Suka Rela, Warga Bersihkan Mata Air Senjoyo

512
PEDULI LINGKUNGAN : Seorang warga Tegalwaton sedang membersihkan lumut di Mata Air Senjoyo. (Munir Abdillah/Jawa Pos Radar Semarang)
PEDULI LINGKUNGAN : Seorang warga Tegalwaton sedang membersihkan lumut di Mata Air Senjoyo. (Munir Abdillah/Jawa Pos Radar Semarang)

TENGARAN—Meski sudah pernah dibersihkan sebelumnya oleh Relawan Peduli Senjoyo, warga sekitar Mata Air Senjoyo dengan suka rela kembali membersihkan lumut dan sampah plastik yang berceceran di bak penampungan air Mata Air Senjoyo. Hal ini dilakukan, lantaran banyak wisatawan lokal yang membuang sampah sembarangan.

Selain itu, memasuki musim kemarau, debit air Senjoyo menurun drastis. Bahkan aliran Mata Air Senjoyo yang mengairi slok Isep-Isep sepanjang 3750 mulai ditutup.

Dari pantauan Jawa Pos Radar Semarang di lokasi Kamis (18/6) kemarin, sejumlah warga dengan sukarela dan senang hati, membersihkan lumut dengan pengait dari besi yang disambungkan dengan bambu. Hal ini dilakukan untuk menunggu waktu berbuka puasa.

Suhadi, 56, warga Tegalwaton mengatakan bahwa kegiatan tersebut sebagai wujud kepedulian warga sekitar terhadap kelestarian Mata Air Senjoyo. Meskipun sudah dipasang larangan membuang sampah sembarangan, tapi wisatawan lokal banyak yang tidak mengindahkan. Paling sering adalah para remaja membuang sampah sembarangan.

“Memang agak sulit mengingatkan para wisatawan lokal yang datang untuk tidak membuang sampah sembarangan. Kemungkinan selama Ramadan, Mata Air Senjoyo akan ramai oleh anak muda yang ngabuburit di Senjoyo,” ungkapnya.

Sementara itu, Edi, 34, warga Tegalwaton mengatakan bahwa pembersihan Mata Air Senjoyo banyak dilakukan oleh relawan. Mereka datang 2 minggu sekali dengan swadaya. Titik fokus mereka adalah kebersihan kolam dan sungai. Kalau pemerintah setempat seakan tutup mata.
“Padahal setiap Minggu, Senjoyo menjadi tempat wisata warga dari Kabupaten Semarang maupuan Kota Salatiga. Jika pemasukan Senjoyo hanya retribusi karcis, tentu tidak maksimal. Coba saja dari air dan infrastuktur dikelola dengan baik. Diberi kursi untuk bersantai bagi wiatawan yang membawa serta keluarganya, pasti jauh lebih ramai,” harapnya.

Sementara itu, kondisi Senjoyo sangat memprihatinkan. Akses jalan menuju kolam dari arah utara, banyak yang rusak. Pembangunan terakhir Senjoyo adalah atas bantuan Pabrik Textil Damatex. Namun beberapa talud, kini banyak yang mulai pecah. Sungai juga dipenuhi banyak sampah plastik dan daun. Yang paling disayangkan adalah batu tulis yang seharusnya menjadi cagar budaya, ditumbuhi lumut sampai ukiran batunya tidak kelihatan. Bahkan, salah satu batu tulis menjadi tempat injakan dan tempat mencuci warga. (abd/ida)