Mi Berformalin Dijual Bebas

388
RAZIA MAKANAN: Petugas gabungan Balai POM Semarang dan Polrestabes saat melakukan sidak makanan di Hypermart Java Supermall kemarin. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
RAZIA MAKANAN: Petugas gabungan Balai POM Semarang dan Polrestabes saat melakukan sidak makanan di Hypermart Java Supermall kemarin. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

PETERONGAN – Sejumlah pedagang di Pasar Peterongan didapati menjual mi basah yang mengandung bahan formalin. Mi tak layak konsumsi tersebut diketahui setelah dilakukan tes laboratorium oleh petugas Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (Balai POM) Semarang saat melakukan inspeksi mendadak (sidak) di pasar tersebut, Selasa (16/6).

Sidak dilakukan petugas Balai POM bersama aparat kepolisian jelang datangnya bulan suci Ramadan. Mereka mengambil sampel mi di sejumlah pedagang untuk dites laboratorium. Salah satunya mi basah warna kuning pekat terbungkus plastik yang dijual Sukarno, 70, dan Ponjiman, 61, keduanya pedagang Pasar Peterongan.

Dari hasil tes, petugas menyatakan mi basah tersebut positif mengandung zat formalin yang membahayakan kesehatan jika dikomsumsi. Akibatnya, mi seberat 50 kg dari dua pedagang itu langsung disita untuk dimusnahkan.

Kepala Balai POM Semarang, Agus Prabowo, mengatakan, sidak dilakukan dengan tujuan untuk memastikan bahan pangan yang beredar di pasaran Kota Semarang aman untuk dikonsumsi. Karena itu, pihaknya bersama tim terpadu Jateng melakukan sidak di pasar-pasar tradisional dan swalayan.

”Di Pasar Peterongan ini, kami menemukan adanya mi basah yang mengandung formalin dari pedagang. Mi yang mengandung formalin sangat berbahaya jika dikonsumsi oleh masyarakat. Bisa menyebabkan iritasi pada saluran pencernaan, diare, dan penyakit berbahaya lainnya,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Dia mengatakan, temuan mi berformalin tersebut nantinya akan ditindaklanjuti dengan melakukan pemeriksaan pada produsennya. Bahkan, apabila terbukti, dapat ditindak secara hukum. Pihaknya mengimbau kepada masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam berbelanja makanan dan minuman baik di pasar tradisional, toko, maupun swalayan.

”Mi yang mengandung formalin dapat dibedakan dari bau yang menyengat, warna yang lebih cerah dan tekstur yang lebih kenyal. Apabila masyarakat menemukan hal itu, maka segera melapor. Nantinya temuan ini akan kami tindaklanjuti dengan melakukan sidak di perusahaan pembuat mi tersebut. Data sudah kami miliki, tinggal menunggu waktu saja,” tegasnya.

Dua pedagang yang kemarin diketahui menjual mi berformalin mengaku jika mi tersebut hanya titipan dari seorang produsen mi di daerah Boja, Kendal. Keduanya mengaku tidak mengetahui kalau mi yang dijual tersebut mengandung bahan formalin.

”Saya hanya dititipi, kata orangnya mi diproduksi di daerah Boja, Kendal. Saya dikirimi mi setiap hari. Jualan mi juga sudah lama, dan tidak pernah ada komplain dari pembeli. Biasanya yang beli ya pedagang warung makanan, bakso, bakmi, dan ibu rumah tangga. Saya tidak tahu kalau mi tersebut mengandung formalin,” kata Ponjiman.

Dia hanya bisa pasrah saat petugas menyita mi dagangannya. Namun dirinya meminta surat keterangan penyitaan dari petugas yang akan ditunjukkan kepada pemilik mi tersebut, sehingga dirinya tidak rugi.

”Nanti kalau mereka datang menagih uang dari penjualan mi ini, akan saya tunjukkan surat penyitaan ini. Mi ini memang titipan, saya belum membayarnya. Biasanya dua hari sekali membayar,” akunya.

Kemarin, sidak juga dilakukan di Hypermart Java Supermall Peterongan. Dari beberapa sampel makanan yang dites laboratorium seperti ikan teri yang dikemas plastik serta beberapa makanan lainnya, tidak ditemukan zat berbahaya untuk kesehatan. (mha/aro/ce1)