Masjid An Nur Menyanan, Satu-satunya Masjid di Kawasan Pecinan

873
RAMAI : Walaupun terletak di kawasan Pecinan, masjid An-Nur Menyanan nampak ramai dikunjungi umat Islam untuk beribadah. (FOTO: ADENNYAR WYCAKSONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
RAMAI : Walaupun terletak di kawasan Pecinan, masjid An-Nur Menyanan nampak ramai dikunjungi umat Islam untuk beribadah. (FOTO: ADENNYAR WYCAKSONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

MASJID An Nur Menyanan merupakan satu-satunya tempat ibadah bagi umat muslim di kawasan Pecinan. Bahkan masjid yang terletak di Kampung Menyanan Kecil Nomor 309, Jalan Benteng, itu, masuk dalam bangunan cagar budaya Pemkot Semarang. Konon masjid tersebut menjadi tempat persembunyian Pangeran Diponegoro.

Berdasar informasi, masjid tersebut dibangun sekitar 1600-an. Dibangun oleh sekelompok warga Tionghoa yang beragama Islam. Luasnya dulu hanya 4×4 meter. Bangunan masjid sempat hilang karena tertutup tembok bangunan lain. Baru ditemukan kembali pada 1960-an oleh seorang bernama Kiai Mashud.

Walaupun sudah tidak seperti bentuk awalnya, keaslian bangunan masjid terletak pada kubah. Kubah tersebut masih asli berukuran sekitar 4 meter persegi dengan kayu penyangga yang diduga terbuat dari kayu trembesi. ”Masjid ini dulu sempat hilang tertutup tembok. Kemudian ditemukan oleh Kiai Mashud yang mendapatkan mimpi bahwa di situ ada masjid. Kemudian bersama warga tembok yang menutup bangunan masjid pun dirobohkan sekitar 1960-an,” kata Sumarno, 43 takmir masjid An-Nur Menyanan.

Mengingat banyaknya jamaah yang beribadah di masjid tersebut, akhirnya warga melakukan pemugaran dan perluasan, sekitar 1962. Saat pemugaran pun, kata dia terdapat berbagai barang-barang kuno di dalam masjid seperti batu gambar keris dan ornamen lainnya. Sayangnya semua peninggalan tersebut hilang akibat ulah orang tidak bertanggung jawab.

Pengembangan masjid juga dilakukan pada 1990. Pada 1992 Pemkot Semarang mencatat bangunan masjid tersebut sebagai cagar budaya. Dan perluasan terakhir dilakukan pada 2013. Ironisnya, setelah dijadikan bangunan cagar budaya, pemerintah terkesan lepas tangan. ”Sampai sekarang nggak ada perhatian dari pemerintah,” keluhnya.

Sumarno kemudian bercerita tentang sejarah masjid yang ditemukan oleh Kiai Mashud melalui mimpi tersebut. Konon saat bermimpi, Kiai Mashud ditemui oleh pendiri masjid yakni Kiai Tholib dan mengatakan jika ada tempat ibadah umat muslim di kawasan Pecinan yang merupakan petilasan Pangeran Diponegoro. ”Setelah mencarinya, Kiai Mashud kemudian menemukan masjid An-Nur tersebut. Saat ditemukan, kondisi masjid sudah tidak terawat. Sebab,sebagian besar bangunan masih didominasi oleh kayu,” lanjutnya.

Walaupun berada di tengah kawasan yang menganut aliran Tri Dharma, kegiatan masjid di Menyanan tetap berjalan seperti biasa. Tidak ada gesekan dengan umat berbeda agama, karena semua umat di kawasan Pecinan sangat menjunjung tinggi asas kebersamaan dan menghormati perbedaan. ”Saat ini masih ada keturunan Tionghoa yang beragama Islam yang sembahyang di sini walaupun tidak banyak,” paparnya. (den/zal/ce1)