Ajak Remaja Dalami Filosofi Seni

424
MENARIK: Salah seorang pengunjung tengah melihat hasil karya seni yang dipamerkan di Sobokartti, selama dua hari, hingga hari ini. (AJIE MH/RADAR SEMARANG)
MENARIK: Salah seorang pengunjung tengah melihat hasil karya seni yang dipamerkan di Sobokartti, selama dua hari, hingga hari ini. (AJIE MH/RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Sebagai bentuk pengabdian demi eksistensi seni dan budaya para mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi (Ilkom) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Diponegoro (Undip) menyulap areal Sobokartti menjadi semacam kampung seni, Jumat-Sabtu (5-6/6). Gelaran bertajuk Sangkar Seni ini menyuguhkan aneka seni budaya Jawa seperti pertunjukan gamelan, membuat wayang, galeri foto dan kain batik, serta masih banyak lagi.

Di hari pertama kemarin, digelar Rembug Sobokartti dengan tema Eksistensi Budaya Klasik Jawa di Mata Anak Muda. Kemasan diskusi ini membahas mengenai sepak terjang budaya dan seni Jawa yang mulai ditinggalkan remaja. Salah satu pembicara yang mewakili budayawan Cahyono menuturkan, pembelajaran seni tidak bisa dipaksakan. Semua tergantung dari minat dan passion seseorang.

”Cara mendalaminya pun beda-beda. Begitu pula dengan selera. Ada yang suka wayang, gamelan, melukis, dan lain sebagainya. Tapi apa pun itu, remaja sebagai generasi penerus harus menjaga budaya Jawa agar tetap moncer di kemudian hari,” ungkap pria yang juga Ketua Sobokartti itu.

Sementara itu, Manajer Komunikasi Sangkar Seni Kamilah Adawiyah menambahkan, rangkaian acara ini merupakan salah satu wujud nguri-uri budaya Jawa. Dia mengaku sengaja menggandeng beberapa komunitas seni seperti Lopen, Orart Oret, Oase, dan Explore Semarang.

”Masing-masing komunitas memamerkan karya mereka di dalam galeri yang telah kami sediakan. Di dalam galeri itu juga diisi pertunjukan dolanan gamelan. Konsepnya semacam manggung spontanitas. Para yoga (pemain gamelan, Red) memang belum ahli. Karena itu harus didampingi seniman Sobokartti untuk meluruskan jika ada yang salah,” ucapnya.

Di hari kedua (hari ini, Red), empat seniman dari Sobokartti akan mengajari pengunjung untuk membuat wayang Punakawan. Digelar juga Gelebyar Lokapala yang menyuguhkan pertunjukan wayang Siluet yang diiringi gamelan, serta pertunjukan dari Teater Kotak, Suara Nusantara, dan Sobokartti’s Dancer & Karawitan.

Sebagai penutupan, akan diterbangkan 50 lampion sebagai simbol pelepasan harapan. ”Kami berharap, para remaja bisa menghargai budaya Jawa, syukur-syukur bisa melestarikannya. Yang penting kenal dulu sehingga tidak lupa dengan asal usulnya,” harap Kamilah. (amh/zal/ce1)