Aneh, 5 Ditangkap, Lalu Dilepas Lagi

805

BARUSARI – Lima orang yang sempat digelandang ke Mapolrestabes Semarang terkait penggerebekan arena judi sabung ayam di Kampung Tidar, Kelurahan Podorejo, Ngaliyan, Semarang akhirnya dilepaskan oleh aparat Polrestabes Semarang. Kelima orang itu dinilai tidak terbukti melakukan praktik perjudian. Mereka mengaku hanya menonton di arena judi sabung ayam. Lho kok bisa?

Kasat Reskrim Polrestabes Semarang, AKBP Sugiarto, mengatakan, pihaknya belum memperoleh bukti yang menguatkan adanya praktik perjudian di arena sabung ayam tersebut. ”Di lokasi tidak ditemukan bukti. Unsur dalam praktik perjudian berupa uang dan catatan rekap tidak ditemukan dalam penggerebekan tersebut,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Namun demikian, pihaknya mengaku hingga sekarang masih terus mendalami kasus tersebut untuk mencari bukti-bukti yang menguatkan. Karena bukti tidak kuat, kelima orang yang sempat ditangkap, dilepaskan. Mereka hanya dikenai wajib lapor.

”Perkiraan kami, penggerebekan diduga telah diketahui lebih awal,” ujarnya.

Dalam penggerebekan tersebut, polisi mengklaim telah sesuai prosedur, meskipun saat ini bukti-bukti yang mengarah ke praktik perjudian belum ditemukan. ”Kami melakukan langkah pertama dalam mengantisipasi praktik perjudian,” katanya.

Mengenai keterangan saksi yang menyebut adanya uang taruhan berkisar antara Rp 100 ribu hingga Rp 300 ribu, Sugiarto mengaku tidak bisa membuktikan. ”Pengakuan itu perlu dilengkapi bukti. Masih kami cari buktinya,” ujarnya.

Terkait pria bernama Catur yang disebut-sebut sebagai pengelola arena sabung ayam tersebut, Sugiarto menjelaskan sudah memeriksa yang bersangkutan. ”Hasil pemeriksaan, peran Catur adalah orang yang memberi fasilitas air menggunakan slang. Rumahnya dekat dengan arena sabung ayam. Sudah kami periksa,” katanya.

Sebelumnya, sebuah arena judi sabung ayam yang berlokasi di sebuah kebun tengah hutan jati di daerah Kampung Tidar, Kelurahan Podorejo, Kecamatan Ngaliyan, digerebek aparat Resmob Polrestabes Semarang, Minggu (7/6) sekitar pukul 15.00.

Puluhan pejudi dari berbagai daerah kalang kabut saat tim Resmob berpakaian preman menyergap arena judi tersebut. Sebanyak lima orang pria yang diduga peserta judi sabung ayam dibekuk. Sedangkan puluhan yang lain berhasil kabur ke tengah hutan.

Lokasi judi sabung ayam tersebut cukup tersembunyi, karena harus menyusuri hutan jati dan kebun-kebun rimbun. Di areal kebun tersebut, arena sabung itu seluas 3 x 3 meter berbentuk kotak. Di tengah arena terdapat karpet. Sedangkan di pinggirnya dikelilingi terpal setinggi 1 meter.

Lima orang yang digelandang ke Mapolrestabes Semarang, masing-masing Joko Siswoyo, 37, warga Dawung RT 4 RW 3 Kedungpane Mijen, Semarang; Asrun, 42, warga Kedungpane RT 6 RW 2; Sumarsono, 71, warga Ngadirgo, Mijen; Setiawan, 37, warga Campurejo RT 6 RW 1 Boja, dan Harno, 49, warga Setombo RT 3 RW 2 Kedungpane.

Berdasarkan pantauan di lapangan, aparat Polrestabes Semarang menyita sebanyak 9 ekor ayam petarung, jam dinding, 13 motor, 14 kurungan ayam, 4 handphone, dan uang Rp 3 juta lebih. Uang tersebut disita dari tangan Harno. Namun Harno mengelak, uang Rp 3 juta lebih tersebut diakui sebagai uang hasil penjualan ayam potong. ”Itu hasil jualan ayam potong Pak. Bukan uang taruhan,” kata Harno saat dimintai keterangan di Mapolrestabes Semarang.

Arena judi sabung ayam tersebut sebenarnya sudah pernah beroperasi cukup lama. Namun sempat berhenti setelah jaringan Yanto BK di Jalan Srinindito Raya, Ngemplak Simongan, Semarang Barat, digerebek beberapa waktu lalu. ”Saat BK tutup, di sini juga tidak beroperasi. Saya tidak tahu apakah arena sabung ayam di sini ada kaitannya dengan di BK atau tidak. Ada 20 sampai 30-an orang, pada lari semua,” ujar Sumarsono.

Menurut Joko Siswoyo, arena judi sabung ayam tersebut telah beroperasi sejak seminggu lalu, dan hanya buka setiap hari minggu. Taruhannya berkisar antara Rp 100 ribu hingga Rp 300 ribu. Waktu pertarungan ayam selama 15 menit. (amu/aro/ce1)