Napak Tilas di Kampung Halaman Soekarno

653
TEGAK LURUS: Ketua DPD PDIP Jateng Bambang Wuryanto berbincang dengan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri dan Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani di sela Peringatan Hari Lahir Pancasila di Blitar. (Miftahul A’la/Jawa Pos Radar Semarang)
TEGAK LURUS: Ketua DPD PDIP Jateng Bambang Wuryanto berbincang dengan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri dan Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani di sela Peringatan Hari Lahir Pancasila di Blitar. (Miftahul A’la/Jawa Pos Radar Semarang)

BLITAR – Pengurus DPD Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Jateng bersama 3.000 kadernya melakukan napak tilas proklamator Soekarno di kampung kelahirannya Blitar, Senin (1/6). Selain itu, mereka ikut melaksanakan Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila yang digelar di Alun-Alun Kota Blitar. Kader PDIP Jateng datang menggunakan 91 mobil, 31 bus serta 24 bus dari Wonogiri.

Seluruh kader dikumpulkan di rumah Soekarno di Istana Gebang Jalan Sultan Agung No 59 Blitar. Ribuan kader ini kemudian berjalan kaki menuju ke alun-alun Blitar untuk mengikuti upacara peringatan Hari Lahir Pancasila. Seluruh kader bisa kembali ke masa Bung Karno yang berada di garda depan untuk mendapatkan kemerdekaan. Di istana gebang, seluruh kader bisa melihat secara langsung prasasti serta semua peninggalan Bung Karno. Dari Istana Gebang, seluruh pengurus DPD PDIP Jateng melakukan ziarah ke makam Presiden RI pertama tersebut.

Bendahara DPD PDIP Jateng, Agustina Wilujeng mengatakan, napak tilas sebagai upaya untuk membumikan ajaran Bung Karno. Selain ziarah, kader Jateng mengikuti upacara Bulan Bung Karno yang digelar di alun-alun Kota Blitar. ”Ini sebagai salah satu upaya untuk membangkitkan spirit dan semangat Bung Karno tetap terjaga dan ada dalam diri kader PDIP Jateng,” katanya, kemarin.

Ia meminta agar seluruh kader bisa tegak lurus dan gerak langkah keputusan tidak jauh berbeda dari Bung Karno. Sebagai sosok pemimpin, Bung Karno telah mengimplementasikan dan mengakomodir seluruh kepentingan rakyat Indonesia. ”Kami ingin kader bisa menjunjung tinggi dan mengikuti gerak keputusan Bung Karno yang berbasis rakyat,” tambahnya.

Wakil Ketua Bidang Infrastruktur DPD PDIP Jateng, Samirun mengatakan, sebagai basis PDIP, Jateng memang perlu untuk napak tilas di makam Bung Karno. Dengan begitu, ideologi Soekarno tetap terjaga baik dalam diri generasi muda atau generasi tua. ”Jateng basis PDIP, jadi harus paham betul dan mengimplementasikan ideologi Soekarno,” katanya.

Dalam kesempatan itu, dilakukan juga pelantikan 200 kader Komunitas Juang dari Kabupaten Banyumas. Pelantikan ini melengkapi anggota Komunitas Juang menjadi 600 anggota. Mereka yang dilantik merupakan pemuda di bawah 25 tahun dan diproyeksikan untuk menjaga ideologi Bung Karno. ”Setelah dilantik, mereka bakal mendapatkan sekolah berwawasan kebangsaan. Jadi ini upaya untuk menancapkan ideologi Bung Karno sejak dini,” tambah Wakil Sekretaris DPD PDIP Jateng, Ahmad Ridwan.

Upacara Hari Lahir Pancasila dihadiri Presiden RI Joko Widodo; Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri; cucu Bung Karno, Puan Maharani; Ketua MPR Zulkifli Hasan, Mantan Wapres Boediono dan sejumlah tokoh lainnya. Dalam sambutannya, Presiden Jokowi mengaku terkesan dengan Presiden RI Pertama Soekarno. Ia mengaku selalu bergetar ketika berkunjung ke kampung halaman Bung Karno. ”Saya selalu teringat pidato Bung Karno 1 Juni 1945. Di depan BPUPKI beliau menyatan Pancasila, itu yang membuat saya terus berkobar-kobar dalam dada saya,” katanya.

Jokowi sangat bangga, bagaimana Bung Karno berjuang untuk memerdekakan NKRI. Ia menilai, semua membutuhkan perjuangan besar, termasuk nyawa taruhannya. Dan terbukti, perjuangan Bung Karno membuahkan hasil yang sampai saat ini bisa dinikmati semua rakyat Indonesia. ”Untuk itu tugas kita harus memperjuangkan apa yang sudah diwariskan founding father. Bersatu menuju Indonesia lebih baik,” tambahnya.

Cucu Presiden Soekarno, Puan Maharani berharap agar hari lahirnya Pancasila 1 Juni dijadikan hari besar nasional. Sebagai falsafah bangsa, Pancasila harus benar-benar diimplementasikan di tengah kehidupan bermasyarakat. Semua elemen tanpa terkecuali harus benar-benar mengakui Pancasila sebagai ideologi bangsa. ”Kita punya kewajiban moral dan ideologis untuk benar-benar membawa Pancasila dalam kehidupan. Ini untuk membangun bangsa ke depan,” kata Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan tersebut. (fth/ric/ce1)