Kalau Tak Diatur, Bisa Berakibat Fatal

555
MELINTASI JEMBATAN: Sejumlah pengendara terlihat melintasi jembatan goyang Kedungpatangewu. (Faiz Urhanul Hilal/Jawa Pos Radar Semarang)
MELINTASI JEMBATAN: Sejumlah pengendara terlihat melintasi jembatan goyang Kedungpatangewu. (Faiz Urhanul Hilal/Jawa Pos Radar Semarang)

Meski harus melawan rasa takut, masyarakat Kabupaten Pekalongan tetap melintasi jembatan goyang di Desa Kedungpatangewu Kecamatan Kedungwuni sebagai jalur alternatif selama pembangunan Jembatan Surobayan. Seperti Apa?

Faiz Urhanul Hilal, Kajen

PARA pengendara sepeda motor harus taat kepada rambu lalu lintas berupa sepotong bambu yang dipegang warga di sebuah gubug dekat jembatan goyang Desa Kedungpatangewu Kecamatan Kedungwuni.

Di gubug berbahan bambu alakadarnya itulah, terdapat kotak berisi uang yang sengaja disiapkan kepada para pengendara yang hendak lewat. “Sumbangan seikhlasnya mas,” kata pria pembawa bambu penghalang itu sambil tersenyum.

Pria bertopi itu mengatakan, sistem buka tutup harus dilakukan untuk lalu lintas di jembatan goyang tersebut. Hal itu dilakukan untuk menghindari benturan keinginan antarpengendara di atas jembatan yang bisa berakibat fatal. “Setiap hari pasti ramai. Kalau tidak bergantian, dari sini atau seberang, bisa-bisa ada yang jatuh ke dasar sungai,” ungkapnya.

Pria paruh baya itu mengatakan, jumlah kendaraan yang melintaspun harus diperhitungkan. Sebab, jika terlalu banyak, sangat berisiko dan berbahaya. Selain tubuh jembatan yang sudah rapuh, beratnya beban juga bisa menjadikan kondisi jembatan itu bergoyang ketika digunakan. “Sengaja kami bagi, kira-kira sampai 10 kendaraan. Nanti gantian yang dari seberang sana,” ujarnya sembari mengangkat rambu.

Ketika melewati jembatan, bulu kuduk akan memberitahukan bahwa jembatan berpembatas tali besi itu berada sekitar 10 meter di atas sungai berbatu. Memang bergoyang. Laju sepeda motor berkecepatan rendahpun seperti melintasi gulungan ombak sepanjang jembatan 150 meter itu.

Kepala Desa Kedungpatangewu, Tatik Endah Pujiati mengatakan bahwa sebelum dibangun jembatan gantung, di lokasi telah ada jembatan sasak (jembatan dari bambu). Jembatan itu menjadi akses penghubung wilayah Desa Kedungpatangewu ke Kedungwuni. “Jembatan Sasak sebelumnya, letaknya ada di sebelah barat jembatan gantung itu,” ungkapnya saat dikonfirmasi Jawa Pos Radar Semarang, kemarin.

Namun ketika musim hujan, jembatan bambu menjadi licin dan sangat membahayakan. Selain itu, bahaya banjir yang bisa menghanyutkan jembatan. Oleh karena itu, pihak desa meminta bantuan pemerintah agar di lokasi tersebut dibangunkan jembatan gantung yang terealisasi pada tahun 2009.

Tatik menambahkan, tahun-tahun sebelumnya, jembatan goyang tersebut memang menjadi akses alternatif jika Jembatan Surobayan dilakukan perbaikan. Dalam perombakan total Jembatan Surobayan tahun ini, arus lalu lintas yang melewati jembatan goyang semakin padat. “Setiap hari ada ribuan kendaraan yang melintas. Bahkan dari sumbangan sukarela yang didapat, bisa mencapai Rp 1,5 juta setiap hari,” ungkapnya.

Tatik memaparkan, dana yang terkumpul itu digunakan untuk melakukan berbagai perbaikan jembatan, termasuk upah beberapa warga setempat yang bergotong royong mengatur arus kendaraan di jembatan. “Warga yang jaga sampai malam, hingga pukul 22.00. Kadang juga pukul 00.00 masih ada masyarakat yang melintasi jembatan. Maka dari itu, kalau tidak diatur bisa repot. Untuk perbaikan, kami sudah melakukan tiga kali,” timpalnya.

Terkait keinginan pemerintah membangun jembatan lebih besar, Tatik menyambut baik. Hal itu bisa mengurai kemacetan panjang yang kerap terjadi ketima musim Lebaran. “Apalagi ini Jembatan Surobayan dibongkar. Lebaran kemarin saja antrean hingga satu jam. Jika memang ingin dibangun, yang bisa dilewati mobil dan motor, tentu akses jalan menuju jembatan harus diperlebar,” timpalnya.

Sementara itu, Bupati Pekalongan, Amat Antono saat meninjau lokasi, belum lama ini mengatakan, pihaknya akan melakukan evaluasi terkait kepadatan lalulintas ketika proses pembangunan Jembatan Surobayan. “Saya dengan semua kepala dinas dan staf terkait akan melihat tingkat kepadatan arus, tidak hanya di Jembatan Darurat di Bugangan yang menjadi jalur alternatif utama, tapi juga di Jembatan Kedungpatangewu ini,” ungkapnya.

Menurut Antono, perbaikan jembatan goyang tersebut segera dilakukan. Namun terkait jembatan darurat tambahan, pihaknya terlebih dahulu melakukan pengkajian secara teknis. “Kami akan hitung secara teknis. Jika jadi dibangun, setengah bulan jadi,” tambahnya.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Sudiarto menambahkan, proses perbaikan jembatan goyang Kedungpatangewu tersebut masih berlangsung. Di antaranya penambahan besi penyangga untuk meminimalisasi goyangan, juga pemasangan sling baja dan spanner. “Ini masih berlangsung. Dananya Rp 50 juta. Kami tambah besi penyangga, kemudian pemasangan sling baja dan spanner agar lebih kuat. Kemudian beberapa besi yang putus akan kami las lagi,” ujarnya. (*/ida)