Gelar Diskusi, Senam Sehat, hingga Wisata Lansia

547

boks inzetWEB

JAGA KESEHATAN: Para lansia saat mengikuti senam sehat di kantor Dinas Sosial Jawa Tengah kemarin. Inzet: Ahmad Darodji. (AHMAD FAISHOL/JAWA POS RADAR SEMARANG)
JAGA KESEHATAN: Para lansia saat mengikuti senam sehat di kantor Dinas Sosial Jawa Tengah kemarin. Inzet: Ahmad Darodji. (AHMAD FAISHOL/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Bagi sebagian orang, para orang tua lanjut usia (lansia) masih dianggap sebagai sosok yang menjadi beban. Padahal peran mereka begitu sentral dan masih sangat dibutuhkan dalam pembangunan. Seperti apa?

AHMAD FAISHOL

AKU harus sehat, meski tua tetap sehat. Selalu senyum tiap hari, agar wajah berseri-seri. Sehat, kuat, gembira, yes!

Begitulah yel-yel yang selalu didendangkan oleh para lansia dalam kegiatan jalan sehat dan senam sehat dalam rangka memperingati Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN) ke-19 yang diselenggarakan Komisi Daerah Lanjut Usia (Komda Lansia) Jawa Tengah bekerja sama dengan Dinas Sosial Jawa Tengah, Jumat (5/6) pagi.

Ratusan para lansia dari berbagai kelompok lansia yang ada di Jateng berkumpul bersama di kantor Dinas Sosial Jateng Jalan Pahlawan Semarang. Meski dibilang tua, secara fisik mereka tidak mau kalah dengan anak muda. Terbukti, mereka dengan lincah mengikuti gerakan instruktur senam tanpa kenal lelah.

”Lansia itu harus sehat. Kalau bisa hindari berobat. Kuncinya adalah selalu bahagia,” ungkap Abdul Syukur, 65, salah satu lansia asal Kota Semarang yang ikut menyemarakkan acara tersebut.

Selain mengikuti kegiatan tahunan, lanjut Syukur, pihaknya juga aktif menyelenggarakan kegiatan rutin mingguan dan juga bulanan untuk para lansia khususnya yang ada di Kota Semarang.

”Setiap hari Minggu dan Rabu pagi, kami selalu mengadakan olahraga bersama di Museum Mandala Bhakti Semarang. Selain itu, beberapa kali juga menggelar wisata lansia ke sejumlah tempat yang ada di Jawa Tengah,” ujar pria yang juga menjadi Ketua Persatuan Gerak Jalan (PGJ) Lansia Pandanaran Semarang itu.

Syukur menjelaskan, acara seperti ini sangat relevan khususnya dalam rangka memperingati HLUN yang digelar setiap tahun. Melalai acara tersebut, keberadaan para lansia akan tetap diperhatikan.

”Kami tidak terlalu muluk-muluk berharap banyak kepada pemerintah. Diperhatikan saja itu sudah bagus. Yang penting kami selalu sehat baik jasmani maupun rohani,” ucapnya.

Hal tersebut dibenarkan oleh salah satu panitia acara, Ahmad Darodji. Menurutnya, saat ini lansia bukanlah masyarakat yang lemah. Banyak dari mereka yang masih segar bugar. Bahkan secara fisik maupun pikiran masih mampu dimanfaatkan. Menurut Undang-Undang Nomor 13 tahun 1998, kata dia, siapa pun dikatakan lansia setelah usia 60 tahun.

”Dari sekitar 34 juta penduduk Jateng, 8,3 persen merupakan lansia. Dari jumlah lansia itu, 90 persen masih potensial. Sementara 10 persen tidak potensial atau telantar,” beber pria yang juga menjabat sebagai anggota Komisi Daerah Lanjut Usia (Komda Lansia) Jawa Tengah Pokja II Pemberdayaan dan Peran Serta Lanjut Usia Dalam Pembangunan itu.

Darodji menambahkan, acara jalan sehat dan senam bareng lansia ini merupakan acara puncak dari seluruh rangkaian acara yang dilaksanakan Komda Lansia Jawa Tengah dalam rangka memperingati HLUN. Sebelumnya, kata dia, telah digelar kegiatan wisata lansia, diskusi interaktif seputar lansia, dan juga seminar tentang inteligensia.

”Alhamdulillah semua berjalan lancar. Ini juga berkat dukungan dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Apalagi Wakil Gubernur (Heru Sudjatmoko) juga selaku Ketua Komda Lansia Jateng,” katanya.

Melalui peringatan ini, Darodji ingin menyampaikan pesan bahwa lansia bukanlah beban sebagaimana dianggap oleh anak-anak muda zaman sekarang. Akan tetapi, lansia adalah aset pembangunan karena melalui ilmu kearifan yang didapatkan dari pengalaman dapat ditularkan kepada generasi muda penerus bangsa. Hal ini juga sekaligus mengulang Peringatan Hari Lansia kali pertama yang digelar di Semarang pada 1996 yang kala itu dihadiri mantan Presiden Soeharto.

”Para lansia itu banyak dari kalangan guru, dosen, bupati, gubernur, dan berbagai profesi lainnya. Jika mereka dapat diberdayakan, tentu negara kita ini menjadi negara yang luar biasa,” pria yang juga menjabat sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Tengah ini.

Karenanya, lanjut Darodji, menjadi lansia juga harus dipersiapkan. Agar mereka tidak menganggur pascalepas dari profesinya, mereka harus diarahkan sebagaimana mestinya. Misalnya, para PNS yang akan pensiun seharusnya dibekali dengan keterampilan sesuai dengan minatnya. Sehingga mereka tetap dapat terus berkarya.

”Misalnya ada yang mau jadi pedagang, petani, dan lain sebagainya. Kalau boleh mereka juga diberikan stimulan untuk mengembangkan usahanya,” harapnya. (*/aro/ce1)