Ratusan Warga Cuci Karpet

Must Read

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu...

TURUN TEMURUN : Ratusan warga dari beberapa wilayah di Kabupaten Semarang dan Salatiga melakukan cuci karpet setiap menjelang datangnya bulan Ramadan. (Munir Abdillah/JAWA POS RADAR SEMARANG)
TURUN TEMURUN : Ratusan warga dari beberapa wilayah di Kabupaten Semarang dan Salatiga melakukan cuci karpet setiap menjelang datangnya bulan Ramadan. (Munir Abdillah/JAWA POS RADAR SEMARANG)

TENGARAN—Ratusan masyarakat di Kabupaten Semarang dan Salatiga mencuci karpet atau tikar masjid dan musala di Senjoyo, Tegalwaton, Tengaran. Kegiatan ini sudah menjadi budaya tahunan masyarakat dalam menyambut datangnya bulan Ramadan.

Dwi Mulyono, 34, warga yang mencuci karpet menuturkan bahwa tradisi ini sudah dilakukan secara turun temurun oleh warga di Kabupaten Semarang dan Salatiga. Filosofinya adalah menyucikan tempat ibadah dan menyucikan diri. Agar ketika memasuki bulan Ramadan tahun 1436 Hijriah nanti dalam keadaan suci baik perilakunya maupun hatinya.

Selain itu, lanjut Dwi, membersihkan karpet dan tempat ibadah dengan cara bergotong royong tidak akan terasa capek. Malah menjadi hiburan tersendiri bagi masyarakat. Apalagi selain mencuci karpet, masyarakat juga melakukan ritual padusan. Yaitu mandi besar sebelum memasuki Ramadan. “Mata Air Senjoyo memang menjadi objek wisata menjelang Ramadan. Hal ini perlu dilestarikan karena termasuk kearifan lokal di Kabupaten Semarang,” terangnya.

Sementara itu, di Desa Klero, sejumlah warga melakukan tradisi nyadran dalam menyambut Ramadan. Yaitu dengan saling mengunjungi antartetangga, meminta maaf dan berbagi rezeki layaknya Hari Raya Idul Fitri.

Angga Laksitama, 28, warga Desa Klero mengatakan bahwa tradisi Nyadran masih dilestarikan di daerahnya. Lantaran di beberapa dusun di Desa Klero, tradisi ini sudah mulai hilang. Padahal tradisi ini merupakan ajaran leluhur yang perlu dilestarikan, karena mengandung banyak kebajikan.

“Biasanya kegiatan setelah nyekar (ziarah) kubur. Masyarakat saling bersilaturrahmi antar keluarga dan saling meminta maaf. Masyarakat juga menyediakan makanan ringan dan berat untuk menjamu tamunya,” pungkasnya. (abd/ida)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

- Advertisement -

Latest News

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat cerai. Hal itu disampaikan oleh...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu anak kiai, satu lagi anak...

Neo Mustaqbal

Sejarah dunia akan dibuat oleh Arab Saudi. Sejarah pertama: Aramco akan go public --dengan nilai yang belum ada duanya di dunia: Rp 28.000.000.000.000.000. Kedua: hasil IPO itu akan...

Rumah Kita

Kaget-kaget senang: Indonesia resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20. Tahun 2021. Sepak bola Indonesia diakui dunia. Prestasi Presiden Joko ”Jokowi” Widodo kelihatan nyata...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -