Awalnya Koperasi Beras, Kini Produksi Kerupuk dan Abon Ikan

Must Read

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu...

KREATIF: Masnuah saat diundang di acara diskusi di Semarang beberapa waktu lalu. (AJIE MAHENDRA BUSTAMAN/JAWA POS RADAR SEMARANG)
KREATIF: Masnuah saat diundang di acara diskusi di Semarang beberapa waktu lalu. (AJIE MAHENDRA BUSTAMAN/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Masnuah termasuk istri nelayan yang kreatif. Ia mampu menggerakkan istri-istri nelayan lainnya mendirikan koperasi beras dengaan bendera Puspita Bahari. Bahkan, kini koperasi tersebut berkembang pesat dengan memproduksi kerupuk, abon, dan keripik dari ikan. Seperti apa?

AJIE MAHENDRA BUSTAMAN

SUDAH bukan rahasia lagi jika kehidupan di kampung nelayan jauh dari sebutan mewah. Apalagi ketika terbentur musim sepi tangkapan yang selalu terjadi hampir 6 bulan setiap tahun. Melihat penghasilan yang tidak menentu, Masnuah, salah seorang istri dari nelayan di Bonang, Demak, memilih ubet untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga. Dengan menggandeng istri-istri nelayan, ia membuka koperasi beras Puspita Bahari. Koperasi tersebut didirikan pada akhir Desember 2005. Tujuannya, untuk meningkatkan kesejahteraan para nelayan.

Masnuah mengaku, merintis koperasi tersebut dengan modal awal Rp 1 juta. Uang tersebut hasil patungan para anggota. Selanjutnya uang itu dipakai untuk kulakan beras. ”Karena mampunya cuma segitu. Karena atas nama koperasi dan mementingkan kekeluargaan, kami jualan beras hanya mengambil keuntungan Rp 200 per kilonya. Sekarang, setahun bisa mendapatkan untung sekitar Rp 2 juta,” paparnya kepada Jawa Pos Radar Semarang, beberapa waktu lalu.

Dia bercerita, keuangan koperasi sempat kocar-kacir di pertengahan 2006. Waktu itu, kondisi nelayan sedang kesulitan tangkapan ikan. Musim paceklik itu membuat sebagian besar nelayan mengalami kredit macet.

Tak mau rugi, Masnuah kembali memutar otak. Dia mencari solusi bagaimana caranya agar mereka bisa membayar utang-utang beras tanpa penekanan. Akhirnya, mulai 2007, Masnuah mencari pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang bersedia memberikan pelatihan agar ibu-ibu nelayan di kampungnya mendapat penghasilan tambahan. Pelatihan yang berlanjut selama dua tahun itu terhitung sukses. Buktinya, warga di kampung nelayan itu sudah ahli membuat getuk lindri, es krim, mi basah, dan tepung ikan.

”Memang kesuksesan itu sulit diraih. Produk makanan buatan para istri nelayan tidak laku dijual lantaran harganya dirasa mahal. Mereka lebih memilih yang harganya murah, tapi isinya banyak. Makanan higienis bukan pilihan warga,” tuturnya.

Masnuah pun kembali mencari ide segar. Dia ingin menciptakan produk dengan bahan dasar yang mudah didapat untuk memangkas ongkos produksi agar harga jualnya murah. Pemikiran itu melahirkan kerupuk, abon, dan keripik dari ikan

Kerupuk tersebut mampu menjebol pasar hingga di beberapa kantor pemerintahan, toko-toko, sampai warung-warung. Produksi Puspita Bahari itu juga dipasarkan ke Semarang. ”Sayang, produksi itu lagi-lagi terhambat karena jika sepi tangkapan, produk ini akan mengalami kesulitan bahan baku,” ucapnya.

Tak berhenti pada usaha pengolahan ikan, Puspita Bahari terjun mengelola sampah, memisahkan sampah organik dan non-organik, untuk mengurangi kekumuhan desa nelayan.

Kegigihan Masnuah menggiring Puspita Bahari mendapat penghargaan Kusala Swadaya pada Oktober 2011 sebagai kelompok perempuan nelayan yang berhasil mengatasi kekumuhan di perkampungan nelayan.

Kini, dia dipilih sebagai Sekjen dan Koordinator Persaudaraan Perempuan Nelayan Indonesia (PPNI) Jateng yang membawahi 14 kota dan 9 provinsi. ”Dari PPNI, saya jadi tahu, sebenarnya banyak kebijakan dan informasi-informasi penting dari pemerintah yang tidak sampai di telinga nelayan kecil. Entah apa penyebabnya, yang pasti itu merugikan para nelayan di kampung,” tutupnya. (*/aro/ce1)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

- Advertisement -

Latest News

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat cerai. Hal itu disampaikan oleh...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu anak kiai, satu lagi anak...

Neo Mustaqbal

Sejarah dunia akan dibuat oleh Arab Saudi. Sejarah pertama: Aramco akan go public --dengan nilai yang belum ada duanya di dunia: Rp 28.000.000.000.000.000. Kedua: hasil IPO itu akan...

Rumah Kita

Kaget-kaget senang: Indonesia resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20. Tahun 2021. Sepak bola Indonesia diakui dunia. Prestasi Presiden Joko ”Jokowi” Widodo kelihatan nyata...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -