaksud adalah PT Harmoni International Technonolgy.

Dikonfirmasi perihal adanya penetapan tersangka sebelum Nugroho Joko Purwanto, Kasi Penkum Kejati Jateng, Eko Suwarni mengaku tidak mengetahui. ”Tersangka, ya yang saya konferensi pers kemarin. Ya itu. Kalau tidak, ya tidak ada berarti. Saya hanya dapat (bahan rilis) itu saja,” kata Eko singkat.

Sementara itu, pantauan Jawa Pos Radar Semarang di lokasi proyek kemarin (27/5), terlihat kondisi kolam retensi Muktiharjo Kidul sekarang sangat memprihatinkan. Air kolam tersebut berwarna kecokelatan dan tampak banyak sampah. Bahkan, ekosistem ikan di kolam itu banyak yang mati, mengambang di permukaan air. Diduga air kolam bercampur limbah saat terjadi rob.

Pembangunan kolam itu juga dinilai gagal selesai tepat waktu, dan menyisakan pembangunan yang belum terselesaikan. Terlihat, akses jalan yang mengelilingi kolam tersebut hanya jalan setapak dari tanah liat. Begitu juga sebuah bangunan di kawasan tersebut yang diduga sebagai ruang jaga tertutup dan belum ditempati. Sementara rumah pompa tak jauh dari kolam tersebut belum bisa dipergunakan secara maksimal.

Warga setempat, Saiful, mengakui, proyek kolam retensi yang dikerjakan pada 2014 itu mangkrak hingga sekarang. Saat ini, belum ada tanda-tanda ada pekerjaan lanjutan. ”Sudah 3 bulan terakhir, proyek terhenti. Proyek ini baru mencapai sekitar 60 persen,” ungkap pria yang diperbantukan sebagai penjaga pintu air kolam retensi tersebut kepada Jawa Pos Radar Semarang, Rabu (27/5).

Proyek kolam retensi itu dibangun di lahan mencapai 8 hektare dengan kedalaman air 3-4 meter. Sedangkan lahan yang terkena proyek ini mencapai 50 kepala keluarga dengan ganti rugi mencapai Rp 5 juta-Rp 7 juta per KK.

”Ada 2 RW yang terkena proyek ini, yakni RW 12 dan RW 13. Ganti ruginya berbeda-beda. Dulunya yang pertama tiap rumah diganti Rp 5 juta, sedangkan berikutnya ada yang Rp 7 juta. Tergantung luasan lahan. Sekarang ganti rugi pembebasan lahan itu sudah lunas semua,” katanya.

Pihaknya berharap, pemerintah segera melanjutkan proyek pembangunan kolam retensi tersebut. Menurut pengakuannya, kolam retensi itu banyak manfaatnya, di antaranya untuk mengurangi banjir dan rob. ”Kolam ini kan menampung air dari wilayah Tlogosari dan Kecamatan Pedurungan. Jadi harus dilanjutkan. Pagar di sekeliling kolam itu juga penting, karena sangat rawan, terutama untuk anak-anak,” ujarnya.

Hal sama diungkapkan, warga RT 6 RW 12, Darti. Ia mengakui adanya pembangunan kolam retensi sangat menguntungkan warga setempat, dan perkampungan di dekat kolam tersebut. Sebab, sebelum ada pembangunan kolam tersebut, wilayahnya kerap tejadi banjir dan rob. ”Harapan warga sini, secepatnya dibangun, dan pintu air segera difungsikan secara maksimal. Sebab, air di situ sering mampet dan banyak ikan di kolam yang mati akibat limbah rob dan sampah,” harapnya.

Seperti diketahui, selain kolam retensi Muktiharjo, awalnya Pemkot Semarang juga merencanakan pembangunan embung untuk mengatasi banjir di tiga tempat. Yakni di Tlogosari seluas 2,6 hektare, Bugen 1,5 hektare, Kalicari seluas 0,47 hektare, dan Muktiharjo Kidul seluas 8 hektare. Dari empat kolam retensi itu, kolam di Muktiharjo Kidul yang paling besar. Seluruh biaya pembangunan kolam retensi itu mencapai Rp 35 miliar yang berasal dari APBD 2014. (bj/mha/aro/ce1)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

- Advertisement -

Latest News

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat cerai. Hal itu disampaikan oleh...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu anak kiai, satu lagi anak...

Neo Mustaqbal

Sejarah dunia akan dibuat oleh Arab Saudi. Sejarah pertama: Aramco akan go public --dengan nilai yang belum ada duanya di dunia: Rp 28.000.000.000.000.000. Kedua: hasil IPO itu akan...

Rumah Kita

Kaget-kaget senang: Indonesia resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20. Tahun 2021. Sepak bola Indonesia diakui dunia. Prestasi Presiden Joko ”Jokowi” Widodo kelihatan nyata...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -