Kuburan Masal Pembantaian PKI

Must Read

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu...

PASANG NISAN: Perkumpulan Masyarakat untuk Hak Asasi Manusia (PMS-HAM) dan keluarga korban peristiwa 1965 melakukan pemasangan batu nisan di kuburan masal di Dusun Plumbon Kelurahan Wonosari Kecamatan Ngaliyan. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
PASANG NISAN: Perkumpulan Masyarakat untuk Hak Asasi Manusia (PMS-HAM) dan keluarga korban peristiwa 1965 melakukan pemasangan batu nisan di kuburan masal di Dusun Plumbon Kelurahan Wonosari Kecamatan Ngaliyan. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

WONOSARI- Temuan kuburan masal anggota Partai Komunis Indonesia (PKI) yang tewas dibantai dalam tragedi 1965 silam, di Desa Plumbon, Kelurahan Wonosari, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang, akhirnya resmi diberi batu nisan oleh Pegiat Hak Asasi Manusia (HAM) Semarang, Senin (1/6) pagi.

Diduga terdapat puluhan orang tewas akibat dibantai atas tuduhan sebagai anggota PKI kala itu. Tanpa proses peradilan, mereka dieksekusi mati di suatu tengah malam saat hujan deras. Jasad orang-orang tersebut lalu dikubur ke dalam satu liang lahat.

Sedikitnya ada delapan orang telah diketahui identitasnya, rata-rata berasal dari daerah Kendal Jateng. Sedangkan 24 orang di antaranya belum diketahui identitasnya. Sebelumnya, pemberian batu nisan tersebut telah melalui proses panjang oleh tim Pegiat Hak Asasi Manusia (HAM) Semarang sejak awal mencuat temuan kuburan masal sejak Oktober 2014 lalu.

Baik penelitian pencarian jejak keluarga korban, saksi mata dalam insiden pembantaian, hingga kepolisian dan instansi Pemerintah Kota Semarang. ”Makam akhirnya resmi kami beri batu nisan setelah melalui proses panjang. Hingga diberikan batu nisan, kurang lebih telah 7,5 bulan,” kata koordinator Perkumpulan Masyarakat Semarang (PMS) untuk Hak Asasi Manusia (HAM), Yunantyo Adi, salah satu pemrakarsa kegiatan tersebut kepada wartawan, Senin (1/6).

Dijelaskan Yunantyo, ada delapan orang yang telah diketahui identitasnya. Sedangkan jenazah lain kurang lebih sebanyak 24 orang belum diketahui identitasnya. ”Ini masih menjadi PR (pekerjaan rumah) kami untuk mengungkap identitas para korban,” ujar Yunantyo.

Pihaknya berharap adanya peresmian dengan pemberian batu nisan tersebut, tidak ada gunjingan dari masyarakat. Pihak keluarga korban bisa melakukan ziarah di makam tersebut tanpa sembunyi-sembunyi. Sebab, sebelumnya, pihak keluarga merasa malu untuk ziarah dan sekadar mendoakan jenazah. ”Saat ini, makam tersebut sudah diakui keberadaannya. Keluarga tak perlu lagi berziarah secara sembunyi-sembunyi,” imbuhnya.

Salah satu keluarga korban, Sri Murtini, 61, tak kuasa menahan tangis saat mengikuti prosesi pemberian batu nisan di makam tersebut. Ia adalah salah satu putri dari jenazah beridentitas Joesoef.

Sri Murtini mengaku tak bisa menghapus ingatan atas detik-detik tragedi kejam 1965 silam. Ayah tercintanya dibawa oleh sekelompok orang tak dikenal. Sempat pamit kepada istrinya, ’Anak e dijogo ya’ kata Joesoef di malam sebelum dibawa pergi oleh sekelompok orang tersebut. Joesoef hilang misterius tak kembali hingga detik ini.

”Saat itu, saya masih duduk di bangku SD.
Saya masih ingat betul saat ayah saya dibawa oleh sekelompok orang,” katanya sembari mata berkaca.

Dia baru mengetahui bahwa ayahnya terkubur di makam tersebut diberitahu oleh keluarga korban yang mengalami nasib sama. ”Baru belakangan mengetahui ayah saya dimakamkan di sini,” ujarnya.

Keluarga korban lain, Eko Sutekno menyampaikan rasa terima kasih kepada sejumlah aktivis HAM dan sejumlah pihak yang akhirnya meresmikan batu nisan tersebut. Dikatakannya, sebelumnya, pihak keluarga saat hendak ziarah ke makam tersebut harus sembunyi-sembunyi karena malu.

”Saat ini, kami selaku keluarga korban bisa ziarah ke makam sini dan tidak sembunyi-sembunyi lagi. Saya pribadi mengucapkan banyak terima kasih,” ujarnya.

Sedangkan Mbah Supar, 79, warga Kampung Dukuh warga RT 6 RW VII, Kelurahan Wonosari, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang, yang mengaku sempat memegang senter dalam proses pembantaian tersebut, mengatakan kejadian diperkirakan terjadi antara bulan November-Desember 1965.

Mbah Supar mengaku, saat itu dia hanya menyaksikan saja dan tidak paham apa maksud tujuan peristiwa sadis tersebut.

Dalam peresmian tersebut dihadiri berbagai elemen masyarakat seperti lurah, camat, kepolisian, hingga tokoh agama. Sedianya juga dihadiri Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi, namun orang nomor satu di Kota Semarang batal hadir karena ada acara ke Kota Blitar Jawa Timur. (amu/zal/ce1)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

- Advertisement -

Latest News

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat cerai. Hal itu disampaikan oleh...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu anak kiai, satu lagi anak...

Neo Mustaqbal

Sejarah dunia akan dibuat oleh Arab Saudi. Sejarah pertama: Aramco akan go public --dengan nilai yang belum ada duanya di dunia: Rp 28.000.000.000.000.000. Kedua: hasil IPO itu akan...

Rumah Kita

Kaget-kaget senang: Indonesia resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20. Tahun 2021. Sepak bola Indonesia diakui dunia. Prestasi Presiden Joko ”Jokowi” Widodo kelihatan nyata...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -