Awalnya Hanya 10 Santri, Kini Mencapai 500 Orang

415
SEMANGAT: Dua penyandang tunanetra saat belajar membaca Alquran dengan huruf braille, kemarin. (ADENNYAR WYCAKSONO/ JAWA POS RADAR SEMARANG)
SEMANGAT: Dua penyandang tunanetra saat belajar membaca Alquran dengan huruf braille, kemarin. (ADENNYAR WYCAKSONO/ JAWA POS RADAR SEMARANG)

Tadarus Alquran selama bulan suci Ramadan akan mendapatkan pahala berlipat. Hal tersebut juga dilakukan oleh Komunitas Rumah Sahabat Mata. Para penyandang tunanetra di komunitas ini tampak semangat membaca ayat-ayat suci Alquran dengan huruf braille.

ADENNYAR WYCAKSONO

LANTUNAN merdu ayat-ayat suci Alquran kemarin terdengar di sekretariat Komunitas Rumah Sahabat Mata di Perumahan Jatisari Asabri Blok D6, Mijen, Semarang. Sejumlah anggota komunitas tampak serius membaca Alquran dengan huruf braille.

Penanggung jawab dan pengelola Komunitas Sahabat Mata, Basuki, mengatakan, jika komunitas tersebut memberikan ilmu untuk membaca Alquran bagi sesama tunanetra sejak 2008 lalu. Hingga kegiatan tadarus tersebut rutin dilakukan setiap Ramadan sejak 2010.

”Dulu sempat terkendala biaya untuk membeli Alquran dengan huruf braille. Tapi Alhamdullillah sekarang bisa berjalan dengan rutin,” katanya membuka percakapan dengan Jawa Pos Radar Semarang.

Ia mengenang, pada 2008 memiliki 11 mushaf Alquran braille dengan 10 murid tunanetra. Pengelola punya koleksi Alquran braille dengan format hijaiyah braille, sehingga memudahkan penyandang tunanetra untuk belajar mengaji.

”Setiap mushaf berukuran 10 cm per juz, berisi lembaran kertas putih berhuruf braille dengan berat sekitar 100 kilogram jika terkumpul 30 juz,” jelasnya.

Ia mengenang, dahalu Basuki sempat ditentang kawan-kawannya lantaran mengajar membaca Alquran dengan huruf braille. Kawan-kawannya mencibir jika Basuki melawan kodratnya sebagai penyandang tunanetra, hal ini karena penyandang tunanetra hanya memiliki kemahiran dalam memijat.

”Dulu sempat diprotes teman-teman, karena dianggap melenceng dari kodratnya. Kini setelah saya memberikan pemahaman dan pendekatan, banyak teman-teman yang dulu mencibir kini malah memiliki niat untuk belajar bersama,” kenangnya.

Saat ini, Basuki bersama rekannya Shofyan mengajar para penyandang tunanetra dalam pesantren Ramadan yang rutin digelar setiap tahunnya. Tercatat ada sekitar 50-an santri tunanetra yang ikut belajar mengaji Alquran braille, yang berasal dari berbagai daerah di Jateng dan beberapa kota lainnya. ”Tidak hanya Semarang, banyak juga yang datang dari Jepara, Kudus, Wonosobo, Bandung, Jakarta bahkan hingga Jawa Timur,” ujarnya.

Kendala yang dihadapi saat ini adalah mahalnya harga satu juz Alquran braille bernilai sekitar Rp 1,8 juta belum termasuk ongkos kirimnya. Selain itu, kendala lain yakni minimnya para pengajar.

”Dulu cuma 10 santri, lalu meningkat menjadi 20 santri, dan sekarang lebih dari 500 kawan tunanetra yang ingin belajar membaca Alquran braille. Kami selalu membuka pesantren setiap Ramadannya, jadi silakan saja teman-teman datang ke sini untuk belajar mengaji,” tuturnya.

Selain membaca Alquran, komunitas tersebut juga memberikan pengalaman di dunia broadcasting berupa siaran radio dengan nama Sama FM atau singkatan dari Sahabat Mata. Tercatat ada 18 tunanetra yang terdiri atas dua kelas yang mengikuti pelatihan menjadi penyiar radio komunitas tersebut. Jam pelatihan siang hingga mendekati berbuka puasa, dengan menempati studio berukuran relatif kecil, yakni 4 x 5 meter.

”Selain membaca Alquran, komunitas ini juga memberikan pelatihan broadcasting bagi tunanetra sejak 2010 lalu. Pada 2014 lalu, kami juga memberikan pelatihan bagi siswa SMP dan SMA di lingkungan sini,” ujarnya.

Menurut Basuki, meski memiliki keterbatasan, penguasaan teknologi sangat penting bagi para penyandang tunanetra. Kendala dalam melihat, kata dia, tidak jadi hambatan. Karena ia dan kawan-kawannya dianugerahi tangan yang sangat terampil memainkan instrumen yang ada. (*/aro/ce1)