Berawal dari Anak Menangis, Kini Bisa Pekerjakan Warga

467
INOVATIF : Wulan saat menjual pita perca di pameran kerajinan Desa Subah, Batang, kemarin. (TAUFIK HIDAYAT/JAWA POS RADAR SEMARANG)
INOVATIF : Wulan saat menjual pita perca di pameran kerajinan Desa Subah, Batang, kemarin. (TAUFIK HIDAYAT/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Kain perca atau kain bekas sisa dari bahan jahitan yang semula hanya menjadi sampah, ternyata bisa dimanfaatkan menjadi bahan kerajinan pita rambut yang mendatangkan penghasilan. Seperti apa?

TAUFIK HIDAYAT, Batang

DI tangan dingin Wulansari, 21, warga Desa/Kecamatan Subah, Kabupaten Batang, kain perca bisa berubah menjadi kerajinan pita rambut yang sangat disukai kaum hawa untuk mempercantik penampilan.

Namun kreativitas tersebut mencuat pada kesempatan yang tak dia sangka sebelumnya. Justru muncul saat Dita, 5, putri Wulansari menangis minta dibelikan pita rambut seperti milik temannya. Karena Wulansari sibuk menjahit, akhirnya mencari kain perca sisa jahitan yang selama ini dibuang, diambil sebagian dan dibuatkan pita rambut untuk putrinya tersebut. Tak disangka pita rambut buatan Wulansari, disukai para tetangganya dan banyak yang minta dibuatkan.

“Awalnya saya membuat pita rambut karena iseng. Yakni, supaya Dita putri saya tidak menangis. Ternyata anak-anak dan ibu-ibu tetangga malah banyak yang suka. Akhirnya jadilah bisnis pita dari kain perca ini,” ungkap Wulansari, saat mengikuti pameran kerajinan PKK di Desa Subah, Senin (1/6) siang kemarin.

Karena banyaknya permintaan pita rambut dari kain perca, Wulansari akhirnya mengajak para tetangganya untuk membantu memproduksi pita rambut dari kain perca tersebut. Usaha sambilan menerima jahitan baju, kini sudah berubah menjadi usaha pita rambut dari kain perca.
Menurutnya, membuat pita rambut dari kain perca, hanya membutuhkan modal uang tak lebih dari Rp 20 ribu untuk membuat 50 pita rambut. Karena sebagian besar bahan yang digunakan adalah limbah dari kain sisa jahitan yang mudah ditemui didapat di banyak tempat penjahit batik. “Dari modal Rp 20 ribu bisa jadi 50 pita perca. Kalau terjual semua, menjadi Rp 150 ribu,” kata Wulan.

Diakui Wulan, pemasaran yang dia lakukan melalui media sosial dan dititipkan pada banyak toko, mulai dari toko sembako hingga toko pakaian. Menurutnya, bentuknya yang unik dan harga yang sangat murah, membuat pita perca disukai banyak orang. “Sekarang ada 20-an tetangga yang ikut membantu membuat pita perca di rumah masing-masing,” jelas Wulan.

Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi UMKM, Kabupate Batang, Jamal Naser menuturkan bahwa produk pita perca yang dibuat warga Desa Subah sangat sederhana. Hanya berbahan kain sisa atau kain limbah, lem dan karet atau peniti.

Menurutnya jika pita perca tersebut dikemas dan dimodifikasi serta dipacking bagus, bisa menambah nilai jual dari pita perca tersebut. “Meski dibuat dari bahan kain sisa atau perca, ternyata pita rambut perca ini bisa mendatangkan rupiah setiap bulannya,” tutur Naser. (*/ida)