Berisi Pesan Moral, Berharap Dilestarikan

994
SARAT PESAN MORAL : Penari Rodat tampil menjelang bulan ramadan di Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Semarang. (MUNIR ABDILLAH/JAWA POS RADAR SEMARANG)
SARAT PESAN MORAL : Penari Rodat tampil menjelang bulan ramadan di Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Semarang. (MUNIR ABDILLAH/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Kesenian tradisional Rodat yang menjadi kesenian daerah pedesaan di Kabupaten Semarang dan umumnya Jawa Tengah kian hari kian terkikis perkembangan zaman. Padahal kesenian tersebut menyimpan pesan-pesan moral yang perlu dilestarikan.

Munir Abdillah, Semarang

Untuk diketahui, Rodat merupakan kata serapan dari bahasa Arab yang berarti irodah yang artinya berkehendak. Yang kemudian dimplementasikan dalam kesenian tradisional dengan tari. Dalam kesenian ini, para penari mengiringi syair dan musik rebana yang dinyanyikan secara bersama-sama. Tarian inilah yang disebut dengan rodat. Tarian yang ditarikan dengan leyek atau duduk dan juga kadang berdiri.

Kesenian ini berkembang seiring dengan tradisi memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW dan hari-hari besar Islam lainnya di kalangan umat Islam. Kesenian ini menggunakan syair atau syiiran berbahasa Arab yang bersumber dari Kitab Al-Berzanji, sebuah kitab sastra yang masyhur di kalangan umat Islam. Isi dari shalawat rodat adalah bacaan shalawat yang merupakan puji-pujian terhadap Nabi Muhammad SAW.
Di daerah-daerah pedesaan di Kabupaten Semarang masih ditemukan kesenian rodat, untuk memperingati nyadran dalam menyambut bulan suci ramadan. Tapi semakin hari, kesenian ini semakin terpinggirkan. Padahal dalam kesenian tersebut, menyimpan pesan-pesan moral yang perlu dilestarikan.

Menurut Sunaryo, 64, ketua salah satu kelompok rodat di Kaliwungu, kesenian rodat ada sejak tahun 1941. Saat itu Makam dan Panusupan, dua desa yang berada di bawah puncak Ardi Lawet, adalah desa-desa yang terisolir. Di antara penduduk kedua desa itu pun sulit mengadakan komunikasi, apalagi dengan dunia luar. Para tokoh ketika itu mencoba membuat wahana untuk berkomunikasi dengan pertunjukan yang mereka beri nama rodat. Dengan rodat itulah penduduk kedua desa menjadi guyub, dan terjalinlah satu komunikasi yang akrab.

Ditambahkan, bahwa rodat yang berasal dari kata irodat itu, merupakan salah satu sifat Allah SWT yang berarti berkehendak. Maksud pemberian nama itu agar manusia selalu berkehendak untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Namun ada juga yang memaknai, bahwa rodat berasal dari kata raudhah, yaitu taman nabi yang terletak di masjid Nabawi, Madinah.

“Memang berbeda-beda tapi isi kesenian tersebut adalah sama, yaitu untuk mengajarkan ajaran moral kepada masyarakat. Dengan syair-syair yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan Jawa,” katanya.

Selain itu, pada zaman Jepang, kesenian rodat sangat berperan dalam menjaga persatuan di kalangan penduduk. Pesannya yaitu bersama-sama melawan kolonialisme panjajahan Jepang. Cara yang ditempuh antara lain dengan gerak dan lagu secara simbolis. Gerak yang ditampilkan adalah “konto”, yakni semacam pencak silat, sebagai lambang perlawanan dan pembelaan diri.

Di bagian lain, lagu-lagu yang dikumandangkan adalah lagu-lagu bernuansa dakwah Islam, sebagai penguat iman dan jati diri penduduk setempat yang memang penganut Islam taat. Seni rodat adalah perpaduan dari musik, tari, dan bela diri. Musik yang dimainkan terdiri atas peralatan berupa empat buah genjring/rebana besar, kendang, bas, kecrek dan jidur/bedug masing-masing satu buah. Alat-alat sederhana tersebut dipukul untuk mengiringi lagu, tari maupun konto. Anggota grup rodat selain terdiri atas para penabuh alat musik masih ditambah dengan 2 orang wiraswara, 8 orang penari, dan 2 orang pemain konto, dan 2 orang badut/santri.

“Tapi tetap saja, dengan perbedaan budaya di satu daerah dengan yang lain. Akan muncul variasi sesuai dengan kesenangan masyarakat di sana. Yang terpenting adalah ajaran moralnya. Saya berharap generasi muda bisa kembali melestarikan budaya rodat. Entah dengan cara yang lebih modern. Drumblek yang disisipi moral atau bagaimana terserah,” pungkasnya. (abd/ric)