Kalangan Pendidik Pesimistis

296

SEMARANG – Surat edaran tentang pelaksanaan sekolah lima hari di Jawa Tengah telah diperoleh beberapa sekolah. Meski begitu, banyak pihak menganggap edaran dari Gubernur Jateng Ganjar Pranowo tersebut harus dikaji ulang.

Pengamat Pendidikan, Mungin Eddy Wibowo menganggap, sekolah lima hari jika dilaksanakan tidak cocok dengan kondisi yang ada di Jateng. Hal tersebut dikarenakan etos pembelajaran di Jateng berbeda dengan daerah lain.

”Kalau di Jakarta wajar bisa. Karena banyak faktor yang memengaruhi. Ambil contoh lalu lintas. Lalu lintas yang padat membuat jam keluar siswa dari rumah menuju sekolah menjadi panjang. Jam 05.00 siswa keluar rumah menuju sekolah dan pulang dari sekolah sampai rumah pukul 19.00 karena terkena macet. Wajar jika waktu yang terbuang karena macet tersebut dimanfaatkan untuk belajar,” katanya.

Dengan alasan minimnya waktu siswa berkumpul dengan keluarga lanjutnya, membuat kebijakan sekolah lima hari jika dilangsungkan di Jakarta sangat cocok. Sehingga pada hari Sabtu dan Minggu siswa dapat berkumpul bersama keluarga di rumah.

”Berbeda halnya dengan di Jateng. Jika sekolah lima hari benar-benar dilaksanakan, yang terjadi anak kemungkinan belum siap dengan tambahan jam hingga sore hari. Belum lagi ditambah jam ekstra,” paparnya. Selain itu kesiapan dari tenaga pengajar juga belum tentu siap. Banyak komponen yang harus disiapkan. ”Sekolah lima hari itu buka hanya persoalan sekolah sampai sore saja, namun juga harus memperhatikan kondisi siswa,” lanjutnya.

Sementara itu, Kepala SMAN 1 Semarang, Kastri Wahyuni mengatakan jika surat edaran dari gubernur tersebut menjadi sebuah keharusan untuk dilakukan, pihaknya mengaku siap. Meski begitu, menurutnya, sekolah lima hari jika dicanangkan masih belum efektif.

”Sifatnya masih berbentuk edaran. Kelihatannya kurang begitu efektif. Saya hanya berdasar pada pengalaman dulu pernah sekolah sampai jam 16.00 di sekolah dan itu tidak efektif. Kalau sudah jam makan siang kondisi guru dan siswa pasti ngedrop,” katanya.

Menurut Kastri, jika sekolah lima hari benar-benar akan diterapkan, kepiawaian seorang guru dalam memberikan materi akan dipertaruhkan. Jadwal yang sekarang berlaku, lanjutnya, jika diganti dengan sekolah lima hari harus di tata ulang.

”Kalau jadwal pelajaran yang sekarang kan sampai jam ke-8, kalau masuk 5 hari maka ya akan dilebihkan jamnya dan harus sosialisasi ke semua guru. Karena guru harus mempersiapkannya semua. Artinya jasmani dan rohani harus dipikirkan betul. Termasuk hari Sabtu nanti jangan sampai terjadi miss-komunikasi,” tuturnya. (ewb/ric/ce1)