Diklaim Cegah Penyakit Jantung dan Stroke

582
BERGIZI: Jantung pisang disulap menjadi makanan yang memiliki nilai ekonomis tinggi. (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BERGIZI: Jantung pisang disulap menjadi makanan yang memiliki nilai ekonomis tinggi. (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Jantung pisang sering dipandang sebelah mata oleh sebagian orang. Namun di tangan mahasiswa Universitas Diponegoro (Undip), jantung pisang disulap menjadi makanan yang diklaim bisa mencegah penyakit jantung dan stroke. Namanya Debontusang. Seperti apa?

EKO WAHYU BUDIYANTO, Rowosari

BUAH pisang merupakan komoditas pertanian yang banyak dihasilkan hampir di seluruh wilayah Jawa Tengah. Salah satunya di Kelurahan Rowosari, Kecamatan Tembalang. Sebagai sentral tanaman pisang, kelurahan tersebut merupakan wilayah marginal yang memiliki potensi yang besar. Sayangnya, kualitas sumber daya manusianya belum dapat memanfaatkan potensi yang ada secara maksimal. Terutama pisang kepok (family musaceae).

Karena itulah, lima mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Undip mengenalkan Debontusang kepada warga RT 5 RW 3 Kelurahan Rowosari. Kelima mahasiswa kreatif itu adalah Ririh Citra Kumalasari sebagai ketua tim, serta empat anggota, yakni Rozzaq Alhanif Islamudin, Hamas Musyadad Abdul Aziz, Zamakhsari Alhamid, dan Tuti Yuniatun. Sejak awal Maret lalu, mereka mulai mengajarkan pembuatan Debontusang kepada ibu-ibu PKK setempat.

Ririh Citra Kumalasari menjelaskan Debontusang merupakan singkatan dari Dendeng dan Abon Jantung Pisang. Makanan ini dibuat dari jantung pisang yang selama ini kurang dimanfaatkan warga setempat. Hanya sebagian kecil jantung pisang yang dimasak menjadi sayur. Sebagian besar menjadi limbah dan dibuang begitu saja.

“Sayang kan kalau jantung pisang itu dibuang begitu saja. Padahal kalau dibuat Debontusang bisa bernilai ekonomis yang tinggi,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Ririh mengakui, dendeng dan abon jantung pisang ini merupakan produk hasil kreativitas dirinya dan empat temannya dalam rangka meningkatkan perekonomian masyarakat, khususnya warga RT 5 RW 3 Kelurahan Rowosari. “Ide membuat menu makanan itu muncul saat kami melihat banyak jantung pisang yang dibuang begitu saja. Kami lalu melakukan penelitian,” ujarnya.

Ia dan empat temannya ingin mengabdikan diri dan memberikan ilmu kepada masyarakat sekitar. Utamanya dalam pengolahan limbah jantung pisang.

Menurut Ririh Citra, Debontusang memiliki banyak kelebihan. Selain merupakan menu makanan yang terbilang awet, makanan ini diklaim mampu mencegah penyakit jantung dan stroke. “Debontusang bahan bakunya juga alami dan ramah lingkungan,” katanya.

Dari jantung pisang yang berupa kelopak berwarna ungu dengan jajaran bunga berwarna putih kekuningan itu, warga RT 5 RW 3 Rowosari tak hanya menyulapnya menjadi dendeng dan abon biasa. Namun oleh Ririh Citra cs juga memberi inovasi dengan menjadikan dendeng jantung pedas berlevel, serta menambahkan varian rasa pada abon jantung. Di antaranya, abon rasa ayam, sapi, dan seafood tanpa mengurangi manfaat dari kandungan protein pada jantung pisang tersebut.

”Kami berharap agar produk ini dapat diterima masyarakat serta menambah varian aneka camilan khas nusantara sehingga masyarakat RT 5 RW 3 Kelurahan Rowosari, Tembalang dapat semakin mandiri secara ekonomi,” harap Ririh Citra.

Selain itu, Ririh Citra juga berharap agar produk Debontusang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat Rowosari. ”Harapannya ke depan bisa menjadi makanan khas Kota Semarang,” ujarnya. (*/zal/ce1)