Gedung Meledak, Teroris Senang Seperti Main Game

Must Read

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu...

BERBAGI CERITA: Mohammad Nasir Abbas (dua dari kanan) saat menjadi pembicara workshop orientasi penulisan berita tindak kejahatan terorisme kemarin. (ABDUL MUGHIS/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BERBAGI CERITA: Mohammad Nasir Abbas (dua dari kanan) saat menjadi pembicara workshop orientasi penulisan berita tindak kejahatan terorisme kemarin. (ABDUL MUGHIS/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Mohammad Nasir Abbas alias Khaeruddin, mantan Ketua Mantiqi III Jamaah Islamiyah (JI) berbagi cerita. Pria yang disebut mantan teroris ini menceritakan pengalamannya saat ”berjihad” dalam pertempuran di Afganistan. Seperti apa?

ABDUL MUGHIS

KALA itu, Mohammad Nasir Abbas bersama pasukan militan Jamaah Islamiyah terlibat dalam penyerangan di Afganistan. Doktrin membunuh telah mengalir kental di merah darah para militan. Ia dari atas bukit menyaksikan gedung-gedung diledakkan. Teriakan ”Allahu Akbar” telah membakar perjuangan.

”Saat ikut pertempuran di Afganistan, rasanya enak membunuh orang. Begitu teriakan ’Allahu Akbar’, di atas bukit melihat arah sasaran. Peluru-peluru kena gedung. Perasaan saat itu suka sekali. Rasanya seperti orang main game,” kata Nasir Abbas saat menjadi pembicara workshop orientasi penulisan berita tindak kejahatan terorisme bagi wartawan dan redaktur media massa Jateng, diselenggarakan oleh Forum Komunikasi Penanggulangan Terorisme (FKPT) Jateng di Gedung Aula lantai 3 Fakultas Hukum Universitas 17 Agustus 1945 Jalan Pawiyatan Luhur Bendan Duwur Semarang, Selasa (16/6).

Nasir dalam acara tersebut menjawab pertanyaan salah satu peserta workshop yang menanyakan bagaimana perasaan menjadi teroris yang beraksi begitu kejam. ”Pernah main game? Begitulah, rasanya senang dan bahagia saat bisa membunuh musuh. Sebab ajaran yang diyakini mereka saat itu adalah membalas dendam demi Islam. Maka semakin banyak membunuh semakin dapat pahala,” bebernya.

Dikatakan Nasir, bahwa doktrin keyakinan tersebut tak terlepas dari seruan dari pemimpin Al Qaeda, Osama bin Laden pada 1999 silam. Ia menyerukan bahwa umat Islam membalas dendam.

”Maka tindakan membunuh orang itu tergantung apa yang diyakini. Membunuh (dalam konteks tersebut) justru mereka senang dan bahagia. Padahal mereka itu keliru,” katanya.

Nasir menegaskan, kejadian tersebut jangan sampai terjadi lagi. Paham-paham seperti itu agar jangan sampai masuk di Indonesia. Ia menyatakan keluar dari kelompok tersebut.

”Saya berjuang keras agar mereka berhenti. Walaupun saya di bawah ancaman pembunuhan kapan pun. Tapi itu terserahlah, biar Allah yang menentukan hidup dan mati saya,” ungkapnya.

Menurut Nasir, penyebaran paham radikalisme saat ini sedang gencar. Di antaranya, kelompok tersebut menggunakan sejumlah media. Baik media cetak maupun media internet, blog, serta website. ”Mereka menyebarkan paham-paham pengafiran. Mereka juga meng-upload video-video yang memancing konflik,” imbuhnya.

Nasir juga mewanti-wanti kepada awak media agar tidak terjebak perangkap paham-paham radikalisme yang berkembang belakangan. ”Seperti halnya penggunaan kata pengantin, sahid, dan ISIS. Jika tidak hati-hati, kita terjebak bersama-sama dan turut menyebarkan paham-paham tersebut. Media jangan ikut-ikutan menyebarkan paham mereka,” katanya.

Dia mengajak masyarakat bersama-sama untuk menangkal paham Daulah Islamiyah yang bertentangan dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Indikasi penyebaran paham tersebut bisa dilihat melalui doktrin pembatasan-pembatasan yang mereka lakukan. ”Misalnya jangan ikut pengajian ustad itu, jangan membaca buku itu, baca saja buku ini, pemerintah ini kafir. Lalu muncullah sikap anti pemerintah. Apalagi hingga sampai kepada pemahaman bahwa pemerintah sekarang ini sudah sah untuk diperangi,” katanya.

Pelaku paham radikalisme, lanjutnya, tidak diiming-imingi uang. Akan tetapi diiming-imingi kehidupan kelak yakni surga dan bidadari. Aksi-aksi terorisme selalu mengatasnamakan Islam, menyebut perintah Allah, nabi dan Alquran. ”Padahal Islam tidak ada teroris, mereka hanya mengatasnamakan Islam,” kata Nasir.

Maka dari itu, pemerintah saat ini harus melakukan upaya penanggulangan agar paham terorisme bisa ditangkal oleh masyarakat. ”Bagaimanapun, terorisme mengancam dan merugikan,” katanya.

Sementara itu, pembicara lain, pengurus PWI Pusat, Sutjipto SH, mengingatkan kepada wartawan bahwa dalam penulisan berita terorisme agar memenuhi standar pemberitaan. Sehingga peran wartawan dalam menulis berita terorisme tidak hanya mengungkap fakta, akan tetapi juga menjernihkan peristiwa yang terjadi.

”Pemilihan angle bisa disesuaikan dengan kondisi yang terjadi saat itu. Tentu kembali kepada konsep dasar penulisan menggunakan 5 W 1 H. Selain itu, wartawan harus menyuguhkan informasi yang utuh dengan cover both side pemberitaan. Hal itu bertujuan agar tercapai keberimbangan,” pungkasnya. (*/zal/ce1)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

- Advertisement -

Latest News

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat cerai. Hal itu disampaikan oleh...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu anak kiai, satu lagi anak...

Neo Mustaqbal

Sejarah dunia akan dibuat oleh Arab Saudi. Sejarah pertama: Aramco akan go public --dengan nilai yang belum ada duanya di dunia: Rp 28.000.000.000.000.000. Kedua: hasil IPO itu akan...

Rumah Kita

Kaget-kaget senang: Indonesia resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20. Tahun 2021. Sepak bola Indonesia diakui dunia. Prestasi Presiden Joko ”Jokowi” Widodo kelihatan nyata...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -