Saksi Anggap Sopir Sang Engon Tak Ugal-ugalan

343

KRAPYAK – Sidang atas kasus kecelakaan lalu lintas rombongan pengajian bus PO Sang Engon B-7222-KGA di jalan lingkar Jangli, tol Jatingaleh, kembali berlangsung dengan terdakwa sopir bus Sang Engon, Muhammad Husein, 56, di Pengadilan Negeri (PN) Semarang, Rabu (3/6). Dengan agenda keterangan tiga saksi korban selamat, di antaranya Pardan, 45, Hadi Utomo, 60, dan Usman, 40.

Dalam persidangan terdakwa terlihat masih sakit, kakinya masih dipapah menggunakan alat bantu tongkat penyangga atau teken. Terdakwa juga terus merunduk dan sesekali berdiskusi dengan penasihat hukumnya.

Oleh jaksa penuntut umum (JPU) dari Kejaksaan Negeri Semarang Yosy menjerat Husein dengan pasal 4, pasal 3, dan pasal 2 Undang-Undang Nomor 22/ 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

Saksi, Pardan dalam kesaksiannya menyebutkan, kecelakaan di tol Jatingaleh ini terjadi Jumat (20/2) pukul 13.00. Sopir dinilainya tidak ugal-ugalan, ia pun merasa nyaman saat terdakwa mengemudikan bus Sang Engon. ”Kecepatannya saya tidak tahu, bus tiba-tiba oleng,” ungkapnya.

Atas kecelakaan itu, Pardan juga mengaku mendapatkan santunan dari Jasa Raharja Rp 10 juta serta dari Pemkab Bojonegoro. Pardan juga mengaku masih merasa sakit akibat kecelakaan bus tersebut. ”Tiga tulang rusuk saya patah, tangan kiri juga,” kata Pardan di hadapan majelis hakim yang diketuai, Sigit Hariyanto.

Adapun penumpang bus yang kecelakaan, lanjut Pardan sekitar 60 orang. Saat kecelakaan, rombongan penumpang dari Bojonegoro ini hendak pulang ke rumah, setelah sebelumnya mengikuti pengajian rutin Habib Muhammad Luthfi bin Yahya di Pekalongan.

Sementara, saksi Hadi Utomo yang duduk di bagian tengah mengatakan kehilangan istri tercintanya dalam kecelakaan tragis tersebut. Saat itu, sang istri duduk di depannya, langsung meninggal dunia seketika. ”Busnya sempat pindah jalur, sempat meloncat hingga akhirnya posisinya miring,” katanya.

Saksi Usman menyatakan, sesaat setelah kecelakaan langsung pingsan. ”Banyak yang meninggal dunia, termasuk kernet dan koordinator rombongan pengajian,” tandasnya. Satu saksi lain yang dihadirkan ialah pemilik bus Sang Engon, Dasuki, 56.
Menurut Dasuki, bus yang dikemudikan terdakwa ini kondisinya baru. Pemakaiannya baru tiga kali, yakni di Malang, Jogjakarta, dan ketiga di Pekalongan.

Seperti diketahui, kecelakaan maut menimpa rombongan pengajian asal Bojonegoro yang menumpangi bus Sang Engon bernopol B7222KGA di tol Lingkar Jangli, Kota Semarang, Jumat (20/02). Akibat kecelakaan itu, 18 penumpang dinyatakan tewas dan 57 lainnya mengalami luka-luka. (bj/zal/ce1)