Semarang Prospektif Bisnis Properti

308
BANTU PENJUALAN: Tiap kali berlangsung pameran perumahan REI EXPO, target penjualan selalu tercapai. (NURCHAMIM/RADAR SEMARANG)
BANTU PENJUALAN: Tiap kali berlangsung pameran perumahan REI EXPO, target penjualan selalu tercapai. (NURCHAMIM/RADAR SEMARANG)
BANTU PENJUALAN: Tiap kali berlangsung pameran perumahan REI EXPO, target penjualan selalu tercapai. (NURCHAMIM/RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Potensi bisnis properti di Kota Semarang kian diminati, terutama untuk pemukiman menengah atas. Terbukti setiap kali DPD REI Jateng menggelar pameran selalu mencapai target penjualan.

”Ada hal yang membuat orang ingin tinggal di Kota Semarang, seperti banyaknya fasilitas pendidikan yaitu sekolah anak dan universitas yang bagus. Selain itu, kemacetan lalu lintas juga belum begitu padat seperti halnya di kota besar lainnya,” ungkap Ketua DPD REI Jateng MR Priyanto, kemarin.

Menurutnya perkembangan kota Semarang sangat memadai, dengan stabilitas keamanan dan politik. Harga tanah juga belum begitu mahal dibandingkan dengan kota besar lainnya seperti Jogjakarta dan Surabaya.

Secara umum, lanjut dia, di Kota Semarang masih sangat memungkinkan untuk pembangunan perumahan, terutama rumah menengah atas. Di Semarang yang masih prospektif ada di Semarang Selatan, Semarang Timur dan Semarang Barat. ”Ada beberapa daerah di Semarang yang masih banyak tersedia lahan kosong, tapi terkendala aturan tata ruang. Daerah tersebut antara lain di Mijen, Ngaliyan dan Gunungpati,” jelasnya.

Aturan di daerah tersebut perbandingan antara rumah yang dibangun dan fasilitas yang disediakan harus 40 persen : 60 persen. Padahal untuk daerah lainnya pada umumnya 60 persen lahan untuk perumahan dan 40 persen untuk fasilitas umum. ”Di ketiga kawasan tersebut juga merupakan kawasan tadah hujan untuk resapan air,” tandasnya.

Ia menambahkan di daerah Semarang Barat, masih ada beberapa lokasi lahan yang kosong. Hanya saja daerah tersebut banyak untuk kawasan industri, sehingga lahan pun makin menyempit. Yang paling banyak di daerah Mangkang, tapi pemukiman terpaksa harus berbaur dengan industri.

Untuk di Simongan, kata Priyanto, sebelum ada aturan tata ruang terakhir memang untuk kawasan industri. ”Tapi sesuai tata ruang terkini, kawasan di Simongan bisa direlokasi sehingga akan bagus untuk pemukiman.”

Lokasi tersebut bisa untuk pemukiman rumah menengah atas atau untuk apartemen. Terlebih lokasi tersebut sangat dekat dengan bandara dan pusat kota. ”Simongan masih sangat memungkinkan untuk pemukiman karena tanahnya juga bagus dan padat, sehingga akan menguntungkan dibandingkan dengan Semarang Barat yang lokasinya dekat laut ada kemungkinan kondisi tanah makin turun dan lebih rendah dari laut,” paparnya.

Dia menjelaskan akan lebih bagus jika ada pengembang yang bisa bekerjasama dengan pemilik industri di Simongan untuk bersama mengembangkan kawasan pemukiman. Ia mencontohkan di Kalibata, Jakarta yang dulunya kawasan industri kemudian ada pengembang perumahan yang berhasil menggandeng kalangan industri dan mengembangkan pemukiman bersama dan merelokasi industri ke daerah lain. ”Untuk di Simongan ini apabila terealisasi pasti akan diserbu konsumen,” jelasnya. (smu)