Satu Lembar Butuh Satu Tahun Membatik

Must Read

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu...

KALANGAN TERBATAS : Widianti, penerus batik Oey Soe Tjoen saat menunjukkan karyanya. (TAUFIK HIDAYAT/JAWA POS RADAR SEMARANG)
KALANGAN TERBATAS : Widianti, penerus batik Oey Soe Tjoen saat menunjukkan karyanya. (TAUFIK HIDAYAT/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Enam bulan terakhir, ratusan perajin batik di Kabupaten Batang, Pekalongan dan Kota Pekalongan, mengalami masa sulit dalam memasarkan batik hasil karyanya. Namun Batik Oey Soe Tjoen, justru menolak pembeli. Kok ?

TAUFIK HIDAYAT, Batang

MAHALNYA harga bahan baku yang 80 persen impor dan turunnya daya beli masyarakat terhadap batik, membuat perajin batik terpaksa memberhentikan karyawannya untuk mengurangi kerugian. Namun ada puluhan perajin batik yang masih bertahan dari Desa/Kecamatan Warunngasem, Kabupaten Batang. Bahkan hasil karyanya diburu oleh kolektor batik dari luar negeri. Adalah Batik Oey Soe Tjoen, yang beralamat di Kecamatan Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan. Bahkan, per lembarnya dibandrol dengan harga fantastis, lebih dari Rp 25 juta.

Sayangnya, batik Oey Soe Tjoen justru saat ini menolak pembeli. Alasannya, terbatasnya tenaga kerja, demi menjaga kualitas dari batik Oey Soe Tjoen yang dikerjakan lebih dari 1 tahun untuk satu lembar kain batiknya.

Sejarah Batik Oey Soe Tjoen berawal di Pekalongan pada 1925. Oey Soe Tjoen bersama Kwee Tjoen Giok Nio, istrinya, mulai merintis usaha batik tulis pada tahun itu. Di rumahnya di Jalan Raya Kedungwuni 208, Kabupaten Pekalongan, yang sekarang ditempati oleh Widianti, 36, keturunan ke-9 dari Soe Tjoen. Yang selanjutnya, bersama keluarganya meneruskan usaha tersebut.

Karena rumah yang ditempatinya tidak terlalu besar, Widianti memperkerjakan warga Desa Warungasem, Kabupaten Batang, di rumahnya masing-masing pekerja untuk membuat batik Oey Soe Tjoen.

“Saya tidak punya galery atau toko batik, seperti banyak perajin batik yang ada sekarang. Saya hanya membuat batik berdasarkan pesanan saja, itu baru selesai satu tahun kemudian,” ungkapkap Widianti, Kamis (28/5) siang kemarin.

Widianti menegaskan bahwa Batik Oey Soe Tjoen, tidak dipasarkan untuk sembarang orang, hanya dipesan kalangan terbatas, yakni para pengusaha baik dari dalam dan luar negeri. Untuk produk yang dijualnya, sama dengan para pendiri Oey Soe Tjoen sebelumnya.

Menurutnya motif yang dikerjakan batik Oey Soe Tjoen, adalah motif tradisional khas pantai utara seperti motif pagi sore, Merak, Pringgodani, dan bunga-bunga mulai dari seruni, tulip, mawar dan anggrek. Motif tersebut dibuat sesempurna mungkin dengan mengerahkan 35 tenaga pembatik profesional dan dikerjakan di rumah para pembatik, yakni di beberapa desa di Kecamatan Warungasem, Batang.

”Pengusaha Jepang, Singapura dan beberapa pengusaha Jakarta, serta Kudus dan Jawa Timur juga pesan disini. Mereka sebagian adalah pengusaha rokok dan tembakau. Batik Oey Soe Tjoen ini sudah sangat terkenal, saking tenarnya, kain batik Oey sempat menjadi mas kawin wajib sejumlah pengusaha China dengan harga bernilai puluhan juta rupiah per lembarnya,” tutur Widianti.

Sementara itu, Pengurus Perajin Batik Tiga Negeri, Kabupaten Batang, Hermanto, 56, menegaskan bahwa bertahannya batik Oey Soe Tjoen, karena menggunakan perajin batik dari Kecamatan Warungasem, Batang. Selain itu, diberi upah yang sangat layak, melebihi perajin batik yang ada di Kabupaten Pekalongan dan Kota Pekalongan.

“Dengan upah yang lebih dari cukup, pengrajin yang bekerja pada Oey Soe Tjoen sangat loyal dan benar-benar menjaga kualitas dari batik tersebut. Sehingga pembeli tidak mungkin kecewa akan hasil karya perajin tersebut,” tuturnya.

Menurutnya, jatuhnya usaha batik saat ini, lebih disebabkan banyaknya perajin batik yang nakal. Dengan mengatakan batik tulis, padahal cap. Bahkan kombinasi printing dengan cap dan menjadi batik tulis. “Hal itu membuat konsumen menjadi kecewa,” tegas Hermanto, pemilik batik di Kabupaten Batang.(*/ida)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

- Advertisement -

Latest News

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat cerai. Hal itu disampaikan oleh...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu anak kiai, satu lagi anak...

Neo Mustaqbal

Sejarah dunia akan dibuat oleh Arab Saudi. Sejarah pertama: Aramco akan go public --dengan nilai yang belum ada duanya di dunia: Rp 28.000.000.000.000.000. Kedua: hasil IPO itu akan...

Rumah Kita

Kaget-kaget senang: Indonesia resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20. Tahun 2021. Sepak bola Indonesia diakui dunia. Prestasi Presiden Joko ”Jokowi” Widodo kelihatan nyata...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -