Sempat Berjaya di Era Irfan Bachdim dan Gonzales

371
GIAT BERLATIH : Anak-anak belaan tahun masih giat berlatih sepak bola kendati tidak lagi memiliki idola sepak bola di dalam negeri. (LUTFI HANAFI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
GIAT BERLATIH : Anak-anak belaan tahun masih giat berlatih sepak bola kendati tidak lagi memiliki idola sepak bola di dalam negeri. (LUTFI HANAFI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Pembekuan otoritas tertinggi sepakbola di Indonesia, PSSI pada bulan April 2015 lalu berdampak luas. Salah satunya SSB Putra Mandiri yang dulu siswa di sekolah tersebut bisa sampai 200 anak, kini tinggal 75 anak yang terdaftar.

Lutfi Hanafi, Pekalongan

MENJELANG senja, tampak puluhan siswa SSB Putra Mandiri giat berlatih di Lapangan Mataram kompleks Pemkot Pekalongan. Hanya ada 75 siswa yang terbagi dalam usia anak U 12 dan U 10 dan U 15 dan U 17 berlatih terpisah.

Walaupun di negeri ini tidak ada kompetisi resmi untuk menyalurkan bakat mereka, namun puluhan anak ini masih bersemangat mengikuti instruksi dari pelatih. Beberapa gerakan pemanasan dan diakhiri dengan latihan passing bola beregu dilakukan dengan sungguh-sungguh. Bahkan, anak-anak tersebut langsung dilatih tanding dalam dua regu.

“Kini perkembangan sepakbola memang kurang bagus, karena anak-anak tidak lagi memiliki hero atau pahlawan dalam sepakbola,” kata ucap pelatih SSB Putra Mandiri, Cak Udi, 41, kepada Jawa Pos Radar Semarang di sela latihan di Lapangan Mataram, Kota Pekalongan.

Yang dimaksud hero atau pahlawan, menurut pelatih berlisensi nasional ini, adalah seorang pemain bola yang diidolakan banyak orang dan menjadi tauladan.

SSB Putra Mandiri ini didirikan sejak tahun 2006 lalu. Dulu berlatih di Lapangan Sorogenen sebelum dialihfungsikan menjadi Taman Kota. Jumlah siswa terbanyak, saat digelar piala AFF. Kala itu sepakbola sangar booming di Pekalongan, karena ada pemain seperti Irfan Bachdim dan Gonzales.

Diakui Udi, saat melihat penampilan pemain bola seperti Irfan Bachdim yang fenomenal, menjadi alasan anak-anak rela ikut belatih di SSB demi mengejar mimpi menjadi pemain bola. Hingga siswanya melonjak drastis sampai 200 siswa. Padahal selama ini, tidak sampai menyentuh angka 100 siswa.

Sayangnya, sejak PSSI banyak masalah seperti dualisme dan sekarang dibekukan oleh FIFA, mutu kompetisi di Indonesia juga tidak semakin baik. Sehingga anak-anak dan para orang tua, memandang sepakbola tidak lagi bisa menjadi harapan.

“Kalau kompetis di Indonesia bagus, Timnas juga bagus. Saya yakin, sepakbola akan kembali popular lagi. Banyak anak-anak yang mau berlatih bola lagi,” keluhnya.

Saat sedang seru melihat anak-anak berlatih, salah satu pelatih ternyata Sugiyat, 34, pemain belakang Persip Pekalongan yang seharusnya berlaga di Divisi Utama Liga Indonesia. “Saya memang ikut melatih disini. Selain tidak ada kompetisi, bisa menjaga fisik lebih prima,” ucap warga Bandengan Pekalongan Utara ini.

Pemain belakang yang sudah bergabung dengan Persip sejak tahun 2005 ini menambahkan, dirinya kini banyak menganggur sejak kompetisi resmi dibubarkan oleh Kemenpora. Dirinya kini, selain ikut membantu melatih bola, juga membuka layanan PPOB online. “Kalau sore hari tidak ada latihan, saya buka toko layanan pembayaran online. Daripada menganggur tidak jelas, jualan juga lumayan hasilnya. Kompetisi juga tidak jelas kapan akan dimulai lagi,” tandasnya. (*/ida)