Ajak Tak Konsumsi Hiu

Must Read

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu...

LINDUNGI HIU: Campaign Director Save Sharks Indonesia, Riyanni Djangkaru memberikan paparan dalam Sarasehan bertajuk ”Semarang Sayang Hiu”, kemarin. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)
LINDUNGI HIU: Campaign Director Save Sharks Indonesia, Riyanni Djangkaru memberikan paparan dalam Sarasehan bertajuk ”Semarang Sayang Hiu”, kemarin. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Sensasi kuliner berbahan dasar ikan hiu memang tidak ada tandingannya. Saking sedapnya, olahan sirip hiu bisa dibanderol hingga ratusan ribu rupiah per porsi. Tapi siapa sangka, kuliner tersebut justru merusak ekosistem laut. Ya, ikan hiu kini tergolong langka lantaran populasinya terus menyusut karena kerap diburu.

”Penangkapan hiu ini sungguh dramatis. Di satu sisi nelayan sudah tahu jika populasinya mulai langka, tapi di sisi lain, mereka butuh uang dan harus memenuhi permintaan konsumen,” tutur Campaign Director Save Sharks Indonesia, Riyanni Djangkaru dalam Sarasehan yang bertajuk ”Semarang Sayang Hiu” di Restoran Dapur Emak, Jalan Sriwijaya 66 Semarang, Jumat (19/6).

Sore itu, Save Sharks Indonesia memaparkan tentang kondisi terkini hiu di dunia, khususnya Indonesia yang kian terancam populasinya akibat perburuan yang semakin menggila. Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) menyebutkan setidaknya 1.145.087 ton produk hiu diperdagangkan secara global setiap tahunnya meskipun hiu termasuk sebagai spesies yang populasinya terancam punah dan lambat reproduksinya.

Riyanni mengatakan, berdasarkan data FAO pada 2012, Indonesia menjadi peringkat teratas dari 20 negara penangkap hiu terbesar di dunia. ”Hal tersebut disebabkan belum adanya regulasi yang mengatur terkait penangkapan hiu. Kondisi itu diperparah dengan makin maraknya penjualan bayi hiu di supermarket-supermarket,” kata dia.

Sebagai predator teratas, hiu mengontrol populasi hewan laut dalam rantai makanan. Dikatakan Riyanni, sebenarnya hiu bukan konsumsi yang sarat gizi. Pasalnya, dari rantai makanan yang terkecil sudah mengandung air raksa karena kandungan air laut sekarang sudah terkontaminasi dengan limbah industri.

Oleh karena itu, Save Sharks Indonesia menjadikan warga yang menjadi konsumen produk perikanan sebagai sasaran. ”Bukan hanya pemerintah sebagai pembuat regulasi dan nelayan sebagai penyedia produk, kalangan konsumen juga menjadi sasaran kami karena selama ini hal tersebut menjadi sektor yang luput dari perhatian,” katanya. (amh/ric/ce1)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

- Advertisement -

Latest News

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat cerai. Hal itu disampaikan oleh...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu anak kiai, satu lagi anak...

Neo Mustaqbal

Sejarah dunia akan dibuat oleh Arab Saudi. Sejarah pertama: Aramco akan go public --dengan nilai yang belum ada duanya di dunia: Rp 28.000.000.000.000.000. Kedua: hasil IPO itu akan...

Rumah Kita

Kaget-kaget senang: Indonesia resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20. Tahun 2021. Sepak bola Indonesia diakui dunia. Prestasi Presiden Joko ”Jokowi” Widodo kelihatan nyata...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -