Pendaftar SMPN 40 Membeludak

1629
VERIFIKASI PENDAFTARAN: Proses verifikasi calon peserta didik di SMP Negeri 1 Semarang kemarin. Sekolah ini memiliki daya tampung 288 siswa. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
VERIFIKASI PENDAFTARAN: Proses verifikasi calon peserta didik di SMP Negeri 1 Semarang kemarin. Sekolah ini memiliki daya tampung 288 siswa. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Hari kedua pelaksanaan Penerimaan Peserta Didik (PPD) online SMP Negeri di Kota Semarang, para calon peserta didik masih cenderung melakukan pantauan. Mereka telah melakukan pendaftaran lewat online, namun belum melakukan verifikasi. Hingga pukul 22.00 tadi malam, tercatat SMP Negeri 40 yang paling banyak peminatnya. Sekolah dengan daya tampung 256 siswa ini, telah dibanjiri pendaftar hingga 914 calon peserta didik. Namun dari jumlah itu, baru separo yang melakukan verifikasi, yakni sebanyak 486 calon peserta didik atau hampir dua kali lipat dari daya tampung.

Sedangkan SMPN yang paling sedikit pendaftar adalah SMPN 8 sebanyak 344 calon peserta didik dari daya tampung 223 siswa. Dari jumlah itu, yang telah melakukan verifikasi sebanyak 186 calon peserta didik.

Untuk PPD SMPN favorit cenderung masih sepi pendaftar. Di SMPN 2 Semarang, hingga pukul 22.00 tadi malam tercatat baru 393 pendaftar. Rinciannya, pendaftar dalam rayon sebanyak 208, luar rayon 157, dan luar kota 28. Dari jumlah itu yang sudah verifikasi sebanyak 123 calon peserta didik, atau masih jauh dari daya tampung sekolah ini 288 siswa.

Menurut Kepala SMPN 2 Semarang, Teguh Waluyo, sepinya pendaftar dikarenakan banyak faktor. ”Pantauan kami sampai jam 10.00 dari pendaftar online sebanyak 316 yang melaksanakan verifikasi baru 17 siswa, sehingga masih banyak yang belum melaksanakan verifikasi. Mungkin ada beberapa hal, misalnya siswa maupun orang tua menunggu perkembangan selama satu ataupun dua hari ke depan,” ujar Teguh kepada Jawa Pos Radar Semarang, Senin (22/6).

Selain itu, lanjutnya, faktor lain yang membuat sepi peminat dikarenakan ada kemungkinan calon peserta didik yang telah mendaftar online memiliki nilai yang sedikit rendah. Sehingga mereka (calon peserta didik) lebih baik melakukan pemantauan terlebih dahulu.

”Kami juga memberikan informasi yang cukup jelas, termasuk yang berhubungan dengan nilai tambah untuk yang miskin termasuk untuk yang piagam, alurnya bersama dengan legalisasi piagam yang sedemikian ketat kita cantumkan di situ. Sehingga bisa jadi ada hal lain, kenapa sepi karena proses legalisasi piagamnya belum selesai,” katanya.

Pelaksanaan verifikasi pendaftaran PPD tingkat SMP dibuka sampai 26 Juni. Dijelaskan Teguh, untuk kuota SMPN 2 pada tahun ini sebanyak 288 siswa yang akan dibagi ke dalam 9 kelas (rombel).

”Kita tetap optimistis kuota tersebut tetap terpenuhi. Berdasarkan pengalaman tahun kemarin, kuota peserta didik selalu terpenuhi, karena pendaftarnya lebih banyak dari yang kita terima,” ujarnya.

Sepinya pendaftar yang melakukan verifikasi juga dialami sekolah lain. Hasil penelusuran koran ini, melalui website PPD online di sejumlah sekolah favorit terpantau masih sedikit yang melakukan verifikasi.

Di SMPN 3 Semarang misalnya, hingga pukul 22.00 tadi malam, yang mendaftar online sudah 409 pendaftar, namun yang melakukan verifikasi baru 150 calon peserta didik. Sementara di SMPN 5 yang melakukan verifikasi baru 149, padahal pendaftar online sudah mencapai 395 calon peserta didik. Pun di SMPN 9, baru 204 pendaftar yang melakukan verifikasi dari 581 yang sudah mendaftar.

Sementara itu, SMP Negeri di Kota Semarang tetap menyediakan operator untuk melayani para pendaftar yang datang ke sekolah pilihan pertama, dan belum melakukan pendaftaran secara online terlebih dahulu. Hal itu lebih mirip dengan pendaftran di jenjang SD, di mana calon peserta didik diwajibkan untuk datang ke sekolah, yang kemudian dilayani oleh operator yang telah disediakan oleh pihak sekolah.

”Tetap kami sediakan, karena memang tidak semua orang yang datang ke sini sudah mendaftar online. Oleh karena itu, setiap calon peserta didik yang datang ke SMPN kami tanyai lebih dahulu,” papar Kepala SMPN 27, Eko Suwanto.

Sekolah yang terletak di Jalan Ngesrep Timur itu juga melibatkan siswa untuk menyambut tamu PPD di sekolah tersebut. Ada empat siswi di depan pintu masuk yang akan menyapa dengan ramah dan menanyai apakah sudah mendaftar online atau belum.

Sekilas memang para siswa-siswi tersebut seperti among tamu bagi para calon peserta didik baru. Setelah bertanya mereka akan mengantar tamu ke ruangan yang ditujukan.

”Misalnya belum daftar online ya kami antar ke ruang pendaftaran online dahulu, yang sudah langsung kami antar ke ruang verifikasi pendaftaran, yang ingin melakukan tes piagam ya diantarkan ke ruang tes piagam,” jelasnya.

Dari pantauan hingga siang pukul 12.00, sudah lebih dari 150 dokumen calon peserta didik di sekolah itu bisa diverifikasi. Mereka bahkan membagi tim verifikator menjadi dua bagian pemeriksa dokumen empat loket dan bagian input dokumen ke laman PPD juga empat loket. ”Kami memang mencoba menyinergikan seluruh sumber daya yang ada di sekolah mulai dari guru, penjaga sekolah, hingga siswa,” tuturnya.

Ia mengakui, tidak banyak calon peserta didik yang datang ke sekolah namun belum mendaftar secara online. Hanya 20 hingga 25 orang saja yang belum melakukan pendaftaran online.

Salah satu wali siswa yang belum mendaftar online, Amir Mahfud, mengaku, cukup terbantu dengan adanya operator yang melayani pendaftaran di lokasi. Pria yang mengantar adiknya itu tidak perlu repot ke warnet untuk mendaftar. ”Jadi tadi hanya disuruh menulis pendaftaran di lembar kertas yang disiapkan sekolah, setelah itu lembarannya dibawa ke operatornya kemudian suruh verifikasi, simpel,” kata Amir. (ewb/aro/ce1)