Koki Bubur India Generasi Keempat

567
TRADISI RAMADAN: Seorang takmir  Masji Jami’ Pekojan Semarang saat menuangkan bubur India ke mangkok plastik kemarin. (BASKORO SEPTIADI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
TRADISI RAMADAN: Seorang takmir Masji Jami’ Pekojan Semarang saat menuangkan bubur India ke mangkok plastik kemarin. (BASKORO SEPTIADI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

PURWODINATAN – Memasuki bulan Ramadan, berbagai macam takjil khas sudah pasti menjadi incaran para penikmat kuliner di Kota Semarang. Salah satunya menu takjil bubur India yang selalu disediakan di Masjid Jami’ Pekojan di Jalan Petolongan, Semarang.

Bentuknya sebenarnya tidak terlalu berbeda dengan bubur beras biasa, namun konon resep bubur India ala Masjid Jami’ Pekojan ini dibawa oleh saudagar India ke Semarang sejak puluhan tahun lalu, lantas menunya ditularkan kepada warga Pekojan, yang kebetulan saat itu tengah Ramadan.

Saat ini, ’koki’ bubur India sudah masuk generasi keempat. Salah satu juru masak bubur India, Ahmad Pasrin, menuturkan, sebenarnya pembuatan bubur India tersebut tidak terlalu rumit, hanya saja membutuhkan waktu yang lama.

”Kami mulai belanja resepnya pukul 08.00 pagi. Setelah itu pukul 12.00 siang kami mulai memasak. Yang sangat butuh kesabaran adalah proses memasaknya yang hampir 3 jam, dan harus selalu diaduk,” terangnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Soal resepnya, Pasrin menyebutkan hanya menggunakan resep rempah biasa, seperti santan kelapa, garam, bawang merah, bawang putih, jahe, serai, pandan wangi, kayu manis, dan cengkih. Ada juga daun bawang, dan wortel.

”Selain rempahnya, yang membuat rasa bubur India berbeda karena dimasak dengan api kayu bakar. Masak dengan api kayu bakar memang membuat masakan lebih sedap dibanding dengan gas,” katanya.

Tak heran, jika bubur India yang punya rasa khas ini tidak pernah sepi peminat. Masyarakat kampung Petolongan maupun para musafir yang kebetulan melintas selalu menyempatkan untuk mencicipi bubur India di Masjid Jami’.

”Sehari sekitar 16 kg bahan pokok bisa kita habiskan, dan bisa 200-an orang yang datang untuk berbuka bubur India di sini. Selain ingin merasakan bumbu khas bubur India, kebanyakan mereka ingin melestarikan tradisi ini,” ujarnya.

Bubur India sendiri biasanya dipadu dengan sayur tahu, gulai kambing, lodeh, atau sop yang disediakan oleh dermawan masjid. Selain itu disediakan air putih, teh manis dan kurma sebagai menu takjil. Bahan baku bubur sendiri mulai disediakan oleh masyarakat sekitar ataupun dermawan sejak lima hari menjelang bulan Ramadan. Tak ketinggalan kayu bakar juga mulai dikumpulkan di dapur masjid tersebut. ”Intinya kami semua berusaha menjaga tradisi bubur India yang sudah ada sejak puluhan tahun yang lalu ini,” katanya. (bas/aro/ce1)