Modal Rp 35 Ribu, Kini Tembus Bandung dan Bali

486
KREATIF: Nurhusaini dan patung kayu karyanya. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
KREATIF: Nurhusaini dan patung kayu karyanya. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Nurhusaini termasuk seniman patung kreatif. Bermodal kayu limbah dari kebun, ia berhasil menyulapnya menjadi patung kayu yang bernilai seni tinggi. Seperti apa?

M. HARIYANTO

TANGAN Nurhusaini sangat terampil. Potongan kayu yang semula hanya limbah dari kebun dirangkainya menjadi barang yang bernilai seni tinggi. Kayu itu disusun menjadi patung-patung kecil dengan beragam bentuk yang mengambarkan aktivitas orang pedesaan. ”Kebetulan saya anak desa. Jadi patung-patung ini menggambarkan seorang petani, pemancing, atau orang yang lagi bercocok tanam di sawah. Ini merupakan pekerjaan asli orang warga Kelurahan Kandri sini,” ungkap pria 24 tahun warga Kandri, Gunungpati ini kepada Jawa Pos Radar Semarang, Minggu (31/5).

Patung-patung yang dibuatnya sendiri itu diberi nama Kandri Artnik. Dalam sebulan, ia berhasil membuat hampir 100 jenis patung dari potongan kayu limbah. Harga jual patung-patung itu sangat menggiurkan. ”Kalau yang bagus saya jual mulai harga Rp 300 ribu sampai Rp 500 ribu. Kalau yang bentuknya biasa dan tidak rumit, sekitar Rp 100 ribu,” terangnya.

Diakuinya, patung kayu hasil ciptaan itu kini sudah beredar hingga keluar Kota Semarang, seperti Bandung dan Bali. Sedangkan penjualan yang dilakukan sekarang lebih lebih banyak melalui media sosial, seperti Facebook, Twitter dan BBM.

”Sekarang masih lewat teman-teman yang sudah saya kenal, istilahnya gethok tular. Apalagi sekarang komunikasi semakin mudah, bisa lewat handphone ataupun media sosial,” ujarnya.

Saat merintis usaha itu, Nurhusaini mengaku hanya bermodalkan Rp 35 ribu. Uang itu digunakan untuk membeli seutas tali sebagai pengikat rangkaian kayu-kayu untuk dijadikan sebuah patung. ”Modal saya pas-pasan. Kalau kayunya saya cari di kebun, di sungai dan sawah. Jenis kayunya ya pohon yang banyak tumbuh di sini. Seperti pohon mangga, durian, rambutan hingga tanaman padi. Kalau kebutuhan seperti cat, terus terang saya minta pada tetangga yang kebetulan punya,” terangnnya.

Ia mengaku, belajar membuat patung secara otodidak. Ia mulai menekuninya sejak pulang merantau dari Kalimantan pada pertengahan 2013 silam. ”Pada bulan September tahun lalu, saya pernah jualan patung ke Bandung. Saat itu, saya bawa 50 patung dengan bekal uang Rp 105 ribu dan 1 dus mi instan. Tapi, selama sebulan di Bandung hanya laku 10 biji dengan harga jual Rp 10 ribu per patung,” kenangnya sambil tersenyum.

Selain itu, ia pernah jualan sambil jalan kaki di Semarang. Ia sudah biasa jalan kaki dari Gunungpati hingga Tanahmas. Kini seiring berkembangnya waktu, perjuangannya yang keras disertai doa akhirnya mulai membuahkan hasil. Pada akhir September 2014, pesanan patung mulai berdatangan. Bahkan, ia sampai kebanjiran order. Saat ramai pesanan, sehari dia bisa mengantongi penghasilan hingga Rp 2 juta. ”Setiap hari saya buat 4-5 patung. Ya, mudah-mudahan pesanan terus meningkat,” harapnya. (*/aro/ce1)