Desak Selesaikan Fasum dan Fasos

449
SUSAH: Jalan Tol Ungaran Bawen, sudah beroperasi. Tapi warga Desa Kandangan, Bawen kesulitan mengakses lahannya karena jalan desanya tergusur tol. (PRISTYONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
SUSAH: Jalan Tol Ungaran Bawen, sudah beroperasi. Tapi warga Desa Kandangan, Bawen kesulitan mengakses lahannya karena jalan desanya tergusur tol. (PRISTYONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
SUSAH: Jalan Tol Ungaran Bawen, sudah beroperasi. Tapi warga Desa Kandangan, Bawen kesulitan mengakses lahannya karena jalan desanya tergusur tol. (PRISTYONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

BAWEN – Sejumlah ruas jalan tol Bawen-Solo sudah mulai dioperasikan. Meski begitu, ini proses penggantian fasilitas umum (Fasum) dan fasilitas social (Fasos) yang tergusur proyek jalan tol Semarang-Solo, sesi II Ungaran-Bawen masih belum juga beres. Warga Desa Kandangan, Kecamatan Bawen, Kabupaten Semarang mendesak agar realisasi penggantian jalan desa di Dusun Geneng sampai Simpang Susun Tol Kandangan, sepanjang 500 meter dengan lebar 3 meter segera diselesaikan. Selain itu mereka meminta Transmarga Jateng (TMJ) segera menyelesaikan fasos di SDN 02, 04 Kandangan serta meminta agar jembatan Geneng dilangsamkan, agar tidak sering terjadi kecelakaan lalulintas.

“Kami tidak meminta ganti uang, tapi ganti jalan sepanjang 500 meter, lebar 3 meter di Dusun Geneng sampai Simpang Susun. Hingga saat ini belum terealisasi, padahal dalam forum musyawarah mereka menyanggupi mengganti jalan. Terakhir kami menanyakan masalah itu, November 2014 pada TMJ,” kata Kepala Desa Kandangan, Kecamatan Bawen, Paryanto, kemarin.

Sebelumnya warga Kalirejo, Ungaran akan mengajukan gugatan class action karena proses penggantian fasum dan fasos tidak kunjung beres. Paryanto menambahkan, sampai saat ini warga kesulitan untuk beraktifitas, sebab tidak ada jalan penghubung. Padahal di kanan dan kiri jalan tol masih ada ratusan hektar lahan milik warga. “Warga akhirnya merasa dirugikan, ini sudah bertahun-tahun,” imbuhnya.

Paryanto menjelaskan, akibat tidak ada jalan warga kerepotan saat akan mengangkut hasil panen. Misalnya ada warga yang mau muat kayu atau material apapun menggunakan mobil, maka harus dilangsir sampai pinggiran tol. Kemudian mobil atau truk masuk lewat tol Bawen untuk ambil material itu. “Paling susah itu warga pemilik lahan di kanan dan kiri tol, masih ada ratusan hektar di sana. Untuk beraktifitas terpaksa harus nerabas lewat pinggiran tol,” tambahnya.

Selain jalan desa, warga juga meminta agar jembatan geneng dibuat langsam. Sebab kondisi saat ini sangat curam, sehingga banyak truk angkutan berat terguling. Pun dengan dua SDN Kandangan 02 dan 04 yang sampai saat ini belum beres. Paryanto meminta pihak terkait segera menyelesaikan fasos dan fasum tersebut. “Kita sudah mengajukan secara tertulis pada mereka dan mereka juga sepakat waktu di forum itu ada juga pejabat TMJ dan Pak Sekda termasuk TPT. Katanya akan direalisasikan secepatnya. Informasi terakhir mereka masih menunggu selesainya pembebasan lahan perkuatan di kanan dan kiri tol seluas 9,8 hektar. Kami harap secepatnya bisa direalisasikan,” tambahnya.

Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo saat dikonfirmasi terkait belum beresnya fasum dan fasos mengatakan pihaknya sudah membahas masalah itu dan mana saja yang harus segera diselesaikan. Ganjar berjanji bila ada laporan masuk dari warga kepadanya saat itu juga akan memerintahkan untuk segera menyelesaikan masalah fasos dan fasum tersebut. “Sebenarnya itu tidak sulit, tinggal dilihat dari sisi perjanjian bagaimana, lalu tinggal didorong. Apalagi di sini ada petugasnya kan, diurus tidak? Mbok disuruh ngomong karo aku. Kalau sekarang ada (data fasum dan fasos yang belum beres) diberikan saya, besok pagi saya berikan (TMJ) untuk menyelesaikan,” katanya. (tyo/fth)