Merica Palsu Beredar di Semarang

353
TAK TERPENGARUH: Pedagang merica di pasar darurat Jalan KH Agus Salim Johar kemarin. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
TAK TERPENGARUH: Pedagang merica di pasar darurat Jalan KH Agus Salim Johar kemarin. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SAMPANGAN — Peredaran merica palsu ternyata mulai merambah pasar tradisional di Kota Semarang. Sejumlah pedagang mengaku pernah ditawari merica dengan harga murah. Namun mereka enggan membelinya lantaran bentuknya mencurigakan.

Sri Misih, 48, pedagang merica dan kemiri di Pasar Sampangan Baru mengaku, jika peredaran merica palsu sudah terjadi dalam kurun waktu yang lama. Berdasarkan pengalaman yang dialami, berulangkali dirinya ditawari merica yang harganya jauh di bawah harga pasar.

”Harganya mulai Rp 40 ribu hingga Rp 55 ribu per kg. Pikir saya, kenapa harga merica bisa murah sekali. Begitu saya amati, merica yang dibawa seseorang tersebut tidak memiliki bau khas rempah. Akhirnya tidak jadi saya beli karena sepertinya merica palsu,” ujar Sri Misih saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang di kios miliknya lantai 1 Pasar Sampangan, Senin (8/6).

Dikatakan Sri, yang membedakan antara merica asli dan merica palsu yakni bau dan bentuknya. Merica asli memiliki bau yang khas merica sebagai salah satu palawija. Bentuk dari merica itu sendiri juga sudah terlihat. Dijelaskan Sri, bentuk merica palsu lebih menyerupai butiran semen berwarna putih.

”Ketika digerus, merica palsu langsung pecah, tidak seperti merica asli yang keras. Sebenarnya peredaran merica palsu itu sudah terjadi sejak 3 tahun lalu. Beberapa orang yang membawa merica palsu biasanya seminggu sekali menawari penjual untuk membeli merica yang dibawanya,” katanya.

Ia mengaku menjual merica asli seharga Rp 195 ribu per kg. Ada juga yang dijual per ons seharga Rp 22 ribu. Selain merica, ia juga pernah tertipu dengan seseorang yang menjual kemiri palsu. Kemiri palsu tersebut, kata Sri, lebih seperti gumpalan tepung. Sekilas bentuknya memang mirip kemiri asli.

”Namun ketika digunakan akan ngepyur seperti tepung. Beberapa pelanggan saya pernah komplain, namun karena harus bertanggung jawab saya lantas menggantinya dengan kemiri yang bagus. Orang yang menyetok kemiri dan merica palsu tersebut sama. Sekarang orangnya jarang ke sini. Sampai saat ini, saya selalu ambil merica dan kemiri dari pedagang Pasar Johar langganan saya,” kata Sri yang berdagang merica sejak 1988 itu.

Pedagang Pasar Johar, Solekhah, 44, mengakui, isu beredarnya merica palsu tidak berdampak pada omzet penjualannya. Ia biasa menjual merica seharga Rp 185 ribu per kg.

”Tidak berpengaruh Mas. Kita sudah punya pelanggan tetap kok. Mulai dari ibu rumah tangga hingga penjual. Setiap harinya, saya menjual hingga 5 kg merica,” ujarnya.

Ketua DPRD Kota Semarang, Supriyadi, mengimbau kepada Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Semarang sering melakukan sidak ke pasar-pasar. Hal itu dilakukan guna meminimalisasi terjadinya praktik penipuan dan peredaran sembako palsu.

”Karena kalau terjadi, yang dirugikan masyarakat juga. Kita harus melindungi hak mereka sebagai konsumen. Karenanya, dinas terkait harus sering melakukan sidak ke pasar-pasar tradisional,” kata Supriyadi. (ewb/aro/ce1)