Puluhan Hektar Lahan Terancam Kekeringan

353
AMBROL : Seorang warga desa Dadapayam sedang meninjau lokasi irigasi darurat di Desa Dadapayam. (MUNIR ABDILLAH/JAWA POS RADAR SEMARANG)
AMBROL : Seorang warga desa Dadapayam sedang meninjau lokasi irigasi darurat di Desa Dadapayam. (MUNIR ABDILLAH/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SURUH – Hujan deras yang terjadi beberapa minggu lalu membuat sejumlah irigasi di desa Dadapayam mengalami ambrol. Akibatnya irigasi yang mengaliri puluhan hektar sempat terputus. Sampai saat ini, perangkat desa bersama masyarakat melakukan telah melakukan kerja bakti dengan memasang tong yang disambung untuk mengalirkan air.

Pantauan Radar Semarang lokasi ambrolnya irigasi berjarah sekitar 3 kilometer dari pemukiman warga. Untuk sampai di lokasi hanya bisa dilakukan dengan berjalan kaki karena banyaknya jalan setapak yang mulai ambrol di kanan-kiri jalan. Selain itu kontur jalan yang berbatu dan juga curam. Irigasi selebar 2 meter tersebut merupakan satu-satunya irigasi yang mengairi pertanian di desa Dadapayam.

Selain itu, berdasarkan penuturan tokoh masyarakat, pengaturan dan pembagian air irigasi di desa Dapayam merupakan buatan pemerintah belanda tatkala menjajah Indonesia. Tanah yang berkapur membuat bangunan daerah sekitar sering mengalami kerusakan. Selain itu tanah mudah tergerus air.

Seorang warga desa Dadapayam, Supriyatno, 45,mengatakan, kerusakan irigasi akibat hujan deras disertai angin. Irigasi yang berada di tebing curam meluap, akhirnya ikut ambrol seiring dengan kikisan tanah yang jatuh dari atas. Tidak hanya itu, beberapa jalan setapak yang menghubungkan pemukiman warga dengan bendungan Dresi juga banyak yang longsor.

“Akses jalan masuk yang sulit. Sehingga perbaikan irigasi masih seadanya. Dan dimungkinkan hanya kuat beberapa tahun. Karena penyangga tong penghubung hanya berupa bambu. Tapi jika sifatnya sementara tidak apap-apa. Tapi kalau permanen jelas tidak baguus,” katanya, kemarin.

Hal senada diungkapkan Muhadi, 57, warga Dadapayam. Ia mengatakan, jalan setapak yang longsong sering digunakan warga Kecamatan Pabelan yang berbatasan langsung dengan Desa Dadapayam untuk menjual hasil bumi di Pasar Dadapayam. Pembangunan jembatan penghubung Kecamatan Pabelan dengan Kecamatan Suruh-pun sudah mulai retak karena terkena batu ketika banjir. “Kami berharap segera ada perbaikan dari pihak yang berwenang. Agar fasilitas masyarakat di daerah pinggiran lebih baik. Juga Dadapayam yang sudah kekurangan air. Tidak diperparah dengan aliran sungai yang rusak,” katanya. (abd/fth)