Jalan Bekas Galian C Rusak Parah

546
HAMBAT WARGA : Pekerjaan galian C menyisakan masalah kerusakan Jalan Raya Ngampel ruas Desa Sijeruk. Warga menagih janji Pemkab Kendal untuk melakukan perbaikan jalan tersebut. (BUDI SETYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG)
HAMBAT WARGA : Pekerjaan galian C menyisakan masalah kerusakan Jalan Raya Ngampel ruas Desa Sijeruk. Warga menagih janji Pemkab Kendal untuk melakukan perbaikan jalan tersebut. (BUDI SETYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG)

KENDAL — Penambangan pasir, tanah dan batu (galian C) di Kendal menyisakan jalan rusak di sejumlah wilayah. Salah satunya sepanjang jalan Ngampel Raya yang hingga kini masih belum tersentuh perbaikan.

Warga menuntut aksi nyata agar jalan segera diperbaiki oleh pemerintah maupun perusahaan penambangan galian C yang telah merusak jalan. Warga mengaku sudah bosan berkeluh kesah maupun mengusulkan jalan untuk diperbaiki.

Pantauan Radar Semarang, kerusakan terparah berada di Kelurahan Sijeruk sampai dengan Trompo. Kondisi jalan penuh dengan lubang sedalam 15-30 centimeter. Bahkan nyaris badan jalan selebar enam meter, hanya tersisa lima hingga dua meter saja. Selebihnya rusak berlubang dan berlumpur. “Berulang kali saat ada rapat dengan kelurahan, kami selalu mengusulkan agar jalan segera diperbaiki. Tapi nyatanya sampai sekarang sama sekali tidak ada perbaikan warga,” ujar Ketua di RT 04 RW 02 Kelurahan Sijeruk, Abidin, Senin (1/6).

Ia mengaku saat ada kunjungan Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo yang meminta Pemkab Kendal agar segera memperbaiki jalan, warga sudah merasa senang. “Kami dengar kabar, katanya April mau dibangun jalannya, tapi hingga kini ternyata sama sekali tidak ada perbaikan,” keluhnya. Dikatakan, warga menginginkan aksi nyata bukan sekadar janji dan omongan saja. “Warga ingin minimal jalan yang rusak ditutup dengan pasir dan batu agar tidak mirip kubangan,” harapnya.

Abidin menjelaskan, upaya perbaikan swadaya sudah sering dilakukan warga khususnya pemilik usaha di tepi jalan. Yakni dengan menguruk jalan dengan pasir dan batu. Namun usaha tersebut sia-sia lantaran kala itu masih banyak truk-truk pengangkut galian C yang mengangkut muatan berlebih melintas. “Sekarang dump truk galian C sudah tidak ada, tapi ya itu menyisakan jalan rusak. Sama sekali tidak ada tanggung jawab untuk menutup lubang atau memperbaiki jalan,” tandasnya.

Dikatakan Abidin, warga ingin bertindak dengan memblokir jalan atau aksi protes namun percuma saja. “Kami ingin aksi memblokade jalan. Tapi warga pikir, percuma karena jalan tersebut kewenangan pemerintah. Jadi buat apa kita bertindak sendiri dengan menutup jalan rusak kalau pemerintahnya saja sudah tidak peduli,” katanya.

Sementara itu, akibat jalan yang masih rusak dan penuh dengan kubangan lumpur itu, banyak pengendara sepeda motor dan pengemudi becak yang mencari jalan kampung atau jalan tikus. “Daripada melintas di jalan berlumpur dan rusak parah mendingan pilih jalan tikus meski berputar-putar, tapi setidaknya tidak kotor dan tidak khawatir terjatuh,” ujar Edi Prayitno pengendara sepeda motor. (bud/ric)