Niatnya 80 Persen Ibadah dan 20 Persen Bisnis

607
PANGGILAN JIWA: Meiji Didit menemukan kedamaian dan hidupnya serba tertata setelah masuk Islam. (SUGIYANTO WIYONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
PANGGILAN JIWA: Meiji Didit menemukan kedamaian dan hidupnya serba tertata setelah masuk Islam. (SUGIYANTO WIYONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Tak banyak warga keturunan Tionghoa yang menggeluti usaha di bidang tur dan travel umrah. Dari segelintir pengusaha tersebut, Meiji Didit salah satunya. Pria sederhana ini memilih terjun ke usaha travel umrah karena panggilan jiwa. Seperti apa?

SUGIYANTO WIYONO

SEPINTAS melihat sosok yang satu ini kita tak menduga ia seorang pengusaha yang berkecimpung di bisnis travel umrah. Cara berbusananya pun tampak biasa, tanpa memakai peci atau baju koko yang menunjukkan identitas muslim. Tapi siapa sangka di balik kesederhanaannya itu, pria 46 tahun ini adalah pemeluk agama Islam yang taat, serta telah menunaikan ibadah haji dan beberapa kali umrah ke Tanah Suci Mekkah.

Ditemui di sela kesibukannya mengurus usaha biro umrah Zhafirah Tour & Travel miliknya di Jalan Erlangga Tengah I Semarang, penggemar touring ini berbagi kisah. Ia mengaku, sebelumnya tak pernah terbayang untuk menekuni usaha ini. Karena bisnis properti dan kamera CCTV yang digelutinya bisa dibilang berhasil. Tapi keinginannya untuk mendirikan usaha sambil bisa beribadah sangat kuat, hingga membawanya ke bisnis yang satu ini.

Ia menceritakan, setelah lulus kuliah pada 1992, Didit ”diusir” dari rumah oleh orang tuanya agar bisa hidup mandiri. Dari yang semula hidup serba berkecukupan, berubah 180 derajat. Ia harus menjalani hidup prihatin dengan berpindah-pindah tempat tinggal dan menumpang tidur di rumah teman-temannya.

”Waktu itu oleh orang tua, saya hanya dikasih uang Rp 250 ribu sebagai bekal hidup dan mencari kerja. Beliau ingin anaknya bisa hidup mandiri dan menghargai jerih payah sendiri,” kenang bapak satu anak ini sambil menerawang ke langit kantornya.

Berbagai macam pekerjaan pernah dijalani. Mulai bekerja menjadi buruh kasar hingga karyawan kantor. Sedikit demi sedikit uang hasil kerjanya dikumpulkan, karena Didit punya cita-cita punya usaha sendiri.

Setelah beberapa tahun bekerja, Didit bertemu dengan teman semasa kuliah. Dengan bekal tabungan yang telah dikumpulkan, ia bekerja sama dengan temannya tersebut mendirikan usaha properti kecil-kecilan di Surabaya.

Berkat kegigihan dan kerja kerasnya, dalam waktu yang tidak terlalu lama, usaha properti yang digelutinya kian maju. Berawal hanya membangun satu sampai dua unit rumah, hingga bisa membangun sampai ratusan unit.

”Awalnya kami hanya membeli satu sampai dua kavling tanah, kemudian dibangun rumah dan dijual kembali,” ujarnya.
Sukses di bisnis properti, Didit melebarkan sayap dengan mendirikan usaha baru di bidang CCTV bekerja sama dengan beberapa temannya di Semarang. Pelan-pelan usaha yang dirintisnya terus berkembang hingga saat ini. Secara materi hidupnya sudah berkecukupan dari hasil bisnis tersebut. Ditambah penghasilan yang tidak sedikit dari istrinya yang berprofesi sebagai notaris. Namun ia merasa hidupnya masih ada yang kurang dan tidak tenang.

Pada suatu saat Didit merasa tertarik dengan agama Islam dan berkeinginan untuk memeluknya. ”Saya selalu berpikir kenapa orang-orang muslim bisa menjalankan ibadah khususnya salat lima waktu dengan taat. Hal itulah yang membuka mata hati saya untuk mencari tahu lebih banyak,” katanya.

Pada 2005, Didit menikah dengan Rini Andrijani, wanita muslimah yang berasal dari kalangan Keraton Solo. Sejak itu, ia pun memutuskan menjadi mualaf dengan masuk agama Islam. Dengan dukungan dan bimbingan istrinya, Didit banyak belajar dan memperdalam agama Islam. ”Setelah masuk Islam, saya menemukan kedamaian dan merasa hidup ini serba tertata,” akunya.

Setelah merasa cukup mendalami ilmu agamanya, pada 2010 Didit menunaikan ibadah haji, dan setelah itu beberapa kali pergi umrah. Hingga ia mulai berkeinginan mempunyai biro travel umrah dan haji sendiri.

Rupanya keinginannya didengar oleh Yang Maha Kuasa, dalam suatu kesempatan menunaikan ibadah umrah ia bertemu dengan Tanto, mantan pilot yang sudah punya usaha umrah Zhafirah Tour di Kota Jogjakarta. Lewat Tanto inilah Didit berguru dan mengasah ilmu di bidang travel umrah.

Tepatnya pada 2013 lalu, Didit mendirikan biro travel di Semarang, yakni PT Zhafirah Mitra Madina atau lebih dikenal dengan Zhafirah Tour & Travel Umrah. Biro ini merupakan cabang Zhafirah yang berpusat di Jogjakarta. Ia mendirikan usaha ini dilandasi keinginan mempunyai usaha yang berkaitan dengan ibadah, dan bisa membantu orang melaksanakan umrah dengan pelayanan yang lebih baik.

”Dengan pengalaman beberapa kali melaksanakan umrah, saya merasa seharusnya jamaah bisa mendapatkan pelayanan dan kenyamanan yang lebih baik lagi,” ungkapnya.

”Saya menjalankan usaha ini dengan niat beribadah, tidak hanya mencari keuntungan semata, dengan pembagian 80 persen ibadah dan 20 persen bisnis. Ini sebagai rasa wujud syukur saya kepada Allah dengan apa yang telah saya capai,” pungkasnya. (*/aro/ce1)