Pedagang Johar Diperas

Must Read

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu...

PURWODINATAN – Derita para pedagang Pasar Johar tak kunjung berkurang. Setelah seluruh dagangan ludes terbakar, kini mereka dibuat resah oleh praktik pemerasan yang dilakukan sejumlah oknum. Para pedagang yang menempati lapak darurat mengaku ditarik pungutan antara Rp 2 ribu-Rp 3 ribu per hari. Alasannya, untuk uang listrik dan keamanan.

Penarikan tersebut tetap dilakukan meski para pedagang libur berjualan. Karena itu, para pedagang mendesak Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang membentuk tim untuk melakukan investigasi adanya penarikan pungutan tersebut.

”Persoalan ini harus diusut tuntas. Kalau tidak segera diusut, persoalan ini akan semakin panjang. Pedagang diperas per hari bayar Rp 2 ribu-Rp 3 ribu untuk bayar listrik, bayar kemanan. Ini apa-apaan. Barang pedagang sudah habis, malah sekarang diperas,” ujar kesal Pengurus Aliansi Masyarakat dan Pedagang Pasar Johar, Mudasir, kepada Jawa Pos Radar Semarang, Rabu (3/6) kemarin.

Dia mengatakan, selain adanya pungutan, lapak di lokasi penampungan disinyalir banyak diperjualbelikan oleh oknum. Harga lapak berkisar antara Rp 3,5 juta per 1,5 m2.

”Tinggal dikalikan berapa jumlah lapak yang dijual. Maka kami mendorong pemkot membentuk tim investigasi agar kejadian serupa tidak terulang lagi. Pemkot harus tanggap, dan tidak memberi peluang ke oknum yang tidak bertanghung jawab. Harus ada investigasi dan evaluasi,” tegasnya.

Pedagang lainnya, Zaenal, mengaku juga keberatan dengan adanya iuran sebesar Rp 2.500 per hari untuk biaya jaga malam. Keberatan tersebut bahkan sudah disampaikan langsung ke Asisten Administrasi Perekonomian Pembangunan dan Kesejahteraan Setda Kota Semarang, Ayu Entys.

”Bu Ayu menjanjikan akan membantu, kami diminta membuat proposal. Mudah-mudahan tidak hanya uang jaga malam, tapi biaya membangun lapak juga akan diganti,” harapnya.

Koordinator Kelompok Pedagang Johar Yaik Permai, Budianto, menilai, penempatan lapak sementara para pedagang Pasar Johar belum maksimal. Sebab, masih banyak fasilitas yang belum terpenuhi. Seperti aliran listrik, keamanan, dan sempitnya lapak untuk berjualan. Selain itu, banyak pedagang yang belum mendapat lapak di lokasi Jalan KH Agus Salim.

”Kami sampai sekarang juga belum mendapatkan bantuan. Kami berharap dewan segera mengupayakan pedagang mendapatkan bantuan. Agar bisa membangun lapak-lapaknya kembali. Sebab, lapak yang berdiri itu adalah hasil usaha dari swadaya pedagang,” harapnya.

Pedagang lainnya di Jalan KH Agus Salim yang keberatan ditulis namanya mengaku, hingga kemarin ia belum berjualan lantaran bingung menyimpan barang dagangan. ”Kalau dagangan dibawa pulang, saya sudah tua. Tidak punya tenaga lagi. Kalau ditinggal, siapa yang menjamin keamanannya,” keluh pedagang pakaian yang dulu menempati los di Johar Utara ini.

Para pedagang di lapak darurat itu, kata dia, rencananya mau membuat peti (grobok) tempat menyimpan dagangan. Namun sejumlah pedagang masih ragu.

”Kemarin memang sudah diumumkan setiap pedagang diminta membayar Rp 2.500 per hari sebagai biaya jaga. Pungutan itu ditarik kepada semua pedagang sekalipun dalam sebulan tidak full jualan. Pokoknya, jualan tidak jualan tetap ditarik Rp 2.500 per hari,” katanya.

Ia sendiri kini memilih berjualan di rumah. Karena di lapak darurat hingga kini masih sepi pembeli, terutama di lapak yang lokasinya jauh dari Pasar Johar. ”Teman-teman pada mengeluh sepi pembeli. Bahkan ada yang baru bukak dasar jam tiga sore (15.00). Malahan ada yang sehari hanya pulang membawa uang Rp 25 ribu,” ujarnya.

Terpisah, Ketua Komisi B DPRD Kota Semarang, Mualim, mengatakan, pihaknya akan menelusuri terlebih dahulu terkait adanya keluhan pedagang tersebut.

”Kami akan telusuri terlebih dahulu, apakah benar atau tidak adanya pungutan dan jual beli lapak tersebut. Kami juga mendapat aduan adanya pedagang Pasar Johar yang tertimpa musibah kebakaran, namun belum mendapat lapak darurat,” katanya. (mha/aro/ce1)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

- Advertisement -

Latest News

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat cerai. Hal itu disampaikan oleh...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu anak kiai, satu lagi anak...

Neo Mustaqbal

Sejarah dunia akan dibuat oleh Arab Saudi. Sejarah pertama: Aramco akan go public --dengan nilai yang belum ada duanya di dunia: Rp 28.000.000.000.000.000. Kedua: hasil IPO itu akan...

Rumah Kita

Kaget-kaget senang: Indonesia resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20. Tahun 2021. Sepak bola Indonesia diakui dunia. Prestasi Presiden Joko ”Jokowi” Widodo kelihatan nyata...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -