Jelang Ramadan, Pasar Konvensi Sepi

405
Pekerja Konveksi : Sejumlah karyawan sedang bekerja di sebuah perusahaan di Kabupaten Pekalongan. (FAIZ URHANUL HILAL/JAWA POS RADAR SEMARANG)
Pekerja Konveksi : Sejumlah karyawan sedang bekerja di sebuah perusahaan di Kabupaten Pekalongan. (FAIZ URHANUL HILAL/JAWA POS RADAR SEMARANG)

KAJEN-Sepinya order menjelang Ramadan, membuat para pengusaha konveksi di Kabupaten Pekalongan kelimpungan. Selain penurunan omzet, beberapa di antaranya bahkan sudah gulung tikar.

Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Semarang, sepinya order tersebut disebabkan belum stabilnya harga bahan baku akibat melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dan naik turunnya harga Bahan Bakar Minyak (BBM).

Salah seorang pengusaha konveksi, Mirza, 26, mengatakan, sepinya order tersebut menyebabkan penurunan omzet hingga 50 persen. “Tahun ini, penurunan omzet terjadi begitu drastis. Hampir seluruh pengusaha konveksi mengalami sepi order. Bahkan beberapa ada yang bangkrut,” kata warga Desa Ambokembang Kecamatan Kedungwuni Kabupaten Pekalongan tersebut.

Menurut Mirza, selain Pekalongan, sepinya order juga terjadi di berbagai daerah di Jawa Tengah. Seperti Jakarta, Jogja, Surabaya, Solo, Kudus hingga Purwokerto.

Jika melihat tahun-tahun sebelumnya, order mulai ramai pada enam bulan menjelang datangnya bulan Ramadan. Namun saat ini kurang dua bulan menjelang puasa, baru terasa sedikit ramai. “Seharusnya Desember 2014 kemarin sudah mulai ramai. Tapi sekarang ini, baru terlihat ramai dua bulan terakhir ini,” akunya.

Sementara itu, pengusaha konveksi di Desa Sidorejo Kecamatan Tirto Kabupaten Pekalongan, Imam, 23, mengatakan bahwa sepinya order disebabkan belum stabilnya harga bahan di pasar. “Produksi tergantung pasar, sedangkan pasar sepi. Kemudian penjual bahan, seperti menimbun barang, baru dikeluarkan ketika ramai,” tuturnya.

Sepinya order, juga disebabkan tipisnya keuangan konsumen. Hal itu membuat dirinya berspekulasi menggunakan sistem pembayaran cash tempo. “Kalau pasar ramai, sekali ambil barang langsung bayar. Tapi kalau sepi, bayarnya tidak penuh. Belum bayar tapi kemudian minta ambil lagi,” jelasnya.

Mendekati Ramadan pada pertengahan Juni ini, kata Imam, order mulai ramai dalam dua minggu terakhir. Di Daerah Sidorejo yang rata-rata pengusaha konveksi, suah mulai terlihat ramai order. “Meski tidak seperti tahun lalu, pengiriman barang paling seminggu lima kali. Ongkos kirimnya juga naik. Semula per ikat ukuran 1,5 meter Rp 25 ribu, sekarang Rp 30 ribu,” katanya.

Sementara itu, Dewan Penasehat Paguyuban Pedagang Konveksi Kabupaten Pekalongan, Asip Kholbihi membenarkan terkait sepinya pasar order konveksi di Indonesia. “Memang belakangan ini tidak sedikit pengusaha konveksi yang mengeluhkan hal itu,” ujar Asip yang saat juga menjabat sebagai Anggota Komisi D DPRD Jawa Tengah itu.

Menurutnya, sepinya pasar order dikarenakan dampak dari makro ekonomi yang tidak bergerak lantaran Stimulus Fiskal APBN belum turun. “Ini juga berdampak pada pasar konveksi di Indonesia. Sebagian masih bertahan. Saya harap, tetap sabar sembari menunggu ekonomi pasar kembali stabil,” tandasnya. (hil/ida)