Razia Kos, 4 Pemuda Positif Narkoba

628
RAZIA NARKOBA: Petugas gabungan BNNP Jateng bersama Polri, Denpom dan Satpol PP saat melakukan razia di rumah kos kemarin. (FOTO-FOTO: ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
RAZIA NARKOBA: Petugas gabungan BNNP Jateng bersama Polri, Denpom dan Satpol PP saat melakukan razia di rumah kos kemarin. (FOTO-FOTO: ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
RAZIA NARKOBA: Petugas gabungan BNNP Jateng bersama Polri, Denpom dan Satpol PP saat melakukan razia di rumah kos kemarin. (FOTO-FOTO: ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RAZIA BNN SATPOL-ADIT (5)web

MEDONO – Rumah kos rawan menjadi tempat penyalahgunaan narkoba. Seperti dalam razia yang dilakukan petugas Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jawa Tengah bersama aparat kepolisian, Denpom dan Satpol PP Kota Semarang, Kamis (11/6) kemarin. Sebanyak pemuda pemuda diamankan lantaran diduga mengonsumsi narkoba. Razia petugas gabungan tersebut dilakukan di tiga rumah kos terpisah, yakni satu rumah kos di Medoho dan 2 rumah kos di wilayah Sampangan.

Razia diawali di rumah kos mewah di wilayah Medoho. Di tempat ini, petugas menggeledah sebanyak 30 kamar. Namun dalam razia tersebut hanya 15 orang yang berada di tempat, dan langsung dilakukan tes urine oleh petugas BNNP. Hasilnya, semua penghuni kos negatif menggunakan narkoba. Namun saat razia di kos tersebut, petugas sempat menemukan sepasang muda-mudi tengah bermesraan di dalam kamar kos.

Operasi dilanjutkan ke rumah kos mewah di Jalan Lamongan Raya, Sampangan. Sejumlah wanita penghuni kos tersebut tampak panik saat petugas datang. Namun saat seluruh penghuni kos dites urine, hasilnya negatif alias bebas dari narkoba.

Razia pun bergeser ke rumah kos wanita di Jalan Lamongan Barat V, Sampangan. Di rumah kos mahasiswi tersebut justru menemukan empat pria di dalam sebuah kamar. Saat dilakukan tes urine, ternyata air seni tiga dari empat pria tersebut mengandung amphetamine. Diduga mereka usai pesta sabu. Keempat pria tersebut adalah Ian, 23, warga Jalan Imam Bonjol, Semarang; Eko, 24 warga Jalan Cumi-Cumi Bandarharjo, Putut, 20 warga Semarang Utara, dan Surono, 23. Mereka sempat menolak dites urine. ”Tidak Pak, saya di sini cuma main. Ini kos adik saya,” ujar Eko di sela pemeriksaan.

Mereka terus beralasan macam-macam agar mengulur waktu saat hendak dites urine. Keempatnya beralasan tidak bisa kencing dalam waktu mendadak. Petugas sempat memberikan waktu selama 15 menit untuk buang air kecil. Namun demikian empat pria tersebut tetap menolak.

Karena mencurigakan, terpaksa petugas BNN mengancam akan membawa keempatnya ke kantor BNN untuk pemeriksaan. Baru tiga dari empat pria tersebut, Eko, Putut, dan Ian, bisa buang air kecil. Hasilnya, air seni mereka positif mengandung amphetamine. Sedangkan Surono menolak dites urine.

Saat diinterogasi petugas, mereka membantah mengonsumsi narkoba. Namun ia mengaku mengonsumsi ramuan oplosan dari obat batuk dan obat sakit kepala. ”Minumnya baru saja. Saya tahu sudah sejak sebulan lalu karena diajari teman. Hanya untuk penenang aja,” kilahnya.
Putut mengaku, sebelum datang ke rumah kos tersebut, ia dan temannya minum oplosan di Jalan Layur, Semarang Utara. ”Kami beli obat batuk cair seharga Rp 50 ribu, lalu dicampur obat sakit kepala. Efeknya sih pusing-pusing dan ngantuk,” ucap warga Semarang Utara ini.

Kabid Pemberantasan Narkoba BNNP Jateng, AKBP Suprinarto, mengatakan, dalam razia narkoba di tiga rumah kos tersebut, pihaknya melakukan tes urine terhadap 34 orang baik laki-laki mapun perempuan. Dari jumlah itu, 4 orang dinyatakan positif mengonsumsi narkoba yang mengandung amphetamine, sebuah zat yang digunakan sebagai bahan dasar sabu-sabu.

”Hasil tes urine positif. Namun saat ditanya, mereka hanya minum oplosan obat batuk dan obat sakit kepala. Empat pemuda itu kita bawa ke kantor untuk pemeriksaan lebih lanjut, jika mereka terbukti memakai narkoba, akan kita tindaklanjuti,” bebernya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Kamis (11/6) kemarin.

Kepala Satpol PP Kota Semarang, Endro P Martanto, mengimbau kepada pemilik kos untuk melakukan pendataan dan pengawasan kepada para penghuni kos. Selain itu, kata dia, pemilik rumah kos diharapkan menyediakan alat pemadam kebakaran. ”Pendataan identitas harus dilakukan supaya apabila terjadi suatu permasalahan, petugas akan lebih mudah untuk mengusutnya,” katanya. (mha/amu/aro/ce1)