Anak ’Diculik’, Balon Wawali Nyaris Diperas

264

BARUSARI – Seorang bakal calon (balon) Wakil Wali Kota Semarang yang mendaftar melalui PDIP Kota Semarang, Purnomo Ari Wibowo, 48, warga Banteng Raya, Pandean Lamper, Gayamsari, Semarang, nyaris menjadi korban pemerasan. Anaknya, Fathur Maulana, 17, siswa SMA Negeri 2 Semarang, diancam akan dibunuh oleh seorang pria yang menghubungi telepon genggamnya.

Si penelepon misterius tersebut mengatakan kalau Farhur telah diculik dan meminta tebusan Rp 70 juta. Jika tidak diberikan, Fathur akan dibunuh. Tentu saja, hal itu membuat Purnomo gemetar. Pasalnya, anaknya tidak pulang dan nomor handphone pribadinya tidak bisa dihubungi sejak Senin (22/6) malam lalu. Telepon misterius itu terjadi pada Selasa (23/6) pukul 10.00 kemarin. Saat itu, di dalam telepon terdengar suara mirip anaknya dengan memanggil ”Abi” sama dengan panggilan dirinya.

”Pelaku telah memberikan nomor rekening. Saya diminta mentransfer uang Rp 70 juta,” kata Purnomo saat memberikan keterangan kepada petugas di Mapolrestabes Semarang, Selasa (23/6).

Purnomo yang panik dengan ancaman itu bermaksud mentransfer uang kepada pelaku. Namun sebelumnya, ia menuju ke kawasan BSB Mijen, Semarang untuk bertemu rekannya hendak konsultasi. Nah, saat di perjalanan, secara kebetulan dia berpapasan dengan mobil Toyota Avanza bernopol H-8686-LH yang dibawa oleh anaknya. Mobil tersebut melaju ke arah Kota Semarang.

Purnomo dibantu rekannya segera menelepon polisi lalu lintas untuk menghentikannya. Akhirnya, aparat Satlantas Polrestabes Semarang berhasil mengejar mobil tersebut, dan dihentikan di daerah Taman KB Semarang. Saat itulah Purnomo kaget. Sebab, Fathur, anaknya, ditemukan dalam kondisi tidak terjadi apa-apa. ”Fathur justru tidak mengetahui apa yang sedang terjadi,” ujarnya.

Oleh polisi, Purnomo dan anaknya dibawa ke Mapolrestabes Semarang untuk dimintai keterangan terkait ancaman dan percobaan pemerasan yang menimpanya tersebut. ”Anak saya memang tidak bisa dihubungi sejak Senin (22/6) malam. Dia pergi dan pamit ada acara dengan teman-temannya selepas salat Tarawih,” katanya.

Beruntung, Purnomo belum mentransfer uang Rp 70 juta seperti yang diminta oleh pelaku. Hingga kemarin, kasus penipuan tersebut masih dalam penyelidikan aparat Reskrim Polrestabes Semarang.

Menurut Purnomo, kasus ini murni percobaan penipuan yang dilakukan oleh pelaku kriminal. Ia juga menerangkan bahwa kasus ini tidak ada kaitannya dengan keputusannya mendaftarkan diri sebagai balon Wawali Kota Semarang. ”Pelaku asal mengancam saja. Ini tidak ada kaitan (terkait pencalonan sebagai wawali, Red) sama sekali,” tandasnya.

Namun demikian, kejadian ini sempat membuatnya ketakutan. Sebab, anak tercintanya diancam akan dibunuh. ”Nomor telepon anak saya juga tidak aktif. Belakangan baru saya ketahui bahwa baterai HP miliknya habis,” katanya.

Kanit Pengaturan Penjagaan Pengawalan dan Patroli (Turjawali) Satlantas Polrestabes Semarang, AKP Supriyanto, mengatakan, pihaknya mengerahkan anggota untuk mencegat mobil tersebut saat melintas di Simpang Lima dan digiring ke Taman KB untuk diberhentikan. ”Anaknya tidak apa-apa. Malah tidak tahu kalau ada orang yang mengancam,” jelasnya. (amu/aro/ce1)