Terapi ART Tentukan Kelangsungan Hidup Odha

339

MUGASSARI – Pelanggan seks komersial atau berganti-ganti pasangan seks menduduki peringkat tertinggi dalam penyebaran HIV Aids di Kota Semarang. Jumlah pengidap yang terdeteksi semakin tinggi pula. Namun untuk tingkat kematian mengalami penurunan yang cukup signifikan. Salah satu faktor penurunan kematian tersebut adalah kesadaran pentingnya terapi antiretroviral (ART) bagi pengidap HIV.

Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kota (DKK) Semarang, kasus AIDS sebanyak 432 kasus, kematian 60 kasus. Berdasarkan jenis pekerjaan, profesi karyawan yang terinfeksi sebanyak 19 persen, ibu rumah tangga sebanyak 18 persen, wiraswasta sebanyak 18 persen, buruh sebanyak 10 persen, lain-lain 11 persen.

Hal tersebut dikatakan oleh Kepala DKK Semarang, Widoyono dalam talk show Renungan Aids Nusantara 2015 yang digelar di Kampus Unisbank, Mugas, Jumat (29/8). Disebutkan Widoyono, berdasarkan kelompok resiko, pelanggan seks sebanyak 44 persen, lain-lain sebanyak 23 persen, pasangan risiko tinggi sebanyak 6 persen. ”Sedangkan untuk pengguna narkoba suntik sebanyak 5 persen, wanita pekerja seks sebanyak 13 persen. Meski begitu angka persentasi kematian cenderung turun dari 16,3 persen di tahun 2012 menjadi 6,7 persen di tahun 2014,” ujar Widoyono.

Dikatakan Widoyono korban yang terkena HIV Aids sangat perlu untuk mendapat pengobatan atau yang disebut dengan terapi antiretroviral (ART), yang artinya mengobati infeksi HIV dengan beberapa obat (karena HIV adalah retrovirus, obat ini biasa disebut sebagai obat antiretroviral/ARV) yang dilakukan secara teratur dapat mempertahankan kelangsungan hidup Odha lebih lama. ”ARV sendiri sifatnya tidak membunuh virus HIV. Namun dapat melambatkan pertumbuhan virus. Waktu pertumbuhan virus dilambatkan, begitu juga penyakit HIV. ARV bisa didapatkan di layanan kesehatan yang sudah ada CST (Care Support Treatment). Selama mempunyai KTP Semarang, korban berhak untuk mendapatkan layanan ini secara gratis sampai seumur hidup,” tuturnya.

Sementara itu, salah satu anggota Komunitas ODHA-OHIDA Semarang (KOOS), Anita mengatakan banyak kendala yang dihadapi korban untuk mendapatkan layanan kesehatan. Informasi yang terbatas soal jaminan kesehatan dari pemerintah, hingga belum adanya kesadaran korban untuk mengkomsumsi obat agar dapat memperlambat virus. ”Selain itu banyak korban yang tertular virus HIV Aids tidak membuka diri karena dianggap aib sehingga sulit untuk melakukan monitoring. Itu menjadi kendala yang hingga kini masih belum bisa diatasi,” kata Anita. Selain talk show, panitia juga menggandeng Palang Merah Indonesia (PMI) untuk menyelenggarakan donor darah. (ewb/zal/ce1)