Nasabah Curiga, Uang Ludes untuk Main Valas

349

BARUSARI – Kasus yang melilit sejumlah nasabah umrah PT Divan Global Indonesia (DGI), perusahaan travel perjalanan umrah yang berkantor di Jalan Soekarno-Hatta No 176 C Semarang, belum menuai titik temu.

Para nasabah yang saat ini merasa tertipu oleh perusahaan jasa travel perjalanan umrah tersebut menduga bahwa uang milik para nasabah umrah ludes digunakan untuk bermain valas Liberty Amerika.

Selain itu, diduga pengelola PT DGI juga ”memutarkan” atau mencuci uang dana yang terkumpul untuk bisnis penjualan alat kesehatan, mata uang asing, koperasi dan bisnis properti yakni membangun vila di Bali. ”Kami curiga, uang nasabah ludes untuk main valas. Pengelola PT DGI ikut di Liberty Amerika. Dalam bidang properti, mereka diduga juga membangun vila di Bali,” kata salah satu nasabah, Fikri Hidayat, kepada Jawa Pos Radar Semarang, Senin (22/6).

Fikri mengaku memang menandatangani surat perjanjian tertulis antara kedua belah pihak, yakni pihak nasabah dan pihak PT DGI. Para nasabah memang mengetahui kalau dalam perjanjian tersebut memuat bahwa uang milik nasabah akan digunakan untuk sejumlah bisnis. Namun nasabah saat itu tertarik untuk mengikuti program umrah di PT Divan karena biayanya murah dengan fasilitas menggiurkan. ”Soal uang itu digunakan oleh perusahaan untuk bisnis apa, kami saat itu tidak mengetahui secara detail. Tahunya kami percaya kepada perusahaan tersebut dan bisa berangkat menunaikan ibadah umrah,” imbuhnya.

Mereka saat itu menjelaskan secara meyakinkan dan menjamin para nasabah. Hanya ada dua kemungkinan, yakni berangkat umrah dan kemungkinan terburuk adalah uang dikembalikan. Hal itu tercantum dalam surat perjanjian yang ditandatangani oleh kedua belah pihak. ”Makanya kami percaya dan mendaftar dengan biaya yang telah disepakati. Tapi ternyata sekarang diingkari,” imbuhnya.

Lebih lanjut, berdasarkan perjanjian, para nasabah dijanjikan dalam rentang waktu 18 bulan masa tunggu. Selama 18 bulan tersebut, uang milik para nasabah digunakan mengelola berbagai macam bisnis. Setelah itu, nasabah umrah baru diberangkatkan ke tanah suci.

Hingga kemarin, Direktur Utama PT Divan Global Indonesia HM Sigit Wibowo SE belum berhasil dikonfirmasi. Nomor handphone milik Sigit tidak aktif. Para nasabah menduga Sigit kabur. Hal itu diperkuat bahwa kantor PT Divan Global Indonesia yang terletak di Jalan Soekarno-Hatta No 176 C Semarang telah tutup dan tidak ada aktivitas sejak kurang lebih 5-6 bulan lalu.

Selain 30 nasabah umrah yang merasa tertipu, diduga ada ribuan nasabah lain mengalami masalah serupa. Salah satu lembaga advokat dan konsultan hukum yang berkantor bersebelahan dengan kantor PT DGI mengaku sempat mendampingi kasus perusahaan itu. Disebut sedikitnya ada 1.200 orang nasabah yang bernasib serupa. (amu/zal/ce1)