Bagikan Hasil Pertanian, Berebut Bunga Manggar

852
MERIAH: Tradisi Dugderan masyarakat Kota Semarang menjelang Ramadan dimeriahkan ribuan peserta dengan rute mulai Lapangan Simpang Lima, Jalan Pahlawan dan finish di Jalan Hayam Wuruk, Senin (15/6) kemarin. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
MERIAH: Tradisi Dugderan masyarakat Kota Semarang menjelang Ramadan dimeriahkan ribuan peserta dengan rute mulai Lapangan Simpang Lima, Jalan Pahlawan dan finish di Jalan Hayam Wuruk, Senin (15/6) kemarin. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Sebanyak 10.000 peserta Karnaval Budaya Dugder 2015 (Dugderan) memadati Lapangan Simpang Lima, Senin (15/6) kemarin. Dugderan yang rutin dilaksanakan menjelang datangnya Ramadan ini, diikuti oleh siswa-siswi mulai dari tingkat TK, SD, SMP, SMA serta peserta perwakilan dari 16 kecamatan se-Kota Semarang.

Peserta Dugderan menampilkan berbagai kreasi dengan aksesori Warak Ngendog, kembang manggar serta atraksi drum band. Mereka mengambil start di Lapangan Simpang Lima menuju Jalan Pahlawan dan finish di Jalan Hayam Wuruk. Kegiatan ini sebagai bentuk suka cita menyambut datangnya bulan Ramadan sekaligus sebagai bagian dari tradisi Kota Semarang.

Tak hanya itu, bebarengan dengan karnaval dugder ini diselenggarakan pula Kirab Potensi Pangan 2015. Kirab ini diisi dengan 60 unit mobil hias yang menampilkan potensi pangan dari 16 kecamatan dan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Kota Semarang. Kirab potensi pangan ini selain menyambut Ramadan, juga membangun Kota Semarang sebagai kota agropolitan dan kreatif.

”Berbagai potensi Kota Semarang ini diharapkan dapat memacu kreativitas dalam mengolah potensi pangan yang dimiliki masing-masing wilayah yang ada di Kota Semarang,” kata Asisten Administrasi Perekonomian dan Kesra, Ayu Entys yang mengapresiasi penampilan hebat-hebat peserta karnaval.

Menurutnya, peserta karnaval ini sangat membanggakan. Sebagai generasi penerus bangsa yang memiliki kedisiplinan, kecintaan yang tinggi terhadap budaya dugder dan senang akan datangnya bulan suci Ramadan. ”Ini harus kita pertahankan untuk menanamkan rasa handarbeni dan cinta terhadap budaya Kota Semarang,” ungkap Ayu Entys membacakan sambutan Wali Kota Semarang.

Sebagai tradisi budaya khas Semarang, lanjutnya, Dugderan mengandung makna ungkapan suka cita khususnya kaum muslim akan datangnya bulan suci Ramadan. Namun yang lebih penting adalah event dugderan mengandung makna kebersamaan yang dilambari semangat mengangkat kearifan budaya lokal yang digambarkan dengan ikon Warak Ngendog. Ikon ini menyiratkan adanya kebersamaan, kerukunan dan guyubnya masyarakat Kota Semarang tanpa melihat etnis atau latar belakang budaya maupun agama.

”Intinya karnaval ini bukan sekadar arak-arakan saja, namun menjadi salah satu cerminan keberagaman yang ada di Kota Semarang yang tetap rukun dan guyub,” tekan Asisten Administrasi Perekonomian dan Kesra.

Uniknya dalam karnaval mobil hias yang membawa hasil bumi, sekaligus membagi-bagikan hasil pertanian kepada warga yang menonton. ”Hal itu sebagai bentuk rasa syukur menyambut datangnya bulan suci Ramadan 1436 H,” imbuh Kabag Humas Pemkot Semarang, Achyani.
Bahkan tidak sedikit penonton yang berebut bunga manggar yang dibawa peserta. Bagi sebagian orang, memetik langsung bunga manggar saat kirab memiliki arti tersendiri.

Sedangkan Widya, 27, salah seorang warga ini berharap tradisi pawai Dugderan bisa dipertahankan dan dikembangkan. Inilah ciri khas budaya Kota Semarang yang bisa menarik perhatian wisatawan. ”Memang perlu dipertahankan. Apalagi daerah lain hampir tidak ada tradisi menjelang Ramadan. Bahkan tidak semeriah ini,” ujarnya. (zal/ida/ce1)